Natuna – Laut Natuna Utara yang biru menyambut perjalanan panjang Bupati Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Cen Sui Lan. Setelah menempuh 2,5 jam gelombang laut, ia akhirnya tiba di Pulau Midai, Senin, 24 November 2025.
Di pelabuhan Midai, bukan hanya debur ombak yang menyambut, melainkan juga ribuan pasang mata penuh harap dari warga yang telah memadati jalanan sejak pagi.
Kedatangan Cen Sui Lan, yang didampingi Wakil Bupati Natuna Jarmin Sidik, bagai oase di tengah keterpencilan pulau kecil di perbatasan ini. Sambutan hangat mereka bukan sekadar formalitas, melainkan cermin dari rindu akan perhatian dan harapan akan perubahan.
Tidak lama setelah mendarat, rombongan langsung menuju Gedung Serbaguna Kantor Camat Midai. Di sana, Cen Sui Lan menyapa warga dengan penuh keakraban dan segera menyalurkan berbagai bantuan sosial yang sangat dibutuhkan.
Bantuan itu berupa paket nutrisi, kursi roda, walker, tongkat, hingga alat pemadam kebakaran portabel dan satu set Alat Pelindung Diri (APD) untuk petugas damkar. Sepuluh alat bantu jalan tersebut merupakan jawaban atas usulan warga yang disalurkan melalui dinas terkait.
Namun, yang paling menyedot perhatian adalah program pasar murah. Cen Sui Lang menghadirkan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, tepung, dan telur dengan harga yang jauh lebih murah, hingga selisih Rp4.000 per komoditi.
Ribuan warga pun memadati lokasi, antre dengan semangat mendapatkan barang-barang kebutuhan yang harganya kerap tak stabil di pulau mereka.
“Pasar murah ini sangat membantu kami,” ujar Rina (55), seorang warga Midai, dengan wajah berbinar.
Jeritan Hati di Pulau Terpencil
Di balik antusiasme itu, tersimpan keluhan yang telah lama membebani hidup warga Midai. Rina bercerita, harga kebutuhan pokok di pulau itu sangat bergantung pada kedatangan kapal. Sayangnya, kapal Pelni dan kapal roro seringkali gagal merapat ke Midai karena cuaca buruk.
“Kalau cuaca buruk, kapal Pelni dan Roro tidak merapat. Kapalnya cuma lewat di Matak. Kami berharap ke depan pemerintah dapat membangun sarana pelabuhan Roro untuk Midai,” harapnya dengan suara lirih, menggambarkan betapa vitalnya akses transportasi laut yang layak bagi kehidupan ekonomi mereka.
Merespons langsung keluhan dan harapan warga, Cen Sui Lan menegaskan komitmennya. Ia tidak hanya berhenti pada bantuan sesaat. Bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah, ia berjanji mendorong percepatan pembangunan dengan fokus pada kebutuhan dasar: pangan, kesehatan, pendidikan, dan penguatan ekonomi.
Salah satu respons konkretnya adalah menganggarkan dana sebesar Rp200 juta untuk merevitalisasi pasar Midai.
“Tadi ada usulan soal perbaikan pasar. Kita anggarkan Rp200 juta untuk revitalisasi agar pasar bisa kembali menjadi pusat perekonomian,” tegasnya.
Ia juga membawa kabar gembira soal kesiapan penanggulangan kebakaran. “Kami membawa bantuan damkar untuk Midai. Tahun depan, kita upayakan satu unit mobil pemadam. Tentu kita tidak berharap ada kejadian, tapi kesiapan itu penting,” ujarnya.
Cen Sui Lan juga mendorong dunia perbankan untuk turut menopang perekonomian masyarakat Midai.
Ia menutup kunjungannya dengan penuh optimisme, “Ke depan, program yang kita bawa adalah program pro-rakyat. Semoga tahun depan anggaran lebih longgar. Kita sama-sama berdoa agar Natuna dan Midai jauh lebih baik.”
Kunjungan singkat itu mungkin telah usai, namun harapan baru telah ditaburkan di Pulau Midai. Sebuah harapan bahwa pulau terdepan ini tak akan lagi hanya menjadi nama di peta, tetapi menjadi rumah yang sejahtera bagi warganya.