BATAM – Ada yang berbeda di ruang pertemuan Kantor Wali Kota Batam, belum lama ini. Bukan hanya pejabat dan staf pemerintah yang duduk melingkar, tetapi juga puluhan mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Tanjungpinang.
Mereka adalah anggota Himpunan Mahasiswa Kota Batam (HMKB). Mereka datang bukan sekadar bertemu, melainkan untuk berbicara, mendengar, dan menyepakati satu hal: mahasiswa ingin terlibat langsung dalam membangun kota.
Di bawah kepemimpinan periode 2025-2026, HMKB menggelar dua kegiatan sekaligus. Pertama, diskusi publik bertajuk *“Dari Aspirasi Menuju Aksi: Sinergitas Mahasiswa dan Pemerintah Kota Batam dalam Membangun Kota Madani”*. Kedua, Pengenalan Keluarga HMKB 2026 untuk mempererat tali persaudaraan antarmahasiswa Batam yang sedang menempuh pendidikan di Tanjungpinang.
Mewakili Wali Kota Batam, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Batam, Riama Manurung, membuka forum dengan pemaparan yang gamblang. Ia menyampaikan visi pembangunan kota dan 15 program prioritas di bawah kepemimpinan Wali Kota Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra.
Baca Juga
Namun, pemaparannya tidak berhenti di situ. Riama secara tegas membuka ruang bagi mahasiswa untuk memberikan kritik dan masukan. Syaratnya, kata dia, semua harus berbasis data.
“Kami tidak hanya mendengar, kami juga siap berkolaborasi,” ujar Riama di hadapan para peserta.
Sambutan itu langsung disambut antusias oleh Ketua Umum HMKB, Frando Sipayung. Baginya, forum ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah ruang belajar kepemimpinan yang nyata.
“Kami berharap HMKB menjadi rumah bagi mahasiswa Kota Batam untuk bertumbuh, berkarya, dan mengabdi. Melalui kegiatan ini, semangat kolaborasi dan kontribusi nyata bagi Kota Batam terus terbangun,” tegas Frando.
Setelah sesi diskusi yang berisi tanya jawab dan tukar gagasan usai, suasana berganti menjadi lebih santai namun tetap bermakna. Kegiatan dilanjutkan dengan Pengenalan Keluarga HMKB 2026. Para peserta tidak hanya dikenalkan pada struktur organisasi, tetapi juga diberikan materi kemahasiswaan dan diajak berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil.
Tujuan akhirnya sederhana: membangun solidaritas. Sebab, bagi mahasiswa Batam yang jauh dari rumah, merantau di Tanjungpinang, ikatan sesama daerah adalah kekuatan. Dari ruang diskusi itu, mereka pulang bukan hanya dengan catatan tentang kebijakan kota, tetapi juga dengan rasa memiliki dan kesiapan untuk turun tangan. **Aksi,** bukan sekadar **aspirasi.**
