kepripedia
Home / Warta / Cerita Karyawan Rumah Makan di Batam Saat Petugas Razia Prokes

Cerita Karyawan Rumah Makan di Batam Saat Petugas Razia Prokes

“Silakan pulang dulu, gunakan masker, angka COVID-19 di Batu Aji kian hari makin tinggi,” ujar David petugas COVID-19 di Kecamatan Batu Aji, Batam, mengunakan pengeras suara malam itu.

David melihat jarum jam telah merangkak di atas pukul sembilan malam lebih. Sudah waktunya lokasi tempat warung makan ditutup.

Suasana yang awalnya tenang, seketika itu berubah jadi riuh para pembeli yang tengah asyik nongkrong langsung bergegas ke meja kasir dan membayar pesan mereka lalu pulang.

Petugas gabungan kemudian menghampiri pemilik kedai seraya melayangkan selembar kertas yang berisi surat pernyataan untuk mematuhi pembatasan aktivitas jam operasional buka tutup di masa pandemi COVID-19 ini.

ads

Saat ‘dibubarkan” tak ada satu bantahan apapun yang terlontar dari pemilik rumah makan. Namun, ada sekilas cerita menarik dari para karyawan rumah makan.

Salah satunya datang dari karyawan rumah makan di Batu Aji, yang bernama Sari (22). Rutinitas kedatangan petugas membuatnya merasa ketakutan.

“Sebentar lagi udah jam 21.00 WIB, petugas datang, menyuruh tutup dan bubar, tak boleh lagi jualan bang. Kami yang ditegur nanti,” ujar Sari kepada kepripedia, Sabtu (12/6) lalu.

“Kalau mau pesan makanan dan minuman bisa bang. Tapi kami tak layani lagi makan ditempat dibungkus aja,” tambah wanita berhijab itu.

ads

Keramahan Sari patut diacungi jempol, pasalnya ia masih berupaya mengingatkan protokol kesehatan dan aturan selama PPKM akibat pertumbuhan angka COVID-19 di Batam yang terus merebak naik. Rumah makan tempat Sari bekerja bakal dikenai sanksi oleh satgas COVID-19 yang rutin berpatroli jika ketahuan masih beroperasi di atas jam sembilan malam.

“Kalau kami tak ikuti anjuran pemerintah maka tempat usaha kami akan diberikan sanksi. “Inilah yang membuat rasa khawatirnya semakin menjadi jadi. Kalau tak kerja makan apa kami,” kata Sari cerita.

Menurutnya, pembatasan jam operasional membuat omzet rumah makan berkurang, ditambah kalau tutup atau disegel oleh petugas, maka bakal malang melintang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Meskipun pihak pengelola rumah makan telah mengatur jarak tempat duduk untuk pembeli sedemikian rupa namun dengan pembatasan jam operasional berdampak tajam bagi sektor para pelaku usaha kecil.

Senada dengan cerita Sari, salah satu karyawan kafe di Mega Legenda, Kecamatan Batam Kota , bernama Winda juga mengalami hal yang sama, meski lokasinya telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Mohon maaf bang kami bentar lagi tutup jam 21.00 WIB ada razia protokol kesehatan, kalau mau pesan dibungkus aja boleh atau makan di sini bisa geser dibelakang karena lampu depan akan kami matikan,” kata Winda.

Sesuai dengan surat edaran Wali Kota Batam Muhammad Rudi Nomor 22 Tahun 2021 tentang pembatasan jam operasional untuk kafe, kedai, rumah makan dan tempat hiburan malam (THM) pada pukul 21.00 WIB.

Pembatasan jam operasional inipun diberlakukan sejak tanggal 24 Mei 2021 hingga 23 Juni 2021.

“Semua tempat keramaian akan dibatasin, hal itu upaya penegakan protokol kesehatan,” timpal Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Batam Salim beberapa waktu lalu kepada kepripedia.

Ia meminta pengertiannya bagi pengelola tempat hiburan, kafe, dan restoran sebab ini kondisi darurat, bukan normal.

“Kalau normal kan boleh-boleh saja, ini sifatnya sementara guna memutus mata rantai penyebaran virus corona di Batam,” katanya.

Sebagai mana diketahui para pedagang juga tidak diperbolehkan menyediakan makan ditempat, yang artinya konsumen hanya dapat membeli dengan dibungkus untuk dibawa pulang atau take away.

Kebijakan pembatasan jam operasional pada pelaku usaha kecil hingga kalangan menengah apakah sudah berjalan efektif untuk menekan laju penyebaran virus corona?

Lantas bagai mana nasib mereka dibatasi usahanya yang berdampak pundi-pundi ekonomi? Apa solusi diberikan pemerintah dibalik pembatasan tersebut?



Penulis: Zalfirega

Editor: Hasrullah

BERI KOMENTAR