Tanjungpinang – Bagi penggemar kuliner Nusantara, khususnya cita rasa khas Sulawesi Selatan, kini tak perlu jauh-jauh terbang ke Makassar. Di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, sebuah tempat penjualan makan sederhana bernama Dapur3 Sejawat hadir menyajikan aneka hidangan otentik Bugis-Makassar, termasuk camilan legendaris seperti Es Pisang Hojo atau Hijau atau Unti Moncongbulo.
Sejak berdiri pada awal 2024, Dapur3 Sejawat dengan cepat menjadi destinasi bagi mereka yang rindu pada rasa rumah maupun penasaran dengan kekayaan kuliner timur Indonesia. Tempat ini tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjadi ruang kecil yang memperkenalkan warisan rasa dari tanah Bugis.
Es Pisang Ijo: Sepotong Makassar yang Menyegarkan
Siapa yang tidak kenal dengan Es Pisang Hojo atau Ijo/hijau ? Camilan segar ini seolah jadi penolong di siang yang terik.
Penampilannya langsung menarik perhatian: balutan kulit hijau pandan yang mencolok, pisang matang yang lembut di dalamnya, disiram saus santan gurih (bubur sumsum) dan sirup merah yang manis. Perpaduan rasa dan teksturnya—lembut, kenyal, gurih, dan manis—menciptakan sensasi yang sulit dilupakan.
Meskipun kini mudah ditemui di berbagai kota, Es Pisang Ijo adalah ikon kuliner asli Makassar, Sulawesi Selatan.
Proses pembuatannya mengandalkan kesederhanaan bahan alami. Pisang raja atau kepok matang dibalut dengan adonan dari tepung beras, santan, dan air daun pandan atau suji yang memberi warna hijau alami serta aroma khas. Setelah dikukus, sajian ini disempurnakan dengan es serut, menjadikannya hidangan penyelamat dari cuaca panas.
Di Dapur3 Sejawat, Es Pisang Ijo disajikan dengan resep yang dipertahankan keasliannya, memberikan pengalaman menyantap yang autentik layaknya di rumah-rumah masyarakat Bugis.
Dari Unti Hingga Hidangan Berat: Menjelajahi Ragam Rasa Bugis
Tak hanya Es Pisang Ijo atau Unti Moncongbulo, makanan khas Makassar lainnya yang tak kalah unik. Unti adalah olahan kelapa parut yang dicampur gula merah dan dibungkus daun kelapa muda (janur), berbentuk seperti cerutu.
Rasanya manis gurih legit dan sering dijadikan teman minum teh atau kopi. Kehadiran Unti di Tanjungpinang adalah bukti bahwa kuliner tradisional dapat menemukan penggemarnya di mana saja.
Diperkaya dengan beragam hidangan berat asli Bugis lainnya, menjadikannya seperti portal kecil ke Sulawesi Selatan. Setiap piring yang disajikan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga cerita dan warisan budaya yang dipertahankan.
Lebih Dari Sekadar Makanan: Melestarikan Warisan di Perantauan
Keberadaan tempat makanan khas di Tanjungpinang memiliki nilai lebih. Bagi warga perantauan asal Sulsel, ini adalah penghubung rasa rindu pada kampung halaman. Bagi masyarakat lokal dan wisatawan, ini adalah kesempatan untuk melakukan petualangan kuliner dan mengenal budaya Bugis-Makassar lebih dekat.
“Kami ingin siapa pun yang datang bisa merasakan kehangatan dan keramahan lewat makanan, seperti filosofi masyarakat Bugis-Makassar yang terkenal hospitality-nya.”
Mengapa Kuliner Tradisional Tetap Relevan?
Es Pisang Ijo, Unti, atau hijau dan hidangan khas lainnya bertahan bukan tanpa alasan. Mereka menawarkan:
1. Rasa yang Autentik dan Nostalgik.
2. Bahan-bahan Alami yang familiar dan diolah dengan cara tradisional.
3. Nilai Kebersamaan, karena sering disajikan dalam acara keluarga atau jamuan.
4. Identitas Budaya yang kuat, di mana setiap gigitan membawa cerita daerah asalnya.
Dapur3 Sejawat, dengan komitmen menyajikan kuliner asli Bugis, telah menjadi bukti bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat, bahkan di kota yang jauh dari daerah asalnya.
Bagi Anda di Tanjungpinang yang ingin mencicipi seporsi Es Pisang Ijo yang menyegarkan atau mencoba kelezatan manis Unti Moncongbulo, beberapa tempat makanan siap menyambut. Di sini, setiap suapan adalah cerita, dan setiap rasa adalah pengalaman menjelajahi kekayaan kuliner Indonesia.
