LINGGA – Sungai Buloh, sebuah desa kecil di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, menyimpan kisah menarik yang jarang diketahui publik.
Kampung yang berada di bagian barat Pulau Singkep ini merupakan tempat kelahiran Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad.
Desa Sungai Buloh dikenal sebagai salah satu pintu masuk perekonomian di Pulau Singkep. Keberadaan pelabuhan rakyat di desa ini menjadi jalur utama keluar masuk kapal pengangkut sembako, hasil laut, serta menjadi dermaga sandar SPBB BBM. Aktivitas pelabuhan tersebut turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat pesisir Singkep Barat.
Dari kampung kecil inilah lahir sosok Amsakar Achmad, yang kemudian mencatatkan sejarah sebagai Wali Kota Batam dan Kepala BP Batam. Batam sendiri merupakan kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau dan dikenal sebagai pusat industri serta pariwisata yang namanya telah mendunia.
Menariknya, nama Sungai Buloh tidak hanya ada di Pulau Singkep. Di negara tetangga Singapura, terdapat kawasan bernama Sungei Buloh, yang ejaannya sedikit berbeda namun memiliki pengucapan yang hampir sama.
Sungei Buloh di Singapura dikenal sebagai kawasan cagar alam lahan basah yang terletak di wilayah barat laut negara tersebut.
Sungei Buloh Wetland Reserve merupakan cagar alam lahan basah pertama yang ditetapkan di Singapura pada tahun 2002. Kawasan ini memiliki peran penting secara global sebagai tempat persinggahan burung-burung migrasi dan telah diakui dengan masuknya ke dalam Jaringan Situs Burung Pantai Asia Timur–Australasia. Pada tahun 2023, kawasan ini juga ditetapkan sebagai
Taman Warisan ASEAN
Cagar alam Sungei Buloh memiliki luas sekitar 130 hektare dan menjadi rumah bagi sekitar 500 spesies flora dan fauna tropis. Kawasan ini mencakup hutan bakau, dataran lumpur, kolam, serta kawasan hutan yang masih alami.
Pengunjung dapat mengamati satwa liar di habitat aslinya melalui anjungan pengamatan yang tersedia di berbagai titik.
Sejak dibuka pada tahun 1993, Sungei Buloh Wetland Reserve aktif mengembangkan program pendidikan lingkungan.
Berbagai program edukasi disediakan, mulai dari program SUN Club untuk siswa berkebutuhan khusus, program bimbingan siswa sekolah menengah, hingga Program Naturalis Muda. Program-program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk British Council dan Kementerian Pendidikan Singapura.
Setiap tahunnya, cagar alam ini menerima lebih dari 400 kunjungan sekolah terorganisir. Pendekatan pendidikan yang mengajak generasi muda belajar langsung di alam terbuka menjadi bukti keseriusan Singapura dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Kesamaan nama antara Sungai Buloh di Pulau Singkep dan Sungei Buloh di Singapura menjadi sebuah keunikan tersendiri. Dua wilayah dengan karakter berbeda, namun sama-sama memiliki nilai historis, ekologis, dan peran penting bagi lingkungannya masing-masing.