Menu

Mode Gelap

Kuliner Wisata · 6 Feb 2022 07:30 WIB ·

Menelusuri Peninggalan Sejarah di Pulau Buluh, Perigi Tua hingga Pasar Pertama di Batam


 Asosiasi Pariwisata Batam Kunjungi Pulau Buluh. Foto: Dok MC Batam Perbesar

Asosiasi Pariwisata Batam Kunjungi Pulau Buluh. Foto: Dok MC Batam

ADVERTISEMENT
advertisement

Asosiasi Pariwisata yang berada di Kota Batam melakukan penelusuran di sejumlah tempat bersejarah di Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Batam, Jumat (4/1).

Kunjungan ini juga didampingi langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, bersama dengan Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Batam (BPPD), Edi Sutrisno.

ADVERTISEMENT
advertisement

Pertama, rombongan yang juga diikuti Camat Bulang, Ramadhan Zuhri dan Lurah Pulau Buluh, Borhan ini menyambangi sumur atau perigi tua. Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 7 meter. Ia merupakan salah situs budaya dan sejarah tertua yang masih dapat dilihat di pulau bersejarah ini.

Saat ini, kondisi sumur tampak tak terawat. Sekelilingnya ditumbuhi rumput dan juga lumut hijau.

ADVERTISEMENT
advertisement

Direktur Eksekutif BPPD Batam, Edi Sutrisno, bercerita jika dulunya sumur tua ini merupakan sumber air tawar bagi warga sekitar selama beratus tahun lalu.

Sumur ini terbuat dari bata berlabel Batam yang merupakan hasil produksi Batam Brick Works yang dibangun pada tahun 1896 oleh Raja Ali Kelana.

ADVERTISEMENT

Dari sana, rombongan kemudian mengunjungi pasar pertama di Batam, lalu bangunan lama Tionghoa, serta bekas bangunan Kantor Camat Pertama di Batam.

Menurut Edi, Pulau Buluh secara historis erat sekali dengan perkembangan Batam hingga saat ini.

“Pusat pemerintahan pertama atau kantor kecamatan pertama dulunya adalah Pulau Buluh, kemudian baru berpindah ke Belakang Padang sekitar tahun 1953 dan setelah Batam menjadi kota administratif pada tahun 1983 maka pusat pemerintahan berada di Batam,” paparnya.

ADVERTISEMENT

Seperti pasar pertama di Batam yang berada di Pulau Buluh. Bentuk bangunan gedungnya sampai saat ini masih dipertahankan warga Tionghoa yang ada di pulau tersebut.

“Inilah ciri-ciri pasar lama, gedung ini dulunya dimiliki oleh toke Tionghoa,” terangnya.

Perjalanan kemudian diakhiri ke Toa Pekong Puluh Buluh yang kini berganti nama menjadi Vihara Samudra Bhakti.

ADVERTISEMENT
Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung
Artikel ini telah dibaca 227 kali

Berita ini dikutip dari infopublik.id

Penulis: | Editor: Redaksi


ADVERTISEMENT
advertisement
Tetap terhubung dengan kami:
advertisement
Baca Lainnya

2 Tahun Vakum, Kapal Pesiar Genting Dream Kembali Singgahi Lagoi

3 Juli 2022 - 13:16 WIB

Liburan Murah di Pantai Payung Batubesar Nongsa

3 Juli 2022 - 11:52 WIB

Pariwisata Bangkit, Sejumlah Event Internasional di Bintan Bakal Kembali Digelar

26 Juni 2022 - 13:51 WIB

Best Western Premier Panbil Resmi Mengantongi Sertifikasi Bintang 5

24 Juni 2022 - 21:11 WIB

Asyik! Taman Bermain Anak Bertambah Lagi di Taman Rusa Sekupang

23 Juni 2022 - 07:22 WIB

Lezat dan Mengenyangkan, Begini Resep Mie Sagu Goreng Khas Kepri

18 Juni 2022 - 13:27 WIB

Trending di Kuliner Wisata
advertisement