Beberapa hari terakhir, sejak memutuskan kembali aktif menggoreskan pena, ada satu orang yang mendadak menjelma menjadi sosok paling menyebalkan sekaligus paling saya cari. Dialah kritikus nomor satu saya saat ini.
Seseorang yang setelah saya amati, ternyata di dalam dadanya masih bersemayam dengan angkuh jiwa seorang redaktur media massa masa lalu—lengkap dengan segala kecerewetan absolut dan ketelitian yang bikin geleng-geleng kepala.
“Ini kurang dalam! Nah, yang ini justru berlebihan, pangkas! Terlalu lebay, terlalu emosional. Karakter personalnya gak dapat. Malas bacanya!”
Kalimat-kalimat bernada perintah itu selalu saja mampir tanpa permisi setiap kali dia membaca tulisan saya. Di matanya, tulisan saya seperti draf amatir yang penuh cacat. Ada saja celah yang dia temukan, lalu dia dikte untuk diubah sesuai maunya.
Padahal, statusnya kini bukan lagi redaktur yang berhak membuang draf wartawan ke keranjang sampah. Dia bertindak seolah-olah ruang kerja kami masih sama seperti dulu, di mana dialah sang penguasa teks.
Namun, harus saya akui dengan jantan, setelah merenungkan setiap coretan koreksinya di selembar kertas putih yang dikirim lewat tangkapan layar (screenshot), pilihannya atas diksi dan presisinya membaca arah tulisan memang bajingan. Sialan, dia hampir selalu benar. Saya dipaksa tunduk pada seleranya yang tinggi.
Sosok bertangan dingin dan bermulut tajam itu adalah Ummil Khalis. Hari ini, publik mengenalnya sebagai seorang abdi negara, pejabat setingkat Kepala Bidang di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Namun bagi saya, dia adalah rekan satu takdir di masa lalu yang tak pernah kehilangan taringnya. Kami pernah bernaung di bawah atap perusahaan pers yang sama.
Polanya klasik dan baku: saya berdiri di lapangan sebagai wartawan yang memburu berita, dan dia duduk dengan anggun di balik meja sebagai redaktur yang siap menyunting sekaligus mendikte isi kepala saya.
Secara hitungan umur dan jam terbang di dunia kewartawanan, saya jelas lebih senior. Saya lebih dulu mencicipi asam garam jalanan dibanding dirinya. Namun di depan meja redaksinya, hierarki umur itu runtuh seketika.
Keahlian Ummil dalam mendikte sudut pandang berita, serta ketajaman instingnya dalam mengendus isu, benar-benar tidak bisa dibantah. Di depannya, tulisan yang sudah saya elus-elus dan saya anggap sesempurna karya pujangga, tetap saja terlihat lemah dan cacat. Dia selalu mendikte saya untuk membuang kata-kata yang dianggapnya hanya sekadar pamer ego.
Menariknya, perempuan yang juga istri dari sahabat karib saya, Alfian Zainal, ini adalah tipe kacang yang tak pernah lupa pada kulitnya. Di tengah gunungan kesibukannya mengurus birokrasi negara, dia selalu meluangkan waktu untuk sekadar hadir dan “menginterogasi” kami di meja kopi.
Tak peduli hanya dia sendiri perempuan di antara gerombolan wartawan laki-laki, mentalnya sudah sekuat baja. Pengalamannya sebagai penyiar radio dan presenter televisi tampaknya telah menempanya menjadi sosok yang dominan dan percaya diri.
Bahkan, dominasi insting redakturnya yang cepat juga menular ke tangannya saat kasir menyodorkan nota pembayaran. Dia selalu paling sigap mengamankan tagihan, seolah mendikte bahwa di meja itu, dialah yang memegang kendali finansial hari itu.
Jiwa kewartawanan Ummil memang seperti tato tak kasat mata—melekat permanen dan dominan. Ketika kami duduk melingkari meja kopi, meski rambut kami tak lagi sewarna dulu dan usia tak lagi muda, ego profesionalnya sebagai mantan redaktur kerap melompat keluar tanpa permisi. Dia selalu memosisikan diri sebagai hakim dan penjaga gawang tunggal kualitas teks saya.
Namun, ada satu hal yang membuat saya penasaran dan sering tersenyum sendiri. Saya tak tahu bagaimana dinamika di dalam rumah tangganya. Apakah di balik pintu rumah, Ummil masih segalak, secerewet, dan seotoriter itu saat menginterogasi suaminya?
Saya agak sangsi. Mengapa? Karena suaminya, Alfian, adalah mantan Redaktur Pelaksana di tempat kami dulu sama-sama bangga menyandang predikat kuli tinta. Hanya saja, ketika Alfian menduduki jabatan prestisius itu, saya sudah keluar dan menjadi Pemimpin Redaksi di media lain.
Menarik dibayangkan, bagaimana jadinya jika mantan Redaktur yang cerewet dan mantan Redaktur Pelaksana yang berkuasa saling mendikte di meja makan? Ah, biarlah itu jadi rahasia dapur mereka.
Yang pasti, bagi saya, kecerewetan dan sikap mendikte dari seorang Ummil Khalis adalah alarm terbaik. Dia adalah pengingat paling kejam sekaligus paling saya butuhkan, bahwa menulis adalah proses belajar yang tak akan pernah mengenal kata pensiun.
