Menu

Mode Gelap

Ekonomi Bisnis · 14 Mar 2022 08:00 WIB ·

Prediksi Imbas Ekonomi Singapura Akibat Inflasi Tajam


 Grafik Bursa Efek Indonesia (BEI). Perbesar

Grafik Bursa Efek Indonesia (BEI).

ADVERTISEMENT
advertisement

Negara tetangga Singapura yang berbatasan langsung dengan Batam dan Tanjungpinang, mengalami inflasi yang sangat tajam pada beberapa bulan terakhir ini yang memberikan dampak ekonomi bagi negara tersebut, hal itu diperparah dengan ketegangan geopolitik dunia Rusia dan Ukraina yang ikut memberi dampak bagi negara singa tersebut.

Berdasarkan survei Monetary Authority of Singapore (MAS) yang terdiri dari 40 persen dari 23 ekonom dan analis sektor swasta, inflasi dan laju pengetatan moneter ini berlangsung dengan cepat dan menjadi ancaman terbesar bagi pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

ADVERTISEMENT
advertisement

Singapura sebagai negara yang memiliki banyak investasi asing ini, ikut terdampak dari ketegangan Rusia dan Singapura, para ekonom di negara tersebut meprediksi ekonomi Singapura baru akan tumbuh sekitar 3 sampai 5 persen, jika beberapa kebijakan terkait COVID-19 mulai direnggangkan.

Termasuk salah satunya kebijakan membuka kembali pintu-pintu masuk ke Singapura untuk meningkatkan sektor-sektor akomodasi, seperti yang lebih dulu dilakukan di Indonesia.

ADVERTISEMENT
advertisement

Tharman Shanmugaratnam Menteri Senior dan Ketua, Otoritas Moneter Singapura dalam pidatonya beberapa waktu yang lalu menyebutkan ada lima faktor yang menjadi pemicu kondisi ekonomi Singapura dan dunia saat ini.

“Saya akan menggambarkannya sebagai ‘badai panjang yang sempurna’, yang dibentuk oleh pertemuan beberapa kekuatan,” ujarnya di situs resmi MAS Singapura.

ADVERTISEMENT

Adapun lima tantangan ekonomi tersebut, diantaranya adanya Invasi Rusia-Ukraina. “Kita sekarang menghadapi periode ketidakamanan geopolitik yang meningkat dan kemungkinan berkepanjangan,” sebutnya.

Kedua risiko stagflasi nyata, yang terjadi dibanyak bagian baik negara maju maupun berkembang. Ketiga perubahan cuaca ekstrem yang begitu mendadak, tentunya memberikan dampak yang signifikan bagi ekonomi kedepan.

Keempat Pandemi COVID-19 yang tidak kunjung berakhir, setelah Omicron kemungkinan akan ada varian baru lagi. Kelima adanya kerentanan perbedaan seperti perang Rusia-Ukraina, yang telah memberi dampak kesenjangan dan kesejahteraan bagi masyarakat dunia.

ADVERTISEMENT

“Saya katakan badai panjang, karena ini bukan hanya badai sempurna dalam pengertian tradisional di mana Anda memiliki pertemuan faktor-faktor konjungtural yang terjadi sekali saja. Ini adalah pergeseran struktural.”

“Itu bukan kejutan siklus atau acak. Itu adalah pergeseran struktural, berinteraksi satu sama lain, yang akan bersama kita untuk beberapa waktu,” sebutnya dalam konferensi pers tersebut.

Dapatkan update berita langsung dari Smartphone anda melalui telegram. Klik t.me/kepripediacom untuk bergabung
Artikel ini telah dibaca 60 kali

Penulis: | Editor: Redaksi


ADVERTISEMENT
advertisement
Tetap terhubung dengan kami:
advertisement
Baca Lainnya

Harga Cabai di Karimun Tembus Rp 140 Ribu Jelang Idul Adha, Ini Penyebabnya

6 Juli 2022 - 19:58 WIB

Rupiah Hari ini Capai 15 ribu Per Dolar Amerika

6 Juli 2022 - 12:44 WIB

BP Batam Serahkan SK Pegawai Ke PT BIB

1 Juli 2022 - 21:33 WIB

PT PLN Batam dan PT BIB Tandatangani MoU Kerja Sama Kelistrikan

30 Juni 2022 - 20:45 WIB

Dorong Transformasi Digital Indonesia, ITDRI dan BRIN Lakukan Kolaborasi Riset di Mandalika

29 Juni 2022 - 21:23 WIB

Kenaikan Harga Cabai Diperkirakan Bertahan hingga 3 Pekan ke Depan

27 Juni 2022 - 20:48 WIB

Trending di Ekonomi Bisnis
advertisement