Menu

Mode Gelap

Warta · 29 Jul 2022 21:01 WIB ·

Gubernur Kepri Dinilai Tidak Hargai Tanjak Dalam Negeri


 Gubernur Kepri Ansar Ahmad di Pembukaan MTQ ke IX di Anambas. Foto: Dok Diskominfo Kepri. Perbesar

Gubernur Kepri Ansar Ahmad di Pembukaan MTQ ke IX di Anambas. Foto: Dok Diskominfo Kepri.

ADVERTISEMENT
advertisement

Terbitnya Surat Edaran Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) nomor 800/1735/BKD&KORPRI-SET/2022 tentang tertib pemakaian baju kurung melayu dan tanjak bagi pegawai di lingkungan Pemprov Kepri menuai polemik oleh sejumlah pegiat tanjak dan budayawan yang ada di Kepulauan Riau.

Pasalnya dalam kebijakan tersebut menetapkan standar tanjak yang bukan merupakan tanjak yang berasal dari Kepulauan Riau, sehingga dinilai tidak menghargai tanjak dalam negeri sendiri.

Ketua Ahlul Tanjak Nusantara mengatakan penggunaan tanjak Dendam Tak Sudah, merupakan bentuk keegoisan Gubernur terhadap tanjak hasil yang berasal dari negeri sendiri, khususnya dari daerah Kepulauan Riau, karena tanjak dengan motif Dendam Tak Sudah merupakan Tanjak yang digunakan oleh petinggi di Negeri Sembilan, Malaysia.

Apalagi menurutnya Tanjak Dendam Tak sudah di Negeri Sembilan, Malaysia tidak digunakan oleh sembarang orang, hanya kalangan tertentu yang menggunakan Tanjak Dendam Tak Sudah tersebut.

ADVERTISEMENT
advertisement

“Tanjak dendam tak sudah merupakan tanjak yang dipakai di Negeri Sembilan, Malaysia. Yang memakai tanjak dendam tak sudah adalah Yang Dipertuan Agung kesultanan Negeri Sembilan. Jadi, tanjak ini hanya boleh dipakai oleh para sultan, bukan untuk orang umum,” ujar Irwansyah Jumat (29/7).

Ketua Ahlul Tanjak Nusantara, Irwansyah. Foto: Dok Irwansyah

ADVERTISEMENT

Namun jika mengacu pada Negeri Sembilan menurutnya, tanjak yang umum digunakan oleh orang-orang adalah tanjak dengan jenis Solok Timbo atan Tanjak Kacang Dua Helai Daun.

Namun apapun jenis tanjak yang digunakan, meskipun sama-sama merupakan tanjak orang melayu, menurutnya alangkah baik jika menggunakan tanjak yang umum digunakan oleh masyarakat Kepulauan Riau, dan banyak di gunakan di Kepulauan Riau dengan memiliki filosofi yang sesuai dengan kondisi Kepulauan Riau.

“Yang jadi pokok permasalahan, padahal banyak tanjak-tanjak warisan Kepulauan Riau yang bisa digunakan. Misalnya, tanjak mahkota alam, bugis tak balik, nakhoda terong, dan semangat ugik. Itu merupakan tanjak-tanjak dengan ciri khas dan banyak dipakai di Kepulauan Riau,” jelas dia.

ADVERTISEMENT

Tanjak Bugis Tak Balek. Foto: Dok. Ahlul Tanjak Nusantara

Ditambah lagi banyak kalangan yang tidak dilibatkan dalam penetapan Tanjak tersebut, salah satunya Ahlul Tanjak Nusantara, sehingga pihaknya merasa sangat kecewa atas keputusan yang diambil tanpa melibatkan kalangan yang benar-benar menekuni dan memahami makna tanjak sebenarnya.

“Padahal, kita sudah dua kali menggelar kegiatan bengkel tanjak nusantara di kantor Gubernur Kepri. Janganlah sampai nilai sakral dari sebuah tanjak itu rusak karena ketidaktahuan. Jangan main ikut-ikutan. Padahal kalau tidak tahu, bisa bertanya,” tutupnya.

ADVERTISEMENT

Jenis Tanjak di Kepulauan Riau. Foto: Dok Ahlul Tanjak Nusantara

Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung
Artikel ini telah dibaca 272 kali

Penulis: | Editor: Redaksi


Tetap terhubung dengan kami:

ADVERTISEMENT
advertisement
advertisement
Baca Lainnya

28 Ekor Buaya Liar dari Lingga Diberangkatkan ke Kota Batam

13 Agustus 2022 - 07:22 WIB

Pertamina Pastikan Stok BBM di Kepri Cukup Tapi Antrean SPBU Mengular

12 Agustus 2022 - 19:13 WIB

6 Mobil Diperiksa Petugas Gabungan di Pelabuhan Roro Telaga Punggur

12 Agustus 2022 - 18:35 WIB

1.409 Kendaraan di Kepri Telah Terdaftar Program Subsidi Tepat

12 Agustus 2022 - 18:22 WIB

Lantik 5 Kades Terpilih, Bupati Karimun: Jangan Ada Perpecahan Membangun Desa

12 Agustus 2022 - 16:52 WIB

Ditemui Wabup, PSDKP Akan Bantu Tertibkan Kapal Nelayan Ganggu Ekonomi Nelayan Lingga

12 Agustus 2022 - 15:45 WIB

Trending di Warta
advertisement