Menu

Mode Gelap

Warta · 8 Feb 2022 20:15 WIB

Lewat Restorative Justice, Kasus KDRT Pasutri di Batam Ini Disetop


					Kepala Kejaksaan dan Kasi Pidum saat memberikan arahan ke pelaku KDRT, Senin (7/2). Foto: Zalfirega/kepripedia.com.
Perbesar

Kepala Kejaksaan dan Kasi Pidum saat memberikan arahan ke pelaku KDRT, Senin (7/2). Foto: Zalfirega/kepripedia.com.

Seorang pemuda bernama M. Riyadi alias Yadi (27) sempat dijadikan tersangka atas kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya yang terjadi sekitar dua bulan lalu.

Kasus ini pun bergulir hingga masuk pelimpahan kasus ke Kejaksaan Negeri Batam. Setelah proses yang sedemikian rupa, alhasil kasus ini berujung kesepakatan antara korban dan tersangka sepakat melakukan restorative justice. 

ADVERTISEMENT

“Korban pun akhirnya memaafkan perbuatan pelaku sehingga lewat restorative justice kasus diberhentikan dan dihadiri perangkat RT/RW,” ungkap Kepala Kejaksaan Negeri Batam, Polin Oktavianus Sitanggang, Senin (7/2) kemarin. 

Dia mengatakan, setelah melakukan pemeriksaan berkas perkara terhadap pelaku, pihaknya kemudian mengambil inisiatif dan memberikan arahan kepada pelaku.

“Sampai saat ini program restorative justive, masih tetap berlaku. Jadi dengan program ini kasus yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan, kita selesaikan secara kekeluargaan,” kata Polin.

“Melalui virtual disaksikan oleh Jaksa Agung Muda tindak pidana umum dr. Fadil Zumhana perkara ini resmi diberhentikan dengan menerbitkan surut ketetapan penghentian penuntutan (SKP2) berdasarkan keadilan lewat Restorative Justive dan peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020,” tambah dia. 

Sementara itu, pengakuan M. Riyadi,  dirinya sempat mendekam di balik jeruji besi Polsek Batam Kota selama dua bulan terakhir. 

“Saya kesal melihat istri karena tidak ada balas pesan Whatsapp dan juga tidak mengangkat saat dihubungi. Jadi saya khilaf dan menampar istri saya,” kata dia. 

Selain itu ia juga diketahui memiliki seorang anak yang membutuhkan kehadiran orangtua, untuk mengasuh anaknya.

ADVERTISEMENT

Atas kasus tersebut ia disangkakan pasal KDRT atau 351 tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 2,8 tahun penjara.

Diketahui pihak kejaksaan pada tahun 2022 ini baru pertama menyelesaikan perkara restorative justice kasus KDRT. 

“Jadi ke depan kita akan upayakan terus, untuk kasus lainnya yang memenuhi unsur dari program tersebut,” pungkas Polin. 

ADVERTISEMENT
Gabung dan ikuti kami di :

Penulis: | Editor: Hasrullah



whatsapp facebook copas link

Baca Lainnya

Roby Ingatkan Jangan Ada Pungli Dalam PPDB SD dan SMP di Bintan

12 Juni 2024 - 15:08 WIB

IMG 20240612 WA0018 11zon

Permudah Akses Perizinan, KKP Asistensi Pemanfaatan Ruang Laut di Karimun

12 Juni 2024 - 15:02 WIB

IMG 20240612 WA0012 11zon

Bupati Bintan Sampaikan Ranperda Laporan Pertanggungjawaban APBD 2023

11 Juni 2024 - 12:07 WIB

IMG 20240611 WA0006 11zon

PDAM Tirta Mulia Karimun Perbaikan Pipa, Distribusi Air Bersih Terhenti Sementara

10 Juni 2024 - 14:45 WIB

jq7zzn42z7bsvuycnxpi e1667912657178

Job Fair Digelar Lagi, Roby Optimis Angka Pengangguran Terbuka Semakin Menurun

8 Juni 2024 - 09:41 WIB

Sambutan Bupati Bintan Roby Kurniawan di Pembukaan Job Fair 2024

KPU Karimun Mulai Rekrut 745 Petugas Pantarlih Pilkada 2024

7 Juni 2024 - 13:24 WIB

IMG 20231103 WA0031 11zon
Trending di Warta