Menu

Mode Gelap
ads

Sosial Budaya · 7 Nov 2021 14:09 WIB

Musim Menduyok, Momen Nelayan di Anambas Berburu Gurita


Salah satu nelayan di Anambas menunjukkan hasil tangkapannya. Foto: Milyawati/kepripedia.com Perbesar

Salah satu nelayan di Anambas menunjukkan hasil tangkapannya. Foto: Milyawati/kepripedia.com

Salah satu hasil laut yang kini tengah banyak dicari oleh nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas yakni gurita (Octopus spp.) Hewan yang hidup hampir di seluruh laut dunia. Mulai dari laut tropis di kutub utara hingga selatan.

Hewan ini sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia terutama yang bermukim di kawasan pesisir pantai. Masyarakat di Anambas dan Natuna sudah banyak memanfaatkan invertebrata ini sebagai makanan. Di luar negeri, seperti Jepang, Spanyol, Italia, Filipina dan di pesisir pantai timur India, penduduknya mengkonsumsi gurita.

Salah satu marga yang paling terkenal di antara kelas Cephalopoda ini, biasanya muncul pada bulan Oktober hingga Desember di Kepulauan Anambas.

Warga ramai menyebut musim ini dengan musim menduyok. Jika sudah musimnya, nelayan ikan di Anambas berpindah menjadi nelayan gurita

ads

Hewan berlengan 8 ini begitu banyak bermunculan di perairan dangkal, sekitaran pulau. Ternyata, Dengan teknik pengolahan yang baik, gurita dapat menjadi makanan laut yang bernilai sangat mahal.

kepripedia berkesempatan bertemu dengan salah satu nelayan di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur. Ia bernama Nazar yang merupakan nelayan ikan, yang ikut beralih mencari gurita.

Nazar mencari gurita sejak ia kecil. Namun, mulai tahun 2018 ia mulai giat menangkap gurita dengan jumlah besar. Baginya, gurita memiliki nilai ekonomis yang tinggi pada musim sekarang. Harganya semakin lama semakin naik sesuai permintaan.

Hampir semua nelayan maupun masyarakat yang mahir, ikut berburu gurita. Disebabkan cuaca yang kurang bersahabat untuk turun ke laut mencari ikan. Biasanya gurita muncul sebelum musim angin utara tiba.

ads

Nazar mengatakan masyarakat setempat di Kepulauan Anambas, menyebut gurita dengan istilah ‘Duyok’. Kegiatannya disebut ‘menduyok’. Nazar tidak tahu jelas kenapa dinamai seperti itu dari orang tua-tua dulu di sana.

Dalam Sehari ia bisa membawa pulang 25 Kg gurita. Terkadang hanya 3 atau 4 kilo saja. Mulai dari jam 5 subuh hingga 6 petang.

“Harganya tu makin lama makin naik. Dari harga empat puluh ribu, bisa menjadi lima puluh ribu perkilo. Kalau sehari dapat dua puluh lima kilo. Ya, lumayankan,” ujarnya

Gurita hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Foto: Milyawati/kepripedia.com

Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung



ads
Tetap terhubung dengan kami:
Baca Lainnya

Wagub Kepri Dianugerahi Gelar Dato Wira Indera Puteri

27 November 2021 - 19:56 WIB

Komunitas Basiba Sumbar Hadir di Kepri, Yuk Intip Programnya

16 November 2021 - 16:40 WIB

3 Pahlawan Nasional Ini Dimakamkan di Kepri

10 November 2021 - 16:19 WIB

Malam Ini Gedung Aisyah Sulaiman Kembali ‘Siuman’

28 Oktober 2021 - 14:50 WIB

Menilik Tradisi Mandi Safar, Daya Tarik Kampung Terih di Batam

7 Oktober 2021 - 17:11 WIB

Bulang Cahaya Terbesar di Kepri, Dipastikan Terbang

24 September 2021 - 12:34 WIB

Trending di Event