SMAN 1 Mantang Hadirkan Smantang Eco Briket (SEB), Inovasi Energi Terbarukan dari Limbah Pesisir

Bintan, Kepulauan Riau — SMA Negeri 1 Mantang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, terus menunjukkan komitmennya sebagai sekolah yang berkarakter, maju, dan berbudaya lingkungan melalui inovasi Smantang Eco Briket (SEB). Inovasi ini merupakan program pengolahan limbah pesisir menjadi briket ramah lingkungan sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat wilayah kemaritiman.

Smantang Eco Briket lahir dari kepedulian warga sekolah terhadap persoalan limbah industri kapal pompong di Kecamatan Mantang. Aktivitas pembuatan dan perbaikan kapal tradisional menghasilkan limbah berupa sekam kayu dan serbuk gergaji yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Jika dibiarkan menumpuk atau dibakar terbuka, limbah tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, polusi udara, serta risiko kebakaran.

ADVERTISEMENT

Melalui inovasi SEB, limbah tersebut diolah menjadi briket energi terbarukan melalui proses karbonisasi sederhana tanpa bahan kimia berbahaya. Hasilnya berupa briket yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar, khususnya bagi rumah tangga pesisir dan pelaku UMKM lokal. Briket ini dirancang memiliki karakter ramah lingkungan, minim asap, panas stabil, serta waktu bakar yang lebih lama dibandingkan kayu bakar konvensional.

Kepala SMA Negeri 1 Mantang, Iwan Muttaqin, S.T., M.Pd., menyampaikan bahwa inovasi SEB tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi pembelajaran di sekolah.

“SMAN 1 Mantang ingin hadir sebagai laboratorium solusi bagi lingkungan sekitar. Melalui Smantang Eco Briket, murid tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung dalam memecahkan persoalan nyata di wilayah pesisir. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk energi alternatif yang bermanfaat,” ujarnya.

Inovasi SEB juga diintegrasikan dalam pembelajaran lintas mata pelajaran, khususnya Fisika, Kimia, dan Ekonomi. Dalam Fisika, murid mempelajari konsep kalor, energi, suhu, dan efisiensi pembakaran. Dalam Kimia, murid mengenal proses karbonisasi dan perubahan material organik menjadi arang. Sementara itu, pada mata pelajaran Ekonomi, murid belajar mengenai nilai tambah produk, kewirausahaan, pengemasan, dan peluang usaha berbasis potensi lokal.

Pendekatan ini sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam, karena murid mengalami langsung proses identifikasi masalah, perancangan solusi, produksi, uji coba, evaluasi, hingga refleksi. Dengan demikian, SEB tidak hanya menjadi inovasi lingkungan, tetapi juga media pembelajaran kontekstual yang menumbuhkan literasi energi, keterampilan vokasional, kepedulian ekologis, kolaborasi, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan.

Dari sisi lingkungan, Smantang Eco Briket mendukung pengurangan limbah industri kapal pompong dan mendorong praktik ekonomi sirkular di wilayah pesisir. Limbah yang semula menjadi beban lingkungan diubah menjadi produk bernilai guna. Program ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kayu bakar konvensional, sehingga turut mendukung pelestarian hutan lokal dan ekosistem mangrove.

Dari sisi ekonomi, SEB membuka peluang pengembangan produk energi alternatif yang terjangkau bagi masyarakat. Briket yang dihasilkan berpotensi dimanfaatkan oleh rumah tangga nelayan, pelaku usaha kuliner, serta UMKM lokal yang membutuhkan bahan bakar hemat dan mudah diperoleh. Sekolah juga melihat peluang pengembangan unit produksi berbasis edukasi sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan bagi murid.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, dari sisi pendidikan, SEB menjadi bukti bahwa sekolah dapat berperan sebagai pusat inovasi berbasis kearifan lokal. Murid dilatih untuk melihat persoalan lingkungan sebagai peluang pembelajaran dan pengembangan solusi. Hal ini menjadi penting dalam membentuk generasi muda pesisir yang adaptif, kreatif, peduli lingkungan, dan memiliki keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Inovasi Smantang Eco Briket juga telah diperkuat melalui dukungan kelembagaan, termasuk penetapan tim pelaksana, jejaring inovasi, kemitraan, serta aktor inovasi. Dukungan tersebut menjadi landasan penting agar SEB dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan, terdokumentasi, dan berpeluang direplikasi di satuan pendidikan lain, khususnya sekolah-sekolah yang berada di wilayah pesisir Kepulauan Riau.

Ke depan, SMA Negeri 1 Mantang menargetkan penguatan standardisasi produk, pengembangan kemasan, perluasan kemitraan, serta peningkatan kapasitas produksi. Sekolah juga mendorong agar inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain dalam mengembangkan pembelajaran berbasis masalah nyata, kearifan lokal, dan keberlanjutan lingkungan.

ADVERTISEMENT

Melalui Smantang Eco Briket, SMA Negeri 1 Mantang membuktikan bahwa inovasi pendidikan dapat dimulai dari persoalan sederhana di sekitar sekolah. Dari limbah pesisir, lahir energi terbarukan. Dari ruang kelas, tumbuh solusi nyata untuk masyarakat.  (Humas SMAN1 Mantang)


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article
advertisement