Ratusan warga lokal dari Desa Pangke dan Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, akhirnya membatalkan rencana aksi unjuk rasa besar-besaran terhadap perusahaan migas multinasional, PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB).
Pembatalan ini menyusul dicapainya solusi inovatif yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karimun untuk mengakomodir tuntutan serapan tenaga kerja anak tempatan.
Bupati Karimun, Iskandarsyah, menyampaikan bahwa Pemkab berhasil menjembatani komunikasi antara pihak perusahaan raksasa asal Italia tersebut dengan aliansi pemuda lokal.
Solusi yang disepakati adalah pembentukan perusahaan man power (penyalur tenaga kerja) yang akan dikelola langsung oleh para pemuda setempat.
“Kami punya komitmen membantu masyarakat, menjembatani antara perusahaan dan aliansi pemuda. Hari ini kami sampaikan langsung, bahwa salah satu solusi dari petinggi perusahaan adalah dengan mendirikan man power,” ungkap Bupati Iskandarsyah di hadapan ratusan pemuda, Kamis (16/10/2025).
Perusahaan man power ini nantinya akan dibentuk oleh pemuda dari dua desa, Pangke dan Pangke Barat, dan berfungsi sebagai Subkontraktor resmi yang menyuplai tenaga kerja lokal ke dalam proyek-proyek PT Saipem.
“Man Power ini yang kita lagi rancang. Diberi kesempatan untuk menyuplai tenaga kerja, artinya ada perusahaan Subcon yang dibentuk oleh pemuda di dua desa ini,” jelasnya lebih lanjut.
Janji Peningkatan Skill dan Peluang 490 Pekerja
Selain memastikan jalur resmi penyerapan tenaga kerja, Bupati juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM lokal.
Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Saipem akan diarahkan untuk mendukung pelatihan peningkatan skill.
“Anak-anak kita juga bisa punya skill untuk mengisi pasar kerja di perusahaan. Makanya kami ingin banyak proyek di PT Saipem, maka akan semakin banyak kesempatan untuk anak-anak kita,” tambahnya optimistis.
Saat ini, dari total 5.100 pekerja di PT Saipem, 67 persen di antaranya sudah merupakan warga Karimun. Khusus dari Desa Pangke dan Pangke Barat, sudah tercatat 371 orang yang bekerja di sana.
Koordinator lapangan pemuda, Izwan, mengapresiasi langkah cepat Pemda, mengakui bahwa sulitnya komunikasi langsung dengan perusahaan menjadi pemicu utama gejolak.
“Permintaan kami tidak lebih, adik, kawan-kawan kami bekerja. Yang sudah bekerja tetap terus bekerja,” ujar Izwan, seraya menyebutkan bahwa masih ada sekitar 490 orang warga lokal dari dua desa tersebut yang sangat memerlukan lapangan pekerjaan.
Dengan solusi pembentukan perusahaan man power ini, diharapkan 490 warga Pangke dan Pangke Barat tersebut akan mendapatkan peluang kerja yang lebih terstruktur di masa mendatang.