kepripedia
Home / Sosial Budaya / 3 Pendekar Pantun Luncurkan Buku KERONGSANG

3 Pendekar Pantun Luncurkan Buku KERONGSANG

Peluncuran buku KERONGSANG-500 Pantun Warisan secara Online oleh ketiga penulis. (kiri ke kanan) Yoan S Nugraha, Barozi Alaika, Rendra Setyadiharja. Foto: dok-Istimewa.

Tiga orang pemantun Kepulauan Riau kembali menambah kekayaan literasi kesusastraan dan tradisi yang ada di Kepri dengan meluncurkan buku ‘Kerongsang – 500 Pantun Warisan’, yang dilangsungkan secara virtual melalui kanal Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 Tanjungpinang, Selasa (6/7).

Para penulis Kerongsang antara lain, Rendra Setyadiharja, Yoan S Nugraha dan Barozi Alaika selain merupakan pemantun yang eksis di Kepulauan Riau, juga aktif sebagai penggiat budaya dan tradisi melayu.

Berbeda dari pantun biasanya, 500 pantun yang tertuang pada buku Kerongsang merupakan pantun-pantun simbolik yang memiliki makna ganda, baik pada sampiran atau pembayang maupun pada isi pantun.

Buku Kerongsang yang saat ini sudah beredar luas di ragam situs belanja online.

Kata Kerongsang sendiri, jika merujuk pada KBBI mengandung arti sebagai perhiasan yang disematkan pada dada maupun kepala (bros red). Berharap, 500 pantun simbolik mampu menjadi perhiasan dalam bahasa tutur orang melayu.

ads

Pernyataan tersebut dibenarkan langsung oleh Rendra yang menjelaskan bahwa, pantun sejatinya adalah bahasa kias tinggi yang mengandung makna.

“Selama ini kita populer dengan pantun kalau ada sumur di ladang, atau pantun pisang emas bawa berlayar. Nah, pantun-pantun itu adalah pantun simbolik yang memiliki makna tidak hanya pada isi pantun, namun juga bisa dicerna pada baris pembayang, atau sampiran,” jelasnya.

Senada disampaikan oleh Yoan S Nugraha, bahwa tujuan penulisan pantun pada buku Kerongsang, selain untuk melestarikan tradisi tutur juga bertujuan untuk mendudukkan kembali martabat pantun pada tempatnya.

“Kita sadari bahwa pantun cukup familiar di setiap kalangan dan golongan, tidak hanya di Kepulauan Riau, namun juga di Indonesia. Bahkan pantun belakangan ini juga ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Namun tidak sedikit yang lupa untuk memartabatkan pantun pada tempatnya, khususnya dalam implementasi merangkai pantun khususnya di baris pembayang. Kerongsang adalah upaya kami untuk kembali memartabatkan pantun,” ujar Yoan yang juga sebagai Pemimpin Redaksi media kepripedia.com ini.

ads

Selain sebagai pemantun, dan budayawan, ketiga penulis buku Kerongsang ini juga merupakan pemegang rekor dunia untuk kategori pantun. Rendra misalnya, peraih rekor MURI berpantun selama 6 jam. Sementara Barozi, adalah peraih rekor MURI berpantun selama 10 jam, 10 menit, dan 10 detik. Sementara Yoan adalah pemegang rekor MURI untuk penulisan pantun dengan sampiran sama terbanyak pada buku kumpulan pantun Negeri Pantun yang diterbitkannya.

Respon positif juga datang dari para budayawan yang lebih dahulu tunak berkarya, seperti Dato’ Sri Lela Budaya Rida K Liamsi, Assoc. Prof. Dato’ Perdana Dr. Drs. Abdul Malik, M.Pd, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim, Asisten I Pemko Tanjungpinang yang merupakan spesialis pemuantun nikah, Tamrin Dahlan, hingga kepada pemantun serumpun dari Kalimantan Barat, Agus Muara.

Kutipan Pantun KERONGSANG:

(Rendra)
Jangan disangka si buah manis
Rupa berulat di dalam isi
Jangan disangka bermuka manis
Rupa mengumpat di dalam hati

(Yoan)
Harap merpati lepas terbang
Dijerat budak sewaktu pagi
Harap menampi beras sedulang
Rupanya dedak kusangka padi

(Barozi)
Kirakan rambai jatuh diranggah
Rupanya surau dilempar batu
Kirakan melambai mengajak singgah
Rupanya menghalau menutup pintu

Saat ini, buku Kerongsang yang diterbitkan oleh Jejak Publisher sudah beredar luas di ragam situs belanja online, seperti Shopee, BukaLapak, maupun Tokopedia.



Penulis: Tim

Editor: Redaksi

BERI KOMENTAR