KONTEN PENGGUNA

Pinisi Kakek Karam Diamuk Badai, Kini Sang Cucu Jadi Syahbandar Pengatur Kapal

Konten ini adalah karya pembaca yang tidak mewakili pandangan dari redaksi kepripedia

Ady Indra Pawennari  Foto

Oleh:
Ady Indra Pawennari

Ketua BPW KKSS Kepri

Bagi anak-anak yang lahir di rahim pesisir—di mana batas tanah menyerah pada pelukan samudra—laut bukanlah dinding penyekat. Laut adalah jalan raya tanpa tepi, tempat mimpi dilarungkan, dan tempat keberanian diuji di atas buih gelombang.

Di atas tanah Tarempa, Kepulauan Anambas—seuntai permata yang terapung di beranda utara Nusantara—seorang anak laut bernama Jemi Permana lahir pada 15 Mei 1982.

ADVERTISEMENT

Di dalam nadinya, mengalir deras darah pelaut ulung Bugis. Sebuah warisan ketangguhan yang membuktikan bahwa badai sedahsyat apa pun tidak akan pernah mampu menenggelamkan takdir seseorang.

Kisah Jemi adalah gema dari pelayaran sunyi masa lalu yang membentuk karakter kepemimpinannya hari ini.

Tragedi Pinisi dan Jangkar Takdir di Anambas

Jauh sebelum ia lahir, sekitar tahun 1950-an, seorang remaja belasan tahun bernama M. Yusuf—yang kelak menyandang gelar adat Daeng Mattangnga namun lebih akrab dipanggil Daeng Supuk—berdiri di atas geladak perahu Pinisi. Ia meninggalkan garis pantai Salomekko, Teluk Bone, Sulawesi Selatan, demi memburu cahaya ilmu di tanah Jawa.

Namun, laut selalu menyimpan rahasianya sendiri. Di ambang gerbang Surabaya, langit mendadak menghitam. Ombak menggulung murka, menghantam keras, dan mengaramkan Pinisi yang dinakhodai kakeknya. Seluruh muatan palawija tenggelam ke dasar samudra. Tragedi itu memisahkan sang ayah dari pelukan keluarganya.

Terdampar dan sebatang kara, Daeng Supuk mengembara dari Jawa hingga Sumatera. Hingga akhirnya, takdir menuntun tangannya untuk menancapkan jangkar kehidupan di Kepulauan Anambas.

Di pulau yang dikepung laut perbatasan ini, ia memeluk takdir baru. Ia mempersunting wanita keturunan Melayu-Tionghoa dan kembali mengarungi samudra sebagai pelaut tangguh. Ia membawa hasil bumi Anambas menembus Singapura dan Malaysia di era ketika ringgit dan dolar masih merajai perniagaan.

ADVERTISEMENT

Hingga wafat pada tahun 2008, ia mengabdi sebagai Penasehat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Kepulauan Anambas—menjadi kompas bagi sesama perantau yang merindukan jalan pulang.

Aroma Barongko dan Tabir Rindu yang Tersingkap

Tumbuh sebagai anak kedua di pulau terluar, Jemi kecil adalah saksi dari kerinduan ayahnya yang tak bertepi pada tanah kelahiran. Kerinduan itu menjelma dalam aroma manis barongko dan kesegaran es pisang ijo buatan ibunya.

ADVERTISEMENT

Pada hari Lebaran, rumah mereka selalu penuh sesak oleh perantau yang datang menjemput rasa rindu lewat sepiring burasa’, leppe’-leppe’ dan tapai ketan hitam.

Sang ayah sempat lupa alamat rumahnya di Salomekko, Bone, namun pesannya selalu abadi. “Suatu saat, ketika kepala sudah memutih (Haji), kita akan pulang.”

Tuhan mendengar rindu yang dilarungkan ke laut. Melalui sebuah kapal tanker yang bersandar di Tarempa, sang ayah mengundang sang nakhoda Bugis ke rumah mereka. Di ruang tamu itulah, tabir sejarah puluhan tahun tersingkap.

ADVERTISEMENT

Sang nakhoda ternyata adalah tetangga dekat nenek Jemi yang menetap di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, dan menjalankan usaha angkutan laut dengan tiga kapal Pinisi warisan kakek.

Pada tahun 1993, pelayaran emosional membawa keluarga Jemi ke Jakarta. Untuk pertama kalinya, mereka memeluk sang nenek dan tiga pamannya—Daeng Mangngatta, Daeng Situruk, dan Daeng Malewa. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah pengingat abadi bagi Jemi, bahwa ia adalah anak cucu para penguasa lautan.

Menempa Diri di Laut Lepas

Darah maritim yang diwariskan dari tragedi Pinisi tidak pernah menguap. Ia menjelma menjadi bahan bakar dalam jiwa Jemi Permana. Usai menyelesaikan sekolah di Tarempa, ia memutuskan untuk menantang gelombang takdirnya sendiri.

Tahun 2000, ia merantau ke Jakarta, menuntut ilmu di Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya hingga meraih lisensi Ahli Nautika Tingkat III (ANT-III) pada tahun 2004. Jemi memulai petualangannya di laut lepas, bekerja di kapal-kapal supply offshore industri migas global.

Namun, panggilan untuk membangun tanah kelahiran selalu lebih kuat dari gemuruh mesin kapal asing. Ia kembali ke darat, menjadi Jetty Master di perusahaan minyak Amerika, sembari menyelesaikan gelar Sarjana di STMT Trisakti Jakarta.

Langkah pengabdiannya semakin kukuh ketika pada Januari 2011, ia lulus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Anambas.

Jemi tidak pernah berhenti belajar. Di sela tugasnya, ia kembali menempa diri di BP3IP Jakarta hingga meraih gelar Ahli Nautika Tingkat II (ANT-II) dan menuntaskan pendidikan pascasarjana sebagai Magister Manajemen Transportasi (M.M.Tr.) dari ITL Trisakti.

Kompas Masa Depan Anambas

Kini, setelah melewati berbagai pos penugasan dari Subi, Serasan, hingga Ranai di garda terdepan Natuna, Jemi Permana berdiri tegak sebagai Plt. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Tarempa.

Ia adalah sang Syahbandar—penjaga keselamatan, ketertiban, dan urat nadi maritim di tanah kelahirannya sendiri.

Bagi masyarakat Kepulauan Anambas yang wilayahnya didominasi oleh lautan, sosok Jemi Permana adalah jawaban atas kerinduan akan lahirnya pemimpin yang berkarakter maritim, tangguh menghadapi badai, memiliki visi seluas samudra, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai tradisi dan pengabdian.

Jemi telah membuktikan bahwa lahir di wilayah terluar bukanlah sebuah batas akhir, melainkan sebuah garis start untuk memimpin. Jika dahulu kakeknya kehilangan Pinisi dalam amukan badai, kini sang cucu berdiri sebagai Syahbandar yang mengatur jalannya kapal-kapal di samudera yang sama.

Dalam sebuah perbincangan khusus dengan Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Kepulauan Riau, Ady Indra Pawennari di Tanjungpinang, Ia kenyampaikan sebuah pesan bermakna mendalam untuk generasi muda Anambas.

“Jangan pernah merasa kerdil karena terlahir di pulau yang jauh dari pusat benua. Laut di depan rumahmu bukan pemisah, melainkan jalan bentang yang menantangmu untuk melangkah. Pasang layar mimpimu setinggi langit, genggam kemudi hidupmu dengan sekoci ilmu, dan jadilah nakhoda yang tangguh di negerimu sendiri!”


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article