KONTEN PENGGUNA

Gasing Ligat

Konten ini adalah karya pembaca yang tidak mewakili pandangan dari redaksi kepripedia

L.N. Firdaus Foto

Oleh:
L.N. Firdaus

Akademisi

Pandai main gasing?. Lilit tali dia pelan-pelan, lalu lecutkan- whuushh..! Kalau mulus, maka gasing yang melecut akan berdiri gagah, berputar ligat seolah ia tahu arah hidupnya.

Hari ini, gasing tak hanya ramai dimainkan orang kampung. Di antara sorak, tepuk tangan, dan bunyi gasing yang berdentang, muncul pertanyaan dalam hati: “Apa yang bisa kita pelajari dari gasing? Permainannya sederhana, namun sarat makna bagi yang suka memikirkannya. Bukan kemaruk main sampai tak sempat mikir apa yang dimainkan.

ADVERTISEMENT

Permainan gasing itu bukan individu. Selalu ada yang nolong lilit tali, yang jadi lawan berlatih, yang pekik-pekau memberi semangat, dan yang mengajarkan teknik dan kiat.

Begitu pula pembangunan. Tidak bisa hanya pemerintah yang bergerak. Orang tua, guru, komunitas, pengusaha, pemuda, semua punya peran. Daerah yang maju bukan hasil satu orang pintar dan cerdas, tapi ribuan orang yang bergerak serentak.

Dalam permainan gasing, curang itu memalukan. Budaya kita mengajarkan marwah; harga diri yang lahir dari kejujuran dan sikap hormat. Dan itulah kunci pembangunan jangka panjang. Bukan kecepatan, tetapi kepercayaan.
Ingat tak waktu kita kecil dulu. Berapa kali gasing terpelanting sebelum akhirnya bisa berdiri tegak seimbang? Madang. Dan kita kan tak menyerah. Salah lilit tali? Ulang balik. Tangan masih kaku? Latihan lagi. Jatuh berkali-kali? Malu mang, tapi tetap terkekeh-kekeh. Lepas tu coba lagi.

Perkara Memanusiakan Manusia serupa itu juga. Bukan soal cepat atau mewah, tapi mesti konsisten dan lama. Program apa pun yang diusung, anggaran sebesar apa pun, tidak akan berdampak tanpa integritas. Gasing mengajarkan: berdiri kokoh itu soal keseimbangan dan kejujuran.
Kemajuan Lingga bukan hanya soal seberapa cepat kita bergerak, ligat berputar macam Gasing, tapi seberapa dalam akar kita tertanam.

Mari belajar pada Gasing: istiqomah dalam perjuangan, adil dalam kebijakan, percaya pada potensi sendiri, bergerak bersama, dan jujur dalam langkah.

Dan siapa tahu kelak ketika orang bertanya: “Eh…Macam mana Lingga boleh bangkit?” Kita bisa tersenyum, sambil menjawab pelan: “Kami belajar dari gasing, tradisi kecil yang memutar harapan besar.”
Jadi, Pikir-pikir lah….


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article
advertisement