Lingga – Mantan Bupati Lingga sekaligus tokoh senior politik di daerah itu, Alias Wello, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Lingga saat ini.
Menurutnya, pemerintah daerah tak lagi bekerja dengan visi yang jelas untuk kemajuan, melainkan lebih bersifat “misioner” yang dimaknai sebagai upaya mempertahankan kekuasaan dengan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok.
Pernyataan itu disampaikan pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Lingga pertama di masa awal berdirinya kabupaten tersebut secara definitif.
Di usianya yang kini cukup sepuh di antara para tokoh politik Lingga, ia mengaku tetap memaksakan diri hadir dalam sejumlah pertemuan dan gencar mengkritisi kebijakan pemerintah, di tengah kesibukannya mengurus bisnis pribadi.
Kekhawatiran terbaru Alias Wello menyangkut nasib lahan pertanian warga yang digarap turun-temurun, namun kini diklaim dikuasai oleh perusahaan perkebunan sawit yang dikuasai pemodal asing. Ia menyebut praktik itu sebagai bentuk perampasan, bahkan perusakan lingkungan.
“Hutan-hutan dan flora fauna asli Lingga sudah luluh lantah. Ancaman banjir dan kekeringan kini jadi pemandangan biasa bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menyayangkan kondisi Kabupaten Lingga, khususnya di kawasan ibu kota yang dikenal dengan sebutan “Bunda Tanah Melayu”. Menurutnya, daerah itu justru dijajah oleh pihak asing dan tak berpihak pada rakyat.
Alias Wello juga menuding Pemerintah Kabupaten Lingga tutup mata terhadap persoalan tersebut. Ia menyebut aparatur pemerintah, mulai dari kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), oknum pegawai, hingga kepala daerah dan sejumlah politisi lokal, justru terlibat aktif di balik cukong-cukong lahan.
“Ini bukan rahasia umum. Ada kepala OPD, ada oknum yang ikut bermain. Bahkan kepala daerah dan politisi lokal juga terlibat di belakang cukong-cukong lahan ini,” tegasnya.
Untuk itu, ia mengajak masyarakat dan mendesak DPRD Kabupaten Lingga segera membentuk Panitia Khusus (Pansus) guna mengatasi persoalan tersebut. Jika tak segera dibentuk, ia mencurigai ada oknum di DPRD yang juga bagian dari permainan itu.
“Kita ingin bukti, bukan hanya seremonial. Insyaallah, saya akan terus berjuang di barisan rakyat,” pungkasnya.