Menu

Mode Gelap

Warta · 26 Mei 2023 21:24 WIB

Alam Tak ‘Kuasa’ Urai Limbah Plastik


					Ilustrasi persoalan sampah yang dihadapi Indonesia. Foto: Shutterstock Perbesar

Ilustrasi persoalan sampah yang dihadapi Indonesia. Foto: Shutterstock

Pertengahan Desember 2022 lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karimun merilis volume sampah dalam sehari mencapai 54 ton. Sampah limbah rumah tangga berbahan plastik adalah yang paling mendominasi.

Secara global data Jambeck et al tahun 2015, bahkan menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara kedua penghasil sampah plastik di laut sebesar 1,29 Juta ton per tahun.

ADVERTISEMENT

Karimun sebagai wilayah Kepulauan dengan luas lautan 6.460 km² yang mendominasi. Tentu saja hal ini bisa menjadi masalah berantai yang akan terus dirasakan generasi muda di masa mendatang.

Maka, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, ikhtiar masyarakat juga sangat diperlukan untuk mengatasi limbah-limbah tersebut. Sebab, sampah plastik akan sulit diurai jika hanya dengan mengandalkan ‘kuasa alam’.

164bf599aaafb7c91d873d363c5a8533

Limbah botol plastik yang akan diolah menjadi bahan baku pembuatan paving blok. Foto: Kepripedia.com

Alam akan sangat sulit mengurai keberadaan sampah plastik, proses pengolahannya juga menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik (pemicu sel kanker bagi manusia), sehingga butuh waktu hingga 200 tahun untuk dapat terurai secara alami.

Sebagai sumber PAD, menjadi bukti bahwa sampah juga memiliki nilai ekonomis. DLH Karimun bahkan meningkatkan target pendapatan di sektor pengelolaan sampah pada tahun 2023, yakni Rp 576 juta dari Rp 375 juta di tahun sebelumnya.

Limbah Plastik Ladang ‘Cuan’ Erlina

588d7541e42ea1f99a0c78c972ec7cb4

Proses pendinginan cairan limbah plastik yang telah dimasak menggunakan cetakan berbentuk hexagon. Foto: Kepripedia.com

Sore itu menunjukkan pukul 15.00 WIB, Kamis, 25 Mei 2023, dari kejauhan Erlina tampak fokus mengaduk tong besi berukuran sedang di tempat pengolahannya di kawasan Pangke Barat, Meral Barat, Kabupaten Karimun.

ADVERTISEMENT

Tong tersebut berisi kompilasi limbah plastik yang telah dimasak (direbus) dengan tungku hingga menjadi cairan kental dan akan diolah sebagai bahan baku membuat Paving block (conblock).

Sembari sekali mengusap keringat yang mengalir di wajahnya, ia menuangkan air sisa campuran bahan limbah plastik ke dalam selokan di ujung lokasi pengolahannya.

Begitulah salah satu proses yang ia lakukan ketika mengolah limbah-limbah plastik hingga bisa mendatangkan ‘cuan’ dari peluang usaha yang cukup baik itu.

ADVERTISEMENT

Pandangan wanita 38 tahun tersebut sederhana, ketika orang-orang menganggap sampah plastik adalah limbah yang kotor dan menjijikan. Ia justru beranggapan sebaliknya.

“Peluang usaha bisa dari segala arah, termasuk sampah,” ucapnya.

Meski dianggap sebagai limbah yang kotor, faktanya sampah plastik itu yang kemudian diolah Erlina dan dijadikan sebagai bahan pembuatan Paving Blok dan dijual ke orang-orang.

ADVERTISEMENT

Dua tahun sudah ia berkecimpung di bisnis ‘sampah cuan’ ini. Belajar pun secara otodidak.

“Keluarga tidak ada yang punya usaha begini. Belajar sendiri,” katanya meyakinkan.

Proses pertama yang ia lakukan lebih dahulu adalah mengais sampah plastik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tidak jauh dari kediamannya.

Kemudian, dimasak dalam satu tong besi hingga lebur dan menjadi cairan menyerupai bubur selama setengah jam. Setelahnya di masukan ke dalam cetakan berbentuk hexagon yang dahulu ia buat dengan modal Rp 100 ribu.

“Hitungan kami berat 2 kilogram sampah plastik, untuk 1 buah paving block,” terangnya.

Alat-alat yang ia gunakan sama sekali tidak didukung aroma ‘teknologi’. Namun, untuk memudahkan proses penguraian, sempat terpikir untuk membuat satu alat pencacah limbah plastik.

“Tapi ya itu tadi terbatas di modal juga. Jadi dengan alat seadanya saja dulu,” ucapnya.

Apa yang dilakukan Erlina dalam usahanya ini, jelas saja tidak semata mengenai aspek ekonomi. Ada persoalan yang jauh lebih besar dampak dari aktivitas yang dia lakukan. Adalah alam dan batas ‘kuasanya’ mengurai limbah-limbah plastik.

Jika secara alami diperlukan waktu 200 tahun, maka dengan tangan dingin Erlina limbah plastik dapat diurai dengan waktu kurang dari 1 jam.

Gabung dan ikuti kami di :

Penulis: | Editor: Redaksi



whatsapp facebook copas link

Baca Lainnya

Insiden “Pengusiran” Wartawan Berakhir Damai, KPU Lingga Minta Maaf: Harap Tak Terulang

2 Maret 2024 - 17:17 WIB

Ketua KPU Lingga bertemu sejumlah wartawan

NasDem Paling Banyak, Berikut 25 Nama Bakal Duduki Kursi DPRD Lingga

2 Maret 2024 - 16:21 WIB

Kantor DPRD Lingga

Hasil Lengkap Perolehan Suara Pemilu DPRD Kabupaten Lingga 2024

1 Maret 2024 - 21:36 WIB

Hasil Pemilu 2024 DPRD Kabupaten Lingga

Asyik! Ada Beasiswa untuk 1.500 Mahasiswa Kepri Berprestasi di Tahun 2024

1 Maret 2024 - 14:28 WIB

images 6

Polda Kepri Gelar Operasi Keselamatan Seligi 2024 Selama 14 Hari ke Depan

1 Maret 2024 - 14:21 WIB

Wakapolda Kepri Brigjen Pol Asep Safrudin. Foto: Ist/kepripedia.com

Ribuan Pencaker Ikuti Job Fair 2024 di Bintan, Begini Harapan Roby Kurniawan

1 Maret 2024 - 12:37 WIB

Bupati Bintan Roby Kurniawan mengunjungi Job Fair 2024
Trending di Warta