Karimun – PT PLN Indonesia Power (IP) UBP Kepulauan Riau Unit Pembangkitan (UP) PLTU Tanjung Balai Karimun menepis isu miring terkait kelangkaan bahan bakar yang memicu pemadaman listrik di wilayah Kabupaten Karimun.
Manajemen memastikan bahwa stok batu bara saat ini berada dalam posisi aman dan pasokannya terus mengalir tanpa henti.
Manager UP PLTU Karimun, Riki Aditiyawarman, menegaskan bahwa rumor mengenai menipisnya cadangan batu bara sama sekali tidak benar. Proses distribusi bahan bakar dari pusat pemasok berjalan sesuai jadwal demi menjaga stabilitas pembangkit.
“Stok batu bara kami pastikan aman. Saat ini, ada pengiriman 5.000 ton dari Palembang yang sedang dalam perjalanan. Jumlah tersebut sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 20 hari ke depan. Pengiriman ini dilakukan secara berkelanjutan, jadi tidak ada cerita stok putus,” ujar Riki, Rabu, 15 Juli 2026.
Baca Juga
Terkait pemadaman listrik yang belakangan ini dikeluhkan warga, Riki menjelaskan bahwa hal tersebut murni bagian dari strategi manajemen beban oleh ULP Tanjung Balai Karimun.
Memang sempat terjadi insiden teknis di mana Mesin Unit 1 mengalami trip (terhenti mendadak). Namun, tim teknis bergerak cepat sehingga mesin berhasil synchron kembali dan beroperasi penuh (full load) dalam waktu 1,5 jam.
Meski demikian, Riki tidak menampik bahwa kondisi infrastruktur kelistrikan di Karimun saat ini cukup riskan karena kapasitas mesin yang sangat pas-pasan dipaksa bekerja ekstra keras.
Suhu udara yang panas memicu lonjakan penggunaan listrik di masyarakat. Lalu, mesin PLTU Unit 2 sebenarnya sudah memasuki jadwal perawatan wajib (maintenance).
Namun, demi menjaga agar listrik warga tidak padam total, proses perawatan terpaksa ditunda.
Sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat sistem kelistrikan Karimun, sebuah proyek energi terbarukan berskala besar siap digulirkan.
PLTU Karimun mendapatkan lampu hijau untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bantuan dari pemerintah pusat.
Proyek ini memiliki kapasitas 2,6 Megawatt dengan target operasional di akhir tahun 2026. Fungsi utama menopang beban puncak malam hari pukul 18.00 WIB.
Sistem kerja PLTS ini akan mengandalkan teknologi penyimpanan energi canggih. Pada siang hari, panel surya akan menyerap energi matahari secara maksimal dan menyimpannya ke dalam sistem baterai raksasa.
“Energi yang disimpan saat siang hari itulah yang akan dialirkan pada malam hari. Ini taktik kami untuk membantu mencukupi kebutuhan listrik masyarakat saat beban puncak sedang tinggi-tingginya,” pungkas Riki optimistis.
Dengan hadirnya PLTS baru ini pada akhir 2026, masyarakat Karimun diharapkan dapat segera terbebas dari bayang-bayang pemadaman bergilir.
