KARIMUN – Jumat pagi itu, suasana di kediaman Bapak Mirul, Kecamatan Karimun, terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena terik matahari, melainkan karena kehadiran sejumlah personel Polres Karimun yang datang dengan membawa bingkisan. Bukan sekadar kunjungan biasa, ini adalah bagian dari kegiatan rutin mereka yang disebut “Jum’at Berkah”.
Tepat pukul 10.00 WIB, rombongan polisi yang dipimpin oleh PENDA Andri Kusuma, S.H., bersama empat rekannya—AIPDA Gatot Bawono, AIPDA Syabri Yunas, AIPDA Tumpal H. Simamora, dan BRIPDA Feri Saputra—tiba di lokasi. Mereka tak datang dengan raut tegang, melainkan dengan senyum dan sapaan ramah kepada warga sekitar. Satu per satu, bantuan tali asih diserahkan langsung kepada mereka yang membutuhkan.
“Ini bentuk kehadiran kami. Polri tidak hanya soal hukum, tapi juga soal berbagi,” ujar PENDA Andri Kusuma di sela-sela kegiatan.
Namun, lebih dari sekadar bingkisan materi, kegiatan ini menyimpan pesan besar. Bagi Polres Karimun, Jumat Berkah adalah momen untuk mendekatkan diri dengan warga. Personel dan masyarakat duduk bersama, berbincang santai, seolah tak ada sekat antara aparat dan yang dilindungi. Suasana akrab itu menjadi perekat silaturahmi yang selama ini terus mereka jaga.
Baca Juga
“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa polisi adalah sahabat. Dengan kebersamaan ini, semoga rasa saling percaya dan toleransi di antara kita semakin kuat,” tambahnya.
Di balik kehangatan itu, ada tujuan lain yang tak kalah penting. Polres Karimun meyakini bahwa kedekatan dengan warga adalah kunci utama menjaga keamanan dan ketertiban. Ketika masyarakat merasa diperhatikan, maka lingkungan pun akan lebih damai dan kondusif. Sebab, kata mereka, keamanan bukan hanya tugas polisi, tapi hasil dari kerja sama semua pihak.
Menjelang akhir kegiatan, Polres Karimun menyampaikan imbauan yang sederhana namun bermakna: “Jaga kerukunan, saling bantu, dan rawat lingkungan kita bersama. Karena dari sinilah, dari kepedulian kecil, lahir suasana yang harmonis dan sejuk.”
Tak ada pidato panjang, tak ada gegap gempita. Hanya ada senyum, jabat tangan, dan berkat yang dibagi pada Jumat pagi itu. Sebuah pengingat bahwa di balik seragam cokelat, ada hati yang peduli. (Defran)
