Pawai Pembangunan Batam 2026: Amsakar Achmad Berpakaian Melayu, Li Claudia Chandra Busana Kalbar, 10.000 Peserta Meriahkan HUT ke-81 RI

BATAM – Wali Kota Batam Amsakar Achmad tampil dengan pakaian adat Melayu, sementara Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra mengenakan busana khas Kalimantan Barat dalam Pawai Pembangunan Batam, Minggu (9/8/2026).

Keduanya berdiri berdampingan di tengah iring-iringan peserta yang memadati kawasan Engku Hamidah, Batam Centre.

ADVERTISEMENT

Pemandangan itu menjadi gambaran sederhana tentang Batam. Kota ini dihuni oleh masyarakat dari berbagai daerah yang membawa budaya masing-masing, lalu bertemu dan tumbuh dalam ruang yang sama.

Dalam rangkaian acara itu, Amsakar dan Li Claudia membagikan bendera Merah Putih kepada perwakilan camat dan paguyuban masyarakat. Pembagian tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih. Bendera itu selanjutnya dibawa ke lingkungan masyarakat untuk dikibarkan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah pembagian bendera, kedua pemimpin kota itu turut melepas iring-iringan pawai bersama jajaran Forkopimda dan perangkat daerah Pemko Batam. Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batam, Hj. Erlita Amsakar, juga hadir dan ikut melambaikan tangan kepada para peserta.

Sejak pagi, kawasan sekitar Engku Hamidah dipadati warga. Anak-anak hingga orang dewasa berdiri di sepanjang jalan menyaksikan iring-iringan peserta. Senyum dan lambaian tangan dari pejabat dan tamu undangan dibalas peserta. Warga mengabadikan momen dengan telepon genggam, sementara anak-anak tampak antusias menyaksikan rombongan kesenian dan kendaraan hias.

Musik tradisional berpadu dengan suara marching band. Busana adat, tarian, kendaraan hias, dan berbagai kesenian daerah silih berganti menyita perhatian.

49 Kelompok Ikut Pawai Pembangunan

Pawai Pembangunan diikuti 49 kelompok dari unsur pemerintah, TNI-Polri, dan swasta. Sementara itu, Pawai Budaya Nusantara melibatkan sekitar 10.000 peserta dari berbagai paguyuban masyarakat di Batam.

ADVERTISEMENT

Peserta datang membawa identitas daerah masing-masing. Bengkulu, Jawa Timur, Lampung, Yogyakarta, Bali, Kalimantan, Maluku, Jambi, hingga berbagai daerah di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi tampil dengan ciri khasnya.

Paguyuban masyarakat Tionghoa, seperti Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan Perkumpulan Teochew, turut menjadi bagian dari perayaan. Suasana semakin meriah dengan penampilan marching band dan Bahana Barelang Drum Corps (BBDC) binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam.

Setiap rombongan membawa cerita sendiri. Ada yang menampilkan ikon Kota Batam, ornamen budaya, hingga properti yang menggambarkan identitas daerah dan paguyuban masing-masing. Di tengah perbedaan itu, tak ada jarak yang terlihat. Semua berjalan dalam satu barisan, menyusuri jalan yang sama dan merayakan kemerdekaan bersama.

ADVERTISEMENT

Semangat kebersamaan itu menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Hari itu, Batam tidak sekadar menggelar pawai.

Kota ini memperlihatkan wajahnya sebagai ruang tempat berbagai budaya Indonesia bertemu, berdampingan, dan merayakan kemerdekaan dalam satu kebersamaan.


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article