Menu

Mode Gelap

Ekonomi Bisnis · 4 Feb 2022 09:30 WIB ·

ILO Laporkan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial Tahun 2022


 Ilustrasi. Foto: ILO Perbesar

Ilustrasi. Foto: ILO

ADVERTISEMENT
advertisement

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah menurunkan prediksinya terkait pemulihan pasar tenaga kerja pada 2022, memproyeksikan defisit jam kerja secara global setara dengan 52 juta pekerjaan penuh waktu, dibandingkan dengan kuartal keempat tahun 2019.

Prakiraan setahun penuh sebelumnya pada Mei 2021 memproyeksikan defisit sebesar 26 juta pekerjaan penuh waktu. Kendati proyeksi terbaru ini lebih baik dari situasi pada 2021, proyeksi ini tetap saja hampir dua persen di bawah jumlah jam kerja global sebelum pandemi, menurut Laporan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial (World Employment and Social Outlook/WESO) ILO 2022.

Pengangguran global diperkirakan akan tetap berada di atas tingkat sebelum COVID-19 hingga setidaknya tahun 2023. Tingkat tahun 2022 diperkirakan mencapai 207 juta, dibandingkan dengan 186 juta pada 2019.

Laporan ILO juga memperingatkan bahwa dampak keseluruhan terhadap lapangan kerja secara signifikan lebih besar dibandingkan yang terwakili dalam angka-angka ini karena banyak orang telah meninggalkan angkatan kerja.

ADVERTISEMENT
advertisement

Pada 2022, tingkat partisipasi angkatan kerja global diproyeksikan tetap verada pada 1,2 poin persentase di bawah 2019. Penurunan peringkat pada perkiraan 2022 ini mencerminkan, pada titik tertentu, dampak varian COVID-19 baru-baru ini, seperti Delta dan Omicron, terhadap dunia kerja serta ketidakpastian yang signifikan mengenai arah pandemi di masa depan.

Laporan Tren WESO memperingatkan perbedaan mencolok pada dampak krisis di seluruh kelompok pekerja dan negara. Perbedaan-perbedaan ini memperdalam ketimpangan di dalam dan di antara negara-negara dan melemahkan tatanan ekonomi, keuangan dan sosial hampir setiap negara, terlepas dari status pembangunannya.

ADVERTISEMENT

Kerusakan ini mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diperbaiki dengan potensi konsekuensi jangka panjang pada partisipasi angkatan kerja, pendapatan rumah tangga, dan kohesi sosial serta – mungkin – politik.

Efeknya dirasakan di pasar tenaga kerja di semua wilayah di dunia, kendati teramati adanya arah perbedaan besar pada pola pemulihan. Wilayah Eropa dan Amerika Utara menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang paling menggembirakan, sementara Asia Tenggara dan Amerika Latin dan Karibia memiliki prospek paling negatif.

Di tingkat nasional, pemulihan pasar tenaga kerja paling kuat terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, sementara ekonomi berpenghasilan menengah ke bawah bernasib paling buruk.

ADVERTISEMENT

Dampak krisis yang tidak proporsional terhadap pekerjaan perempuan diperkirakan akan berlangsung di tahun-tahun mendatang, demikian laporan menyebutkan. Sementara penutupan lembaga pendidikan dan pelatihan “akan memiliki implikasi jangka panjang yang berjenjang” bagi kaum muda, terutama mereka yang tidak
memiliki akses internet.

“Dua tahun dalam krisis ini, prospeknya tetap rapuh dan jalan menuju pemulihan akan
lambat dan tidak pasti,” kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder.

“Kita sudah melihat potensi kerusakan pasar tenaga kerja yang berkepanjangan, bersama dengan peningkatan kemiskinan dan ketimpangan. Banyak pekerja diharuskan beralih ke jenis pekerjaan baru – misalnya sebagai tanggapan terhadap terjerembabnya secara berlarut-larut bisnis perjalanan dan pariwisata internasional.”

ADVERTISEMENT

“Tidak akan ada pemulihan nyata dari pandemi ini tanpa adanya pemulihan pasar tenaga kerja berbasis luas. Dan agar berkelanjutan, pemulihan ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip pekerjaan yang layak – termasuk kesehatan dan keselamatan, kesetaraan, perlindungan sosial dan dialog sosial.”

Tren WESO mencakup proyeksi pasar tenaga kerja yang komprehensif untuk tahun 2022 dan 2023. Ini memberikan penilaian tentang bagaimana pemulihan pasar tenaga kerja telah berlangsung di seluruh dunia, yang mencerminkan pendekatan nasional yang berbeda untuk bisa pulih dari pandemi dan analisis pengaruhnya pada berbagai
kelompok pekerja dan sektor ekonomi.

Laporan ILO menunjukkan bahwa, seperti dalam krisis sebelumnya, pekerjaan temporer menciptakan penyangga terhadap goncangan pandemi bagi sebagian orang. Sementara banyak pekerjaan temporer diberhentikan atau tidak diperpanjang, pekerjaan alternatif diciptakan, termasuk bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan tetap. Rata-rata, situasi pekerjaan temporer tidak berubah.

ADVERTISEMENT

Tren WESO juga menawarkan ringkasan rekomendasi kebijakan utama yang ditujukan untuk menciptakan pemulihan dari krisis yang sepenuhnya inklusif dan berpusat pada manusia di tingkat nasional dan internasional.

Ini didasarkan pada “Seruan Aksi Global untuk Pemulihan Krisis COVID-19 yang Inklusif, Berkelanjutan dan Tangguh” yang diadopsi oleh 187 Negara Anggota ILO pada Juni 2021. / (Siaran Pers ILO)

Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung
Artikel ini telah dibaca 62 kali

Penulis: | Editor: Redaksi


ADVERTISEMENT
advertisement
Tetap terhubung dengan kami:
advertisement
Baca Lainnya

Harga Sayur Kangkung di Batam Anjlok hingga Rp 2 Ribu per Kilogram

19 Mei 2022 - 22:36 WIB

Harga Daging Ayam Potong di Bintan Capai Rp 47 Ribu

19 Mei 2022 - 14:25 WIB

Kelompok Budidaya dan Peternak Binaan PT SIKY Panen 1.000 Ekor Ikan

16 Mei 2022 - 14:04 WIB

Telkom Jadi BUMN Pertama yang Peroleh Sertifikasi Great Place to Work

15 Mei 2022 - 12:40 WIB

Ekonomi Kepri Mulai Tumbuh, Pemprov Usulkan Perluasan KEK

15 Mei 2022 - 11:44 WIB

Kredivo Ambil Peran dalam World Economic Forum

13 Mei 2022 - 10:00 WIB

Trending di Ekonomi Bisnis
advertisement