Menu

Mode Gelap

Netizen · 13 Apr 2020 00:30 WIB ·

Serangan COVID-19 ke Perekonomian Negara


 Serangan COVID-19 ke Perekonomian Negara Perbesar

Ilustrasi keuangan dan ekonomi. Foto: kumparan

 

Wabah virus dengan nama Coronavirus Diseases atau COVID-19 yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 12 Maret 2020 lalu, melahirkan begitu banyak kecemasan dan spekulasi dari berbagai pihak.

Walaupun protokoler pandemi segera ditindak-lanjuti oleh pemerintah, namun berbagai macam isu dan sebaran berita dengan beragam kemungkinan semakin mencemaskan masyarakat.

ads

Sebagai informasi, COVID-19 adalah penyakit baru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan radang paru. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Gejala klinis yang muncul beragam, mulai dari seperti gejala flu biasa (batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala) sampai yang berkomplikasi berat (pneumonia atau sepsis).

Penyebaran utama penyakit ini diduga adalah melalui droplet saluran pernapasan dan kontak dekat dengan penderita. Droplet merupakan partikel kecil dari mulut penderita yang dapat mengandung virus penyakit, yang dihasilkan pada saat batuk, bersin, atau berbicara.

ads

Perlu pula diketahui bersama droplet tersebut dapat melewati hingga jarak tertentu (biasanya 1 meter). Droplet juga bisa menempel di pakaian atau benda di sekitar penderita pada saat batuk atau bersin. Namun, partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, orang yang sedang sakit, diwajibkan untuk menggunakan masker untuk mencegah penyebaran droplet. Untuk penularan melalui makanan, sampai saat ini belum ada bukti ilmiahnya.

Kecepatan sebar wabah ini mendorong sejumlah negara membuat pembatasan lintas batas negara, menutup jalur penerbangan, hingga membatasi interaksi di antara warga negaranya sendiri. Tujuannya jelas, mencegah dan meminimalisasi penyebaran wabah virus corona. Namun, ini juga berarti satu hal, guncangan ekonomi.

Arus pergerakan orang dan perdagangan internasional tersendat. Indonesia bukan perkecualian, baik soal wabah maupun guncangan ekonomi. Mengingat saat ini pemerintah belum mengambil kebijakan secara tegas adalah bahwa pada kebijakan lockdown.  Pemerintah harus mengkalkulasi secara detail baik buruknya karena jelas sebuah regional akan terisolasi secara penuh dimana perekonomian akan tertutup.

Menurut hemat penulis, jika lockdwon diterapkan di Indonesia ini akan sangat berpengaruh terhadap berbagai sektor terutama perekonomian ditinjau juga bahwa indonesia memiliki jumlah penduduk yang tinggi sebanyak 271,066.000 jiwa diprediksi oleh BPS pada tahun 2020.

Jika pada sektor transportasi terjadi dampak secara langsung karena himbauan jaga jarak dan hindari keramaian sedangkan pada dampak tidak langsung karena transportasi juga salah satu sektor penunjang pariwisata. Yang mana, saat ini, wabah ini telah membuat pengusaha jasa pariwisata kehilangan 30% keuntungan akibat pembatalan atau penundaan perjalanan.

 

Selain itu, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata bisa mencapai puluhan miliar per bulan karena anjloknya turis dari China. Sektor riil mikro harus tetap bertahan meski dalam kondisi sulit saat ini, harus tetap berproduksi, bisa dilakukan mulai opsi dengan mencari bahan baku dalam skala mandiri sehingga beban bisa terkurangi.

Namun, pandemi  COVID-19 mengubah semuanya. Sejak adanya instruksi menjaga jarak sosial dan gaung beraktivitas di rumah seperti, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah saat ini bertujuan untuk itu.

Meski demikian, kebijakan-kebijakan tersebut juga sangat mungkin melahirkan paradoks, berupa surutnya aktivitas ekonomi. Bagi negara seperti Indonesia yang masih banyak bertumpu pada konsumsi domestik belanja kita sehari-hari dan sektor informal, tantangan kali ini tak dapat dibantah akan cukup berdampak.

Tentu, ini juga harus diantisipasi. Bila tak ada tameng yang dipasang sejak awal, ekonomi jangka panjang bisa jadi persoalan baru. Semakin kita ‘ngeyel’ tak mengikuti protokol jaga jarak, dampak ekonomi pun bisa semakin lama dan tak tertutup kemungkinan jadi buruk sekali.

Kebijakan impor merupakan alat yang strategis dalam rangka mengatasi dampak COVID-19 terhadap kondisi perekonomian nasional. “Kebijakan pemerintah yang membuka keran impor untuk komoditas pangan merupakan kebijakan yang strategis yang memang perlu dilakukan saat ini. Selain untuk menekan dampak penyebaran virus corona terhadap perekonomian.

****

Tulisan dari Elvi Khairini | Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Artikel ini telah dibaca 0 kali

Penulis:

Editor: Hasrullah


Baca Lainnya

Bagaimana Pendidikan Olahraga Selama Pandemi COVID-19

18 Juni 2021 - 15:40 WIB

Disebut dalam al-Quran dan Hadist, Ini 5 Keutamaan Bersedekah

12 Mei 2021 - 01:04 WIB

7 Keajaiban dari Infaq dan Sedekah

8 Mei 2021 - 22:12 WIB

Makna Tunaikan Zakat Bagi Umat Muslim

2 Mei 2021 - 22:52 WIB

Toxic Positivity: Kalimat Positif Menjadi Toxic Bagi Seseorang

29 April 2021 - 23:41 WIB

Musrenbang Kurang Diminati Anak Muda, Aktivis Minta Pemkab Lingga Gelar Festival Gagasan

8 April 2021 - 21:14 WIB

Trending di Netizen