Menu

Mode Gelap

Netizen · 12 Apr 2020 22:51 WIB

Berantas Narkoba: Metode Edukasi atau Eksekusi


Berantas Narkoba: Metode Edukasi atau Eksekusi Perbesar

Ilustrasi

Ilustrasi. Foto: Istimewa

 

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Semua istilah ini, baik “narkoba” ataupun “napza”, mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki resiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, markoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropiks yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalah artikan akibat pemakaian diluar peruntukan dan dosis yang semestinya.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 35 Tahun 2009). Narkotika digolongkan menjadi tiga golongan sebagaimana tertuang dalam lampiran 1 undang-undang tersebut. Yang termasuk jenis narkotika adalah :

  • Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.
  • Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut diatas.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (UU N0. 5/1997). Terdapat empat golongan psikotropika menurut UU tersebut, tetapi setelah diundangkannya UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, maka psikotropika golongan I dan II dimasukkan ke dalam golongan narkotika. Dengan demikian saat ini apabila bicara masalah psikotropika hanya menyangkut psikotropika golongan III dan IV sesuai UU No. 5/1997. Zat yang termasuk psikotropika antara lain :

ads
  • Sedatin (pil Bk), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandrax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Sabu-sabu, LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide) dan sebagainya.

Bahan adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistem saraf pusat, seperti :

  • Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang berakohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh : lem/perekat, aceton, ether dan sebagainya.

Kita semua pasti tahu tentang narkoba, namun ada di antara kita juga yang belum mengerti dengan jelas bahaya narkoba. Memang, narkoba perusak generasi bangsa indonesia saat ini sedang gencar mengeksekusi mati baik penyeludup atau pengedar narkoba. Lalu apakah itu langkah yang tepat?

Mungkin di antar kita banyak yang mengatakan “setuju!” atau “Biar aja dia mati, dia perusak generasi bangsa!”. sudah diakui, narkoba merusak generasi bangsa dan seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa generasi bangsa yang salah jalan dapat mengkonsumsi barang haram itu? Jawabannya bukan akibat rayuan pengedar narkoba atau paksaan teman yang mengedarkan narkoba, melainkan kurangnya edukasi tentanf bahaya narkoba di indonesia.

Penyuluhan mengenai bahaya narkoba sebagai salah satu bentuk edukasi ini dapat memupuk rasa kesadaran diri dan anti-narkoba, sehingga dengan sendirinya setiap generasi bangsa akan menolak berbagai tawaran narkoba. Kesadaran diri ditambah dengan pendidikan agama yang kuat juga semakin menjadikan generasi bangsa kita lebih berhati-hati dengan narkoba. Mereka yang menyelundupkan dan mengedarkan pun akan menyerah apabila edukasi di indonesia dapat menciptakan anti-narkoba dan memberikan pendidikan agama yang kuat kepada setiap generasi bangsa. Generasi bangsa yang sudah dibekali edukasi anti-narkoba pastinya akan sangat berhati-hati apabila sangat mengerti bahaya narkoba.

ads

Apakah dengan demikian eksekusi mati mampu menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak, jika generasi bangsa tidak mendapatkan edukasi yang telah diutarakan tadi, tetap mereka nekat dan mengonsumsi barang haram tersebut. Sehingga, untuk memberantas narkoba di kalangan generasi bangsa dibutuhkan edukasi yang mendukung anti-narkoba. Eksekusi mati tidak akan pernah menyelesaikan masalah narkoba justru merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia dimana eksekusi, di mana eksekusi ini telah mencabut hak untuk hidup seseorang karena hidup seseorang merupakan kuasa tuhan.

***

Tulisan dari Feny Mailani| Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung



ads
Tetap terhubung dengan kami:
Baca Lainnya

Jauhi dan Jangan Pernah Coba-coba Narkoba

9 November 2021 - 18:59 WIB

Kala COVID-19 Menjadi Sarana Transformasi Pendidikan

5 November 2021 - 17:21 WIB

Menyoal Kebijakan Pemerintah Pindahkan Ibukota

5 November 2021 - 16:51 WIB

Bagaimana Pendidikan Olahraga Selama Pandemi COVID-19

18 Juni 2021 - 15:40 WIB

Disebut dalam al-Quran dan Hadist, Ini 5 Keutamaan Bersedekah

12 Mei 2021 - 01:04 WIB

7 Keajaiban dari Infaq dan Sedekah

8 Mei 2021 - 22:12 WIB

Trending di Netizen