KONTEN PENGGUNA

Menunggu Tiga Dekade untuk Secarik Mahkota Utama

Konten ini adalah karya pembaca yang tidak mewakili pandangan dari redaksi kepripedia

Ady Indra Pawennari Foto

Oleh:
Ady Indra Pawennari

Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

Waktu tidak pernah berjalan mundur, namun ia selalu memberi ruang bagi jiwa-jiwa yang menolak menyerah.“Tak ada kata terlambat.” Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata yang kerap saya bisikkan demi membakar semangat para pewarta muda di bawah langit Dewan Pers.

Jauh di lubuk hati yang paling dalam, kalimat itu adalah bait mantra yang saya rapalkan untuk diri saya sendiri. Sebuah janji setia bahwa setiap tetes keringat di jalan sunyi ini akan menemukan muaranya.

ADVERTISEMENT

Langkah kaki saya menjemput legitimasi ini memang harus berkejaran dengan senja. Ketika riak pemberlakuan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) pertama kali bergulir antara tahun 2011 hingga 2018, sebuah karpet merah terbentang bagi para peracik berita senior.

Kami dipersilakan melompat langsung memeluk jenjang kompetensi wartawan Utama, tanpa harus merangkak membelah anak tangga wartawan Muda dan Madya. Namun, angin waktu membawa saya berlayar ke arah lain. Momentum emas itu terlepas, menyisakan sesal yang tersimpan rapi.

Hingga pada tahun 2019, di bawah langit Kota Kembang, Bandung, saya memantapkan langkah menuju UKW yang digelar PWI Jawa Barat. Namun, takdir rupanya ingin menguji keteguhan hati saya.

Regulasi telah berganti rupa. Karpet merah itu telah digulung rapat-rapat. Saya yang telah menghabiskan 23 tahun usia menua bersama pekatnya tinta dan tajamnya pena, harus rela berdiri di garis awal yang sama dengan mereka yang baru saja belajar mengeja berita. Saya harus memulai dari jenjang Muda.

Ada rasa getir yang menyelinap di dada, namun ada api pembuktian yang menolak padam. Di kota penuh kenangan itu, dengan rambut yang mulai bersulam perak, saya menundukkan kepala, memeras seluruh sari-sari pengalaman yang telah puluhan tahun saya pupuk.

Tuhan maha menyaksikan. Sore itu, saya pulang tidak hanya membawa kelulusan dan dinyatakan kompeten, tetapi juga predikat sebagai peserta terbaik. Jejak itu berlanjut. Lima tahun berselang, di bawah garis cakrawala Batam tahun 2024, takdir kembali meloloskan saya di jenjang Madya. Saya dinyatakan kompeten.

Namun, puncak gunung batu itu masih jauh. Aturan memaksa saya bersabar menanti jeda dua tahun untuk bisa mengetuk gerbang tertinggi: Wartawan Utama.

ADVERTISEMENT

Peluang itu sejatinya sempat membayang di depan mata, di tanah Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 24 – 25 Mei 2026. Lembar administrasi telah rapi, mahar pendaftaran telah tunai.

Tapi hidup selalu punya cara rahasia untuk menguji prioritas kita. Sebuah panggilan bisnis lintas negara datang menghampiri. Dua kepentingan besar berdiri sejajar, memaksa saya memilih.

Dengan hati yang remuk oleh keikhlasan, saya memilih menepi. Mimpi UKW jenjang Utama bersama PWI Sulawesi Selatan di Makassar harus rela layu sebelum berkembang.

ADVERTISEMENT

Siapa sangka, air mata penundaan itu justru digantikan oleh senyuman semesta di Kota Gurindam Tanjungpinang. Jalan menuju puncak itu akhirnya terbentang melalui rumah yang saya bangun dengan cinta, Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Bekerja sama dengan UPN Veteran Yogyakarta, sebuah ruang ujian dibuka di Tanjungpinang pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026.
Di dalam ruang penuh ketegangan itu, di hadapan mata penguji yang tajam dan tanpa kompromi, ego seorang wartawan senior saya luruhkan.

Saya kembali menjadi seorang murid yang tekun. Fisik saya mungkin tak lagi sekuat pemuda yang tiga puluh tahun lalu berlari mengejar berita, namun gairah yang membakar dada ini masih persis sama.

ADVERTISEMENT

Lembar demi lembar materi uji saya selesaikan dengan jemari yang bergetar oleh rindu akan pembuktian, tepat waktu sebelum waktu yang diberikan penguji berakhir.

Dan saat-saat mendebarkan itu pun tiba. Sebuah kalimat meluncur, membuat jakun saya naik turun menahan buncahan haru yang menyumbat tenggorokan.

Alhamdulillah, nama saya bersanding bersama empat jiwa tangguh lainnya yang mengikuti jenjang Utama, yakni Roma Uly Sianturi, Dede Rusdiana, Anton Marulam Silitonga dan Elhadif Putra, dinyatakan resmi: KOMPETEN.

Tiga puluh tahun. Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk sebuah pengakuan yang sah. Saya telah menua di jalanan, menerjang badai, menyuarakan kebenaran demi mereka yang tak bersuara.

Hari ini, Senin (7/9/2026, nama saya sudah tayang di data sertifikasi wartawan website Dewan Pers sebagai wartawan utama dengan Nomor : 16077-UPNYK/WU/DP/VIII/2026/14/04/73.

Kini, selembar sertifikat Wartawan Utama itu bukan lagi sekadar kertas formalitas. Bagi saya, itu adalah sebuah mahkota kesabaran.

Sebuah penegasan paling indah dari semesta bahwa dedikasi sejati tidak akan pernah kedaluwarsa, dan untuk sebuah kehormatan profesi, tidak akan pernah ada kata terlambat.


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article