Bupati Karimun Turun Langsung ke Pasar Murah, Warga Sei Lakam: “Jangan Hanya Saat Imlek dan Ramadhan!

KARIMUN – Di tengah hiruk-pikuk harga bahan pokok yang mulai merangkak naik, kehadiran Bazar Pangan Murah di halaman Kantor Lurah Sei Lakam, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Kamis, 12 Februari 2026 menjadi oase bagi warga Karimun Timur.

Bukan sekadar pasar biasa, kegiatan ini langsung dipantau Bupati Karimun Iskandarsyah, didampingi Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole serta anggota DPRD Karimun Muhammad Firdaus.

ADVERTISEMENT

Saat tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan pejabat daerah itu langsung disambut antrean warga yang sejak pagi sudah memadati area bazar. Mereka tak sekadar melepas seremoni.
Bupati Iskandarsyah terlihat menyapa satu per satu warga yang tengah mengantre membeli beras SPHP dan Minyakita—dua komoditas andalan yang dijual jauh di bawah harga pasar.

“Ini bentuk kehadiran pemerintah. Kami tahu masyarakat mulai resah dengan harga, apalagi menjelang Imlek dan Ramadhan. Makanya kami pastikan langsung bahwa stok ada, harga terjangkau, dan distribusi tepat sasaran,” ujar Iskandarsyah di sela kunjungan.

1.000 Kilogram Beras dan 30 Dus Minyakita, Langsung Ludes

Bazar yang digelar oleh Perum Bulog Cabang Batam bersama Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Karimun ini menyiapkan 1.000 kilogram beras SPHP dan 30 dus Minyakita. Dalam hitungan jam, sebagian besar komoditas itu berpindah ke tangan ibu-ibu rumah tangga yang datang membawa tas kresek dan keranjang belanja.

Guido XL Pereira, Pimpinan Cabang Perum Bulog Batam, yang akrab disapa Kaka Bos, turun langsung memantau jalannya bazar. Ia mengaku takjub dengan antusiasme warga.

“Kami sengaja hadirkan beras SPHP yang harganya distabilkan negara. Ini bukan beras komersial biasa. Tujuannya jelas: membantu masyarakat yang paling membutuhkan di saat harga pasar mulai fluktuatif,” jelas Guido.

Ia menambahkan, Bulog Batam akan terus memperluas jangkauan bazar murah, terutama ke wilayah-wilayah yang selama ini belum tersentuh.

ADVERTISEMENT

“Kalau Bisa Setiap Hari, Bu…”

Pernyataan paling menyentak justru datang dari sudut antrean. Seorang ibu paruh baya warga Sei Lakam, sambil menggenggam erat kantong beras, melontarkan harapan polos yang menggema di tengah kerumunan.

“Harga di sini beda jauh dengan di pasar. Kalau bisa setiap hari, Bu, jangan hanya pas mau Lebaran atau Imlek saja,” katanya lirih.

ADVERTISEMENT

Harapan serupa juga disuarakan warga lainnya. Seorang pria yang baru saja membeli Minyakita mengaku sengaja datang sejak subuh. “Biar jauh, tapi hemat. Dari pada beli di toko yang harganya sudah naik,” tuturnya.

Warga tak hanya menginginkan harga murah. Mereka ingin keberpihakan negara hadir secara terus-menerus, bukan musiman.

Bukan Sekadar Jualan Murah, Tapi Menjaga Daya Beli

ADVERTISEMENT

Bagi Muhammad Firdaus, anggota DPRD Karimun yang ikut turun ke lokasi, kehadiran legislatif dalam kegiatan ini adalah bentuk pengawasan sekaligus penyerapan aspirasi.

“Saya menangkap langsung keinginan masyarakat. Ini PR kita bersama. Tidak bisa hanya mengandalkan Bulog atau pemerintah daerah sendiri. Harus ada skema regulasi agar pasar murah bisa rutin dilaksanakan,” kata Firdaus.

Sementara Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole menyebut bazar ini sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah. “Kalau harga pangan stabil, daya beli terjaga. Ekonomi lokal ikut bergerak. Ini efek domino yang nyata,” ujarnya.

Sinergi yang Diuji Momentum

Bazar Pangan Murah dalam rangka Imlek atau HBKN Chinese New Year 2026 dan Ramadhan 1447 H ini memang dirancang sebagai respons cepat terhadap potensi lonjakan harga. Namun masyarakat sepertinya tak ingin cepat-cepat dilupakan setelah momen berlalu.

Guido menegaskan komitmen Bulog untuk terus bersinergi. “Kami tidak akan bekerja sendiri. Sinergi dengan Pemkab Karimun dan BI akan terus kami perkuat. Kami siap kapan pun diminta hadir,” tegasnya.

Bupati Iskandarsyah pun tak menutup mata. Ia berjanji akan mengevaluasi efektivitas kegiatan ini dan mendorong agar bazar pangan murah tidak sekadar menjadi agenda musiman.

“Tadi saya dengar sendiri warga bilang: jangan setahun sekali. Ini cambuk buat kami. Maka, ke depan kita akan cari pola yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

Di luar gerbang bazar, puluhan warga masih lalu lalang membawa belanjaan. Beberapa dari mereka tersenyum tipis. Di tangan mereka, bukan sekadar beras atau minyak goreng. Ada harapan yang ikut terbungkus rapi—bahwa kehadiran negara bisa dirasakan kapan saja, bukan hanya saat hari besar tiba. (Defran)


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article