Menu

Mode Gelap
ads

Warta · 9 Nov 2021 18:30 WIB

Hingga November 2021, Ada 298 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Kepri


Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan Perbesar

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Tingkat kekerasan terhadap anak dan perempuan di Provinsi Kepulauan Riau cukup tinggi. Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (P3AP2KB) Provinsi Kepri, pada tahun 2019 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 552 kasus, kemudian pada tahun 2020 sebanyak 589 kasus, dan sampai dengan tanggal 8 November 2021 terdapat 298 kasus.

Meski angka kasus tergolong menurun dibanding tahun tahun sebelumnya, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menyampaikan masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan potret lemahnya ketahanan keluarga.

Oleh karena itu, diperlukan upaya memperkokoh kembali fungsi keluarga. Dengan cara, meyosialisasikan pemenuhan hak anak, pola pengasuhan dan peran keluarga dalam membentuk keluarga yang berkualitas.

“Perlu kita galakkan sejalan dengan upaya peningkatan kesejahteraan keluarga melalui keterlibatan wanita di bidang ekonomi,” ungkapnya saat meninjau kegiatan Peserta Sekolah Perempuan Raja Saleha sekaligus menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Dinas P3AP2KB dengan BKMT Provinsi Kepri Tentang KIE di Dompak, Selasa (9/11).

ads

Maka dari itu, Ansar menekankan pentingnya melakukan kerja sama dengan kelompok organisasi masyarakat seperti MUI dan Organisasi Da’i Perempuan. Supaya sosialisasi pentingnya perlindungan perempuan dan anak dapat tersalurkan melalui masjid-masjid, pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya.

Selain itu, lanjutnya, salah satu penyebab kekerasan terhadap rumah tangga adalah faktor ekonomi. Maka Gubernur Ansar sangat mengapresiasi usaha-usaha pengembangan ekonomi yang digagas oleh Dinas P3AP2KB seperti pengembangan Sekolah Perempuan, juga pengembangan usaha mikro.

“Namun yang perlu diperhatikan adalah pembinaan kualitas, baik produk maupun kemasannya. Karena kemasan juga menentukan. karena biasanya produk kita rasanya enak, namun kemasannya selalu kalah” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas P3AP2KB, Misni, menyampaikan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak dari waktu kewaktu cenderung meningkat jumlahnya. Jenis kekerasan dan modusnya pun semakin bervariasi.

ads

Menurutnya, salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah melalui sosialisasi secara masif kepada masyarakat secara luas.

“Mengingat bahwa Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan yang memiliki jejaring sampai ke tingkat desa/kelurahan dan menjangkau hingga unit keluarga, perannya menjadi sangat strategis dalam melejitkan dakwah ditengah masyarakat dalam upaya pencegahan terhadap perempuan dan anak” kata Misni.

Sehingga, lanjut Misni dipandang perlu melakukan kerjasama antara Dinas P3AP2KB dengan BKMT dalam penyebarluasan informasi terkait dengan pengasuhan dalam keluarga, peran ayah, pemenuhan hak perempuan dan anak serta kesetaraan laki-laki dan perempuan.



ads
Baca Lainnya

KPPAD Harap Lingga Jadi Kota Layak Anak Tingkat Madya

27 November 2021 - 16:34 WIB

KPPAD: Januari-November 2021 Ada 12 Kasus Kekerasan Anak di Lingga

27 November 2021 - 16:08 WIB

Gubernur Kepri Sampaikan Persoalan Biaya Penanganan PMI ke BNPB

26 November 2021 - 21:29 WIB

Menteri KKP Kunker ke Kepri, Sosialisasi Industri Perikanan Mandiri

26 November 2021 - 21:09 WIB

Kodim 0317/TBK Bantu Fasilitasi Bedah Gadis di Karimun yang Tertelan Jarum Pentol

26 November 2021 - 17:57 WIB

Truk Pengangkut Pakan Ternak Terbalik di Pendakian Bukit Daeng Batam

26 November 2021 - 16:47 WIB

Trending di Warta