Flashback Bandara RHF Tanjungpinang: Pernah Terbaik Nasional, Kini Ditinggal Garuda

Tanjungpinang – Langit di atas Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF), Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terasa berbeda pada Senin, 9 Februari 2026. Hari itu menjadi penanda babak baru—sekaligus pahit—dalam sejarah bandara kebanggaan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Garuda Indonesia resmi menghentikan sementara seluruh jadwal penerbangannya ke Bandara RHF.

Keputusan maskapai pelat merah itu tetap bergulir meski telah memantik berbagai respons, mulai dari Gubernur Kepulauan Riau, Wakil Gubernur hingga Wali Kota Tanjungpinang, yang berharap penerbangan tetap dipertahankan. Namun Garuda tetap keukeuh.

ADVERTISEMENT

Di balik kabar penghentian penerbangan itu, terselip ironi sejarah yang begitu kuat. Bandara RHF punya masa lalu gemilang—dan nama Lis Darmansyah, Wali Kota Tanjungpinang saat ini, terpatri kuat di dalamnya.

Malam Penghargaan, Januari 2015

Waktu berputar ke Januari 2015. Di sebuah malam anugerah bergengsi di Hotel Borobudur, Jakarta, Bandara RHF mencatatkan prestasi nasional.

Bandara ini dinobatkan sebagai Bandara Terbaik Indonesia untuk kategori bandara dengan jumlah penumpang di bawah satu juta orang dalam ajang Bandara Award yang diselenggarakan oleh Majalah Bandara media rujukan utama Angkasa Pura, Kementerian Perhubungan, hingga pelaku industri penerbangan dimasanya.

Saat itu, Lis Darmansyah menjabat sebagai Wali Kota Tanjungpinang. Ia tak hanya naik ke panggung sebagai kepala daerah, tetapi juga menerima penghargaan khusus sebagai kepala daerah yang mendukung penuh pembangunan Bandara RHF.

Dalam sambutannya di hadapan para pengelola bandara se-Nusantara, Lis menyampaikan kalimat yang hingga kini masih kerap diingat:

“Obsesi saya, jangan lagi masyarakat tahu bandara cuma ada di Batam.”

ADVERTISEMENT

Kalimat itu menjadi simbol tekad Tanjungpinang untuk berdiri sejajar sebagai gerbang udara Kepulauan Riau.

Investasi Besar, Harapan Tinggi

Pada masa itu, Pemerintah Kota Tanjungpinang menggelontorkan lebih dari Rp150 miliar APBD, terutama untuk pembebasan lahan Bandara RHF. Investasi besar tersebut menjadi fondasi pengembangan bandara, sekaligus wujud komitmen politik dan pembangunan jangka panjang.

ADVERTISEMENT

Bandara RHF pun sempat menjadi simbol kebangkitan konektivitas Tanjungpinang—akses udara yang tidak lagi bergantung pada Batam.

Kini, Sunyi di Landasan

Sebelas tahun berselang, situasi berbalik drastis. Sepinya penumpang dan minimnya jadwal penerbangan membuat Bandara RHF kembali berada di persimpangan jalan. Dengan penghentian penerbangan Garuda Indonesia, nyaris tak ada aktivitas komersial berarti jika tidak ada pengganti jadwal baru.

ADVERTISEMENT

Dan sejarah seolah berputar penuh: Lis Darmansyah kembali memimpin Kota Tanjungpinang di tengah krisis ini.

Lis pertama kali menjabat sebagai wali kota pada periode 2013–2018. Ia sempat gagal terpilih untuk melanjutkan kepemimpinan pada periode 2018–2023, sebelum akhirnya kembali terpilih dalam Pilkada Serentak 2024, berpasangan dengan Raja Ariza, untuk memimpin Tanjungpinang periode 2025–2030.

Kini, di periode keduanya, Lis kembali dihadapkan pada persoalan besar menyelamatkan bandara yang dulu ia banggakan di panggung nasional.

Bandara RHF, yang pernah berdiri sebagai simbol mimpi besar Tanjungpinang, kini menunggu: apakah akan kembali terbang tinggi, atau terus terjebak dalam sunyi landasan.


Penulis: | Editor: Nurjali


Share This Article