KONTEN PENGGUNA

Kabar dari Singapura: Ada Dolar di Batang Mangrove!

Konten ini adalah karya pembaca yang tidak mewakili pandangan dari redaksi kepripedia

Ady Indra Pawennari Foto

Oleh:
Ady Indra Pawennari

Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

Waktu boleh saja bergulir, namun ikatan yang lahir dari peluh masa lalu tidak akan pernah luntur. Tepat ketika jarum jam tangan saya menunjukkan pukul 08.45 WIB, sebuah getar di ponsel membawa nama yang seketika memutar kembali memori lama: Greos Sumartana Saragih. Ia adalah sahabat karib, saudara seperjuangan kala kami masih sama-sama menjadi kuli tinta di Harian Sijori Mandiri pada tahun 2001 silam.

Pesan singkatnya sarat akan kerinduan. Greos mengabari bahwa ia sedang berada di atas kapal, membelah ombak dari Pelabuhan Telaga Punggur, Kota Batam, menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjungpinang. Tujuannya hanya satu: ia ingin menemui saya, melepas rindu yang tertahan, sembari meminta ditemani melihat kebun mangrove yang bertahun-tahun ini saya rawat di Sei Tiram, Desa Penaga, Bintan.

ADVERTISEMENT

Tanpa berpikir panjang, ikatan batin seorang sahabat langsung menggerakkan jemari saya untuk mengirimkan lokasi Kopitiam Aroma. Di sana, saya sedang menikmati pagi bersama Suyono Saeran, Tim Khusus Gubernur Kepri.

Tak lama berselang, lingkaran hangat itu meluas dengan kehadiran Amril Agin (Sekjen KJK), Ambok Akok (CEO radarsatu.com), Ridarman Bay (Pemred infoluarbiasa.net), dan Henky Mohari, anggota KPU Kota Tanjungpinang yang juga mantan wartawan LKBN Antara. Terakhir, ikut bergabung Sekda Kota Tanjungpinang, Zulhidayat.

Di tengah riuhnya diskusi kami mengenai persiapan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), sesosok pria dengan tas ransel di punggungnya muncul di depan kami. Eeh Greos.

Seketika, sudut kedai kopi itu berubah menjadi panggung reuni yang emosional. Kami kembali ke awal tahun 2000-an. Kami mengenang lagi masa-masa ketika kulit kami legam terbakar matahari dan tubuh kami menggigil dihantam angin malam demi sebuah berita.

Persahabatan yang ditempa oleh kerasnya kehidupan lapangan membuat tawa kami pecah, begitu hangat hingga kami sempat lupa waktu dan melupakan rencana awal untuk bertolak ke Sei Tiram.

Setelah cangkir-cangkir kopi mengering dan makanan terlunasi, saya dan Greos akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Di dalam mobil, di sela-sela deru mesin, Greos membuka percakapan dengan mata yang berbinar penuh antusias. Ia membawa sebuah kabar yang bukan main-main.

“Saya langsung teringat abang punya kebun mangrove yang luas di Bintan. Makanya, saya langsung ke sini,” ucapnya menatap saya.

ADVERTISEMENT

Greos bercerita bahwa ia baru saja mendapatkan komitmen pesanan siput isap dari pasar Singapura dalam jumlah yang luar biasa besar. Permintaan di sana sangat tinggi, dan ingatan pertamanya langsung tertuju pada ladang mangrove milik sahabat lamanya.

Mendengar penuturannya, ingatan saya justru melayang ke belakang, pada 16 tahun yang lalu. Lahan seluas 100 hektar di Sei Tiram itu dulunya adalah tanah mati—kawasan kritis pasca-tambak udang yang gersang dan ditinggalkan begitu saja.

Tergerak oleh rasa cinta pada bumi, saya merawatnya, menanam bibit mangrove satu demi satu dengan peluh dan konsistensi. Siapa yang menyangka, niat tulus yang dulunya murni untuk memulihkan ekosistem pesisir dan mencegah abrasi, kini justru bertransformasi menjadi jalan pembuka rezeki berkat kejelian seorang sahabat.

ADVERTISEMENT

Setibanya di lokasi, alam seolah menyambut kedatangan kami dengan senyuman terbaiknya. Begitu turun dari mobil, mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa menggembirakan. Gerombolan siput isap (Cerithidea obtusa) tampak berjejer rapat, bergantung di batang-batang mangrove dan tiang kayu di tepi sungai.

Satu batang pohon bisa dihinggapi lebih dari 20 ekor siput dengan ukuran komoditas ekspor yang sangat ideal. Biota pesisir ini memang menjadi primadona di Singapura.

Bukan sekadar karena cita rasanya yang gurih khas masakan Melayu, melainkan karena kandungan gizinya yang luar biasa—tinggi protein hewani untuk pertumbuhan anak, kaya kalsium, serta sarat zat besi yang baik untuk ibu hamil.

ADVERTISEMENT

Melihat potensi yang menghampar di depan mata, kalkulator bisnis kami langsung bekerja. Logika kami membayangkan aliran dolar yang siap menjemput hasil kerja keras ini.

Jika satu batang mangrove dihuni 10 ekor siput saja, dikalikan dengan 500.000 batang pohon yang tumbuh subur di sana, maka ada sekitar 5 juta ekor siput isap yang siap diberangkatkan ke tanah seberang.

“Abang tahu berapa nilai ekonomi dari siput isap sebanyak ini kalau kita kirim ke Singapura?” tanya Greos, menatap saya dengan senyum penuh arti.

Sebelum saya sempat menebak, ia menyodorkan layar ponselnya. Di sana tertera angka estimasi yang membuat dada kami berdesir: Rp2 miliar rupiah!

Kabar itu terasa begitu menyejukkan, mengalir bersama angin sepoi-sepoi di bawah rimbunnya dedaunan mangrove. Kami saling tatap. Di dalam keheningan hutan mangrove itu, ada rasa haru yang membuncah.

Ini bukan lagi sekadar perkara bisnis atau angka-angka di atas kertas. Ini adalah buah dari kesetaraan alam yang terjaga, dan pembuktian bahwa sahabat lama tidak pernah lupa jalan untuk saling membesarkan.

Sepanjang jalan pulang, senyum tidak lepas dari wajah kami. Kami berdua tertawa membayangkan betapa hebohnya Suyono, Amril, Ridarman, Henky, dan Akok jika mendengar kabar bahagia bernilai miliaran ini.

Sayangnya, setibanya kami kembali di Kopitiam Aroma, teman-teman jurnalis kami telah membubarkan diri karena tugas masing-masing. Namun kami tidak berkecil hati. Kabar sehangat ini, sama seperti esensi persahabatan kami yang tak lekang oleh waktu, jelas tidak akan bisa tertahan lama untuk segera kami bagikan kepada mereka.


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article