Lingga – Rencana investasi senilai triliunan rupiah dari PT Tianshan di Kabupaten Lingga hingga kini belum menunjukkan wujud nyata. Mantan Bupati Lingga, Alias Wello, memberikan masukan kepada pemerintah daerah agar lebih transparan dan terbuka dalam menjelaskan penyebab mandeknya proyek yang digadang-gadang mampu membuka ribuan lapangan kerja ini.
Alias Wello, yang juga mantan Ketua DPRD Lingga, menegaskan investasi ini sangat dinantikan untuk mengangkat ekonomi daerah yang menurutnya mengalami resesi berkepanjangan dalam tiga hingga empat tahun terakhir.
“Kondisi kritis terjadi pada 2025 ini, di mana APBD Lingga terjun bebas lebih dari 1 triliun jadi Rp800 miliar, sampai-sampai pemda harus meminjam ke bank dengan bunga besar,” ujarnya.
Ia menyanggah narasi yang selama ini beredar dari sejumlah pejabat, bahwa investasi terhambat karena menunggu lahan yang digunakan oleh pangkalan marinir atau militer di bawah Kementerian Pertahanan.
“Padahal persoalannya tidak sesederhana itu,” tegas politisi senior yang pernah berkecimpung di asosiasi pertambangan ini.
Menurut Wello, akar masalahnya adalah ketidakmauan pimpinan daerah—mulai dari Bupati, Sekda, Wakil Bupati, hingga kepala OPD terkait—untuk menyampaikan persoalan sebenarnya.
“Jadi seharusnya tidak boleh main sembunyi-sembunyi. Jangan sampai ada kesan pemerintah memanfaatkan ormas dan tokoh untuk ‘membenturkan’ masyarakat dengan pemerintah pusat,” kritiknya.
Ia menambahkan, investasi ini sudah dirancang lama sehingga seharusnya pemerintah daerah yang aktif mencari solusi, bukan justru menghabiskan anggaran perjalanan dinas tanpa hasil jelas.
“Jangan masyarakat yang dibenturkan dengan pusat,” sebutnya.
Lulusan Magister IPDN juga menyayangkan fokus pemerintah yang hanya tertuju pada investasi besar yang tak kunjung nyata, sementara ekonomi lokal kritis.
“Banyak usaha yang langsung menyentuh rakyat malah tak diurus. Contohnya tambang timah rakyat, hanya jadi omon-omon di media, tanpa bukti dukungan konkret dari pemda,” paparnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan untuk tetap kritis meski nilai investasi menggiurkan.
“Kita harus pikirkan dampak lain. Belajar dari daerah seperti Bintan dengan PT BAI atau Morowali. Isu lingkungan sangat sensitif, apalagi kita daerah kepulauan yang lautnya lebih luas dari daratan,” tutup Alias Wello.