Menu

Mode Gelap

Netizen · 17 Mar 2020 17:15 WIB ·

COVID-19 Mewabah, Jiwa Oportunis Merambah


 COVID-19 Mewabah, Jiwa Oportunis Merambah Perbesar

Ilustrasi Corona Virus. Foto: Istimewa

 

Awal tahun 2020 diwarnai dengan berbagai kejadian disetiap negara seperti halnya ibu kota Jakarta yang menerima kado pahit dengan mendapatkan musibah berupa banjir besar, berbeda dengan China tepatnya di Wuhan Provinsi Hubei yang mendapat wabah virus yang mengganggu pernapasan sehingga bisa mengakibatkan warga negaranya meninggal dunia.

China mendapatkan virus baru yang diidentifikasikan bernama virus Novel Coronavirus atau lebih dikenal sebagai virus corona. Para ahli di China melansir bahwa penyebaran virus corona ini berasal dari ular jenis trait yang banyak ditemukan dibagian China Selatan dan Asia Tenggara.

ads

Novel Coronavirus (2019-nCoV) Saat ini tengah menjadi perbincangan hangat dunia lantaran menyebarnya berita mengenai virus tersebut juga telah menyebar dan mewabah ke seluruh antero dunia, tak terkecuali di Indonesia. Virus corona ini menyebar pertama kali di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Lebih dari 20 negara sudah terjangkit virus corona. Virus corona ini menyebabkan pneumonia berupa infeksi atau peradangan akut pada jaringan gelembung udara paru-paru yang disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur .

Meski mayoritas korban yang terinfeksi adalah orang dewasa 40 tahun keatas, namun Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan bahwa virus ini bisa menyerang siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

ads

Corona memiliki gejala tertentu pada penderitanya seperti sesak nafas, demam, infeksi saluran pernapasan, pusing, pilek dan batu kering. Gejala awalnya mirip dengan flu biasa yang disebabkan influenza, namun virus yang menyerang berbeda.

Yang paling menonjol gejalanya adalah sesak nafas yang terjadi akibat penyempitan jaringan udara diparu-paru. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan bahwa status darurat global virus corona terus mewabah dan menyebar ke berbagai negara. Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) menyatakan bahwa per awal Maret 2020 ada total 98.023 kasus corona ( COVID-19) telah dilaporkan di setidaknya di 92 negara, termasuk 3.380 kematian akibat virus corona. Penyebaran virus corona sangat mengkhawatirkan seiring terus bertambahnya negara-negara yang melaporkan kasus virus corona tersebut.

Merebaknya berita tentang virus corona ini telah menimbulkan berbagai dampak mulai dari peningkatan kewaspadaan akan kesehatan, perasaan mencekam atas banyaknya korban yang ditimbulkan , sampai dengan perasaan miris atas berita bohong terkait penyebaran virus corona tersebut.

Efek yang ditimbulkan dari berita bohong tersebut adalah keraguan, kecemasan, ketidaknyamanan dan bahkan kekhawatiran yang menimbulkan kegaduhan. Faktanya sejak presiden Joko Widodo mengumumkan ada 2 warga negaranya yang terjangkit virus corona ini, banyak orang menyerbu toko swalayan, apotek, dan bahkan pasar tradisional dengan kondisi masyarakat berbondong-bondong memborong masker, bahan pokok, dan disinfektan. Maka dari itu otomatis muncul fenomena yang disebut panic buying yang menyebabkan beberapa harga barang melonjak drastis contohnya masker dan hand sanitizer.

Kabar corona menyebabkan permintaan akan masker melonjak dan pada akhirnya barang tersebut lebih mahal pada biasanya. Selain fenomena panic buying, muncul juga fenomena sinophobia atau ketakutan dan kepanikan khalayak ramai terhadap peristiwa disekitarnya. Alasan dari penyebaran berita bohong dengan tujuan mencari perhatian publik, mencari keuntungan materil maupun non- materil , mempermainkan dan bahkan menipu khalayak ramai.

Lantas kondisi tersebut dimanfaatkan oleh berbagai oknum yang memiliki jiwa oportunis. Ada lima kata yang menggambarkan jiwa oportunis ini yaitu peluang, keuntungan pribadi, situasional, persetan prinsip atau persetan lainnya.

Oportunis disini adalah suatu tindakan mengambil keuntungan diri sendiri yang sebesar-besarnya dengan memanfaatkan kesempatan atau isu yang terjadi atau dalam ilmu ekonomi disebut excessive margin.

Sebagai dampak dari penyebaran virus corona ini, harga masker pun melonjak naik. Tak tanggung-tanggung , misalnya di Pasar Pramuka Jakarta Timur harga masker mencapai 1,5 juta. Padahal harga masker pada awalnya hanya Rp 25.000 satu box yang berisi 50 lembar masker, kini masker tersebut dijual dengan harga Rp 350.000 . Tak hanya harga masker yang melonjak, namun permintaan dan harga hand sanitizer juga melonjak drastis akibat penyebaran virus corona tersebut.

Disamping harga masker dan hand sanitizer dipasaran melonjak, namun Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menuturkan bahwa pasokan masker dikimia farma ada sebanyak 215.000 pcs dan kimia farma akan mendatangkan masker sebanyak 7,2 juta pcs dengan harga Rp 2.000  saja untuk 1 pcs nya.

Lantas kondisi ini tidak membuat oknum dengan jiwa oportunis mundur. Jiwa- jiwa oportunis kini sekarang malah berlomba- lomba menimbun dan menjual masker serta antiseptic dengan harga tinggi tanpa memikirkan kondisi yang ada. Bukannya membantu menetralkan keadaan, jiwa oportunis malah memperiuh keadaan. Mungkin suatu hal yang ada dibenak jiwa oportunis ini adalah mencari keuntungan yag berlipat ganda untuk memperkaya dirinya sendiri.

Guna mengantisipasi penimbunan masker dan hand sanitizer yang menyebabkan kelangkaan barang dipasaran, dari pihak kepolisian akan mengawasi lonjakan kenaikan harga masker dan antiseptic dipasaran. Pihak kepolisian juga menghimbau kepada para pedagang agar tidak menjual barang tersebut dengan hatga tinggi karena bisa merugikan masyarakat.

Pembelian masker dan hand sanitizer juga dibatasi agar tidak terjadinya kegiatan memborong masker dan hand sanitizer dalam jumlah yang cukup besar supaya tidak terjadinya penimbunan yang dilakukan oleh oknum yang berjiwa oportunis tersebut.

Polisi Menggerebek Rumah yang Melakukan Penimbunan Masker Diduga Rekondisi Siap Edar di Astananyar, Kota Bandung, Jawa Barat (foto: Okezone/CDB Yudistira)

 

Kepala Bagian Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra menyampaikan dan menindak tegas para penimbun masker yang bisa ditindak UU Perdagangan Pasal 107 dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda sebanyak Rp 50 miliar .

Selain itu, pihak kepolisian juga akan melakukan patroli penjualan masker secara online. Mengingat kini lapak online marak digunakan untuk menjual masker dengan motif oportunis tadi. Polda Metro Jaya akan bekerja sama dengan siber untuk menelusuri adanya penjualan masker online yang melakukan penimbunan dengan tujuan meraup keuntungan akibat harga yang melonjak drastis.

Pemerintah juga diminta untuk mengendalikan pasar akibat harga masker dan hand sanitizer yang naik drastis tersebut. Pemerintah dihimbau untuk ikut mengendalikan harga masker didalam negeri.

Sejumlah pihak dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sampai Lembaga Swadaya Masyarakat juga menyuarakan agar adanya kebijakan pemerintah soal harga masker ini. Sebab, kebutuhan masker yang melonjak tajam membuat harga melambung tinggi. Pemerintah diminta segera menyikapi ini.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI) bahkan meminta Kementerian Kesehatan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha ( KPPU) dan Kepolisian untuk menyelidiki kenaikan harga masker yang melonjak tajam ini. Persoalan harga masker ini harus diselesaikan dan ditanggapi pemerintah secara cepat karena dapat menimbulkan banyaknya penimbunan masker lagi, munculnya perilaku irasional, egois dan tidak bertanggung jawab seperti para oknum yang memiliki jiwa oportunis.

Persoalan mengenai jiwa oportunis menemukan jawaban relative, yaitu tergantung dari pelaku dan orang-orang disekitarnya apakah merasa dirugikan atau tidak.

Dari segi bisnis dan pribadi tentunya taktik dalam usaha menginginkan keuntungan besar namun kewajarnya saja tidak berlebihan ataupun berpuluh kali lipat keuntungannya, namun dari segi politik dan kepentingan umum tentu saja jiwa oportunis salah karena oknum tersebut memanfaatkan keadaan yang ada untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Tentunya, oknum dengan jiwa oportunis ini tidak layak kita jadikan sebagai teman ataupun sahabat karena ciri khasnya yaitu egois dengan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain disekitarnya.

 

 

Tulisan dari Putri Arini | Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Penulis:

Editor: Hasrullah


Baca Lainnya

Bagaimana Pendidikan Olahraga Selama Pandemi COVID-19

18 Juni 2021 - 15:40 WIB

Disebut dalam al-Quran dan Hadist, Ini 5 Keutamaan Bersedekah

12 Mei 2021 - 01:04 WIB

7 Keajaiban dari Infaq dan Sedekah

8 Mei 2021 - 22:12 WIB

Makna Tunaikan Zakat Bagi Umat Muslim

2 Mei 2021 - 22:52 WIB

Toxic Positivity: Kalimat Positif Menjadi Toxic Bagi Seseorang

29 April 2021 - 23:41 WIB

Musrenbang Kurang Diminati Anak Muda, Aktivis Minta Pemkab Lingga Gelar Festival Gagasan

8 April 2021 - 21:14 WIB

Trending di Netizen