Sejarah Pulau Penyengat sebagai Pusat Lahirnya Bahasa Indonesia di Kompas TV

TANJUNGPINANG – Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV dengan tajuk “Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu”, Sabtu (4/7/2026).

Dalam kesempatan itu, Ansar mengulas sejarah panjang Pulau Penyengat. Ia menyebut pulau itu bukan sekadar destinasi wisata. Pulau itu adalah pusat peradaban Melayu dan salah satu tonggak lahirnya Bahasa Indonesia.

ADVERTISEMENT

“Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dahulu pulau ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Wilayahnya mencakup Riau, Lingga, Johor, Pahang, hingga Singapura. Dari pulau kecil ini lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu dan perkembangan bahasa Indonesia,” ujar Ansar.

Ansar menuturkan asal-usul nama Pulau Penyengat. Konon, pulau itu dulu tempat persinggahan nelayan dan pelaut untuk mengambil air bersih. Suatu ketika, mereka diserang kawanan lebah atau serangga yang menyengat. Sejak itu, pulau itu disebut Pulau Penyengat.

Dalam memori kolektif masyarakat Melayu, pulau itu juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin. Itu karena pulau dipercaya sebagai mas kawin Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah.

“Sejak saat itu Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga. Hingga hari ini, kita masih bisa menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang terus kita lestarikan,” jelasnya.

Ansar mengatakan, ada sedikitnya 46 situs cagar budaya di Pulau Penyengat. Salah satu yang paling ikonik adalah Masjid Sultan Riau. Masjid itu dibangun dengan campuran pasir, kapur, dan putih telur sebagai perekat.

“Masjid Sultan Riau menjadi simbol kejayaan peradaban Melayu. Bangunan ini tetap kokoh berdiri dan jadi bukti kecerdasan arsitektur masyarakat Melayu pada zamannya,” kata Ansar.

Ansar menegaskan, Pulau Penyengat punya peran penting dalam perkembangan Bahasa Indonesia. Pulau ini bahkan dijuluki Pulau Penyair karena tradisi literasi yang kuat sejak abad ke-19.

ADVERTISEMENT

“Di Pulau Penyengat sudah berdiri percetakan sejak tahun 1886. Tradisi menulis berkembang pesat. Para bangsawan, ulama, hingga kaum perempuan aktif menulis dan menghasilkan ratusan manuskrip,” ungkapnya.

Tokoh terbesar dari Pulau Penyengat adalah Raja Ali Haji. Ia telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Karya monumentalnya antara lain *Gurindam Dua Belas*, *Kitab Pengetahuan Bahasa* (kamus bahasa Melayu modern pertama), dan *Tuhfat al-Nafis*. Raja Ali Haji memberi kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia.

“Bahasa Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan. Sifatnya terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu,” jelas Ansar.

ADVERTISEMENT

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berkomitmen melestarikan sejarah itu. Ansar mengatakan, saat ini pemerintah sedang membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat di atas lahan seluas sekitar dua hektare.

Monumen itu bertujuan menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah perkembangan Bahasa Indonesia. Selain itu, sebagai sarana edukasi, literasi, dan penguatan wawasan kebangsaan.

“Monumen Bahasa Nasional ini diharapkan jadi media pembelajaran yang representatif tentang sejarah perkembangan Bahasa Indonesia. Sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya bertaraf nasional,” ujar Ansar.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, pembangunan kawasan itu juga memberi dampak ekonomi besar bagi masyarakat. Sektor pariwisata meningkat, UMKM berkembang, dan fiskal daerah khususnya Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepulauan Riau semakin kuat.

Ansar berharap Monumen Bahasa Nasional menjadi warisan budaya dan intelektual bagi generasi mendatang. Ia juga berharap monumen itu menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga Bahasa Indonesia sebagai identitas dan jati diri bangsa.

“Kita ingin Pulau Penyengat tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran yang terus hidup. Di sinilah identitas budaya Melayu, sejarah bangsa, dan lahirnya Bahasa Indonesia bisa dipelajari oleh generasi sekarang dan yang akan datang,” tutup Ansar.


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article
advertisement