Menu

Mode Gelap
ads

Hukum Kriminal · 2 Nov 2021 14:18 WIB

Sidang Kasus Mikol dan Rokok Ilegal, Kuasa Hukum Albert Cecar Pertanyaan ke Saksi


Sidang kasus minuman keras dan rokok yang melibatkan terdakwa Albert Johanes. Foto: Zalfirega/kepripedia.com Perbesar

Sidang kasus minuman keras dan rokok yang melibatkan terdakwa Albert Johanes. Foto: Zalfirega/kepripedia.com

Sidang lanjutan terdakwa Albert Johanes dengan kasus minuman keras dan rokok kembali digelar. Sidang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Batam dan ruang Kejaksaan Negeri Batam dengan menghadirkan terdakwa secara virtual dari rumah tahanan, Senin (1/11).

Dalam sidang dengan hakim ketua Ferdinaldo Hendrayul Bonodikun ini, dua orang saksi ahli didatangkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Yan Elhas Zeboea. Kedua saksi ahli ini dari Bea Cukai, Teguh Santoso, dan saksi verbalisan selaku penyidik ,Khalil Gibran Taufik.

“Silakan JPU memeriksa keterangan ahli,” ujar Hakim Ferdinaldo Hendrayul Bonodikun.

Beberapa pertanyaan kemudian diutarakan oleh JPU ke dua saksi secara bergantian yang kemudian diuraikan oleh keduanya (saksi) dalam persidangan tersebut.

ads

Tak lama kemudian sempat ada perdebatan antara penasihat hukum (PH) terdakwa dengan pihak JPU. Menurut PH terdakwa, dalam sidang tersebut, saksi ahli hanya memiliki pengetahuan bea cukai.

“Tidak memiliki keahlian pidana. Jadi kami sangat ragu akan kesaksian ahli ini,” ucap penasihat hukum terdakwa, Filemon Halawa, didampingi. Zudy Fardy.

Filemon sempat mempertanyakan bukti dari JPU mengenai manifest, yang menjadi bukti surat bagi terdakwa Albert.

“Bagaimana mungkin saudara menerangkan soal jumlah pajak. Sementara, barang tidak diperlihatkan,” ujar Leo.

ads

Sementara itu, Zudy, PH terdakwa menyebut saksi ahli menyatakan dan menjelaskan pasal 55 pada pertanyaan nomor 59.

“Tadi saudara ahli mengatakan dan menjelaskan pasal 55 KUHP. Sekarang saudara ahli mengatakan bukan kapasitas. Itu bagaimana, jangan anda ngarang,” ujar Fardy mencecar saksi Ahli.

Serangkaian sidang itu, kedua kuasa hukum terdakwa itu mematahkan bukti manifest yang dihadirkan JPU sebagai bukti untuk mendakwa Albert. Dimana pada sidang sebelumnya telah mematahkan kesaksian empat saksi.

“Sehingga, apa yang didakwa kepada klien kami semakin dekat dengan kata prematur. Jadi tidak layak dakwaan itu,” tambah Zudy.

Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi penyidik Bea Cukai Khalil Gibran Taufik. Khalil Gibran Taufik dicecar sejumlah pertanyaan seputar penangkapan, pemeriksaan kapal, pemblokiran rumah terdakwa Albert, pemeriksaan terhadap pengusaha Ardi yang disebutkan dalam BAP Albert.

“Apakah saudara pernah memeriksa saudara Ardi pengusaha yang disebutkan dalam BAP dan enam anak buah kapal lainnya? Lalu apa status saudara Ardi yang diduga pemilik barang,” cecar Zudy.

“Ya DPO (Ardi). Belum diperiksa. Tapi DPO sampai sekarang. Ya, DPO,” jawab Khalil Gibran Taufik.

Dalam fakta persidangan tersebut Khalil juga menyebut belum pernah memeriksa enam ABK karena melarikan diri.

Filemon kembali menegaskan pertanyaan seputar status pengusaha Ardi yang disebut-sebut oleh Khalil Gibran Taufik berstatus daftar pencarian orang (DPO).

“Sekali lagi sudah DPO ya?, ” tanya Leo. “Ya, sudah DPO,” sahut Khalil Gibran.

Menurut Leo, kliennya itu ditetapkan status jadi tersangka hingga kini terdakwa adalah korban dari kesalahan segala administrasi penyidikan ketika dilakukan.

Pasalnya mereka menilai bukti-bukti manifest juga tidak pernah memeriksa orang Singapura yang mengeluarkan manifest.

“Patut kami duga, manifest buatan semata yang tak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya. Karena di dalam sidang juga, tidak diperlihatkan. Ini bukti lemah sekali, seakan dipaksakan status klien kami,” ujar Leo Halawa.

Tak hanya itu, kedua saksi Burawi Hasyiem selaku nakhoda dan Irwan Arif Zainal selaku ABK juga tidak mengarah kepada kepada Albert.

“Jadi apa yang didakwa saudara JPU kepada klien kami (terdakwa) kabur semua. Kami yakin, majelis hakim punya pertimbangan adil dan arif bagi klien kami,” kata pria yang akrap disapa Leo itu, usai persidangan.

Usai mendengar keterangan para ahli hakim memutuskan menunda persidangan pada Kamis (4/11)dengan agenda pemeriksaan saksi A de Charge.

Dilanjutkan pemeriksaan saksi terdakwa Albert Johanes pada Senin 8 November 2021. Selanjutnya, pemeriksaan setempat (PS) atas seluruh barang dan kapal.

Terpisah, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Batam, Wahyu Octaviandi, saat dikonfirmasi menyebutkan untuk penilaian seorang ahli atau bukan itu wewenang dari majelis hakim.

“Silakan dituangkan dalam pembelaan ada prosedurnya. Itu hak PH silakan saja ajukan pembelaan,” singkat Wahyu kepada kepripedia, Selasa (2/11).

Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung



ads
Tetap terhubung dengan kami:
Baca Lainnya

Puskesmas Dan Dinkes Bintan Digeledah Kejaksaan

30 November 2021 - 18:30 WIB

Ilustrasi korupsi

Nama Kapolres Lingga Dicatut Penipu, Minta Uang ke Distributor Minyak

29 November 2021 - 19:06 WIB

Dugaan Korupsi di SMAN 1 Batam, Kejaksaan Periksa Puluhan Saksi

27 November 2021 - 19:24 WIB

Kepala Kejaksaan Negeri Batam Polin Octavianus Sitanggang

Kasus KDRT Pasutri di Batam Berujung Damai Berkat Restorative Justice

26 November 2021 - 21:48 WIB

Sudah 7 Kali Beraksi, Pelaku Hipnotis di Bintan Akhirnya Tertangkap

26 November 2021 - 16:31 WIB

Ilustrasi hipnotis

Pelajar di Batam Ditangkap, Akibat Penyelundupan PMI Ilegal

26 November 2021 - 13:45 WIB

Trending di Hukum Kriminal