Roro ASDP: Merajut Selat, Menyambung Rezeki Pulau

Jelang tengah malam. Mata manusia mulai berat, tetapi denyut pelabuhan tak pernah mengenal kantuk.

Di penghujung sebuah pulau yang namanya pernah dikenal seantero dunia karena bijih timahnya komoditas yang dulu diperebutkan banyak bangsa kini terdengar gemuruh lain. Bukan letusan tambang, bukan raungan mesin keruk. Melainkan suara mesin kapal, bersahutan dengan deru mobil dan motor yang mengantre masuk ke perut baja.

ADVERTISEMENT

Desa Jagoh, Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kamis, 10 September 2026, pukul 23.00 WIB.

Angin laut membawa bau solar bercampur asin, menyeruak di antara lalu lalang kendaraan dan suara mesin Kapal Rol on Rol Off-roro, begitu orang menyebutnya.

Di ruang seluas hampir satu lapangan futsal itu, mobil-mobil dan motor mulai menimbun barang. Jagung. Petai. Jengkol. Cempedak. Durian. Ikan teri. Ikan asin. Semua tersusun, semua menunggu. Di sudut lain, bak-bak berisi hasil kebun tersusun rapi, barang dagangan yang esok pagi harus sampai seberang, sebelum layu dimakan waktu.

Subuh belum sepenuhnya lepas dari pelukan gelap ketika pelabuhan mulai berdenyut.

Di Tanjungpinang, angin laut juga membawa bau yang sama. Solar dan asin. Menyeruak di antara deretan karung sayur, tandan kelapa, dan bakul-bakul kerupuk yang disusun di tepi dermaga. Ada seorang perempuan paruh baya, kain sarung terikat erat di pinggang, menyeret gerobak kayunya mendekati lambung kapal roro yang bersandar, Ada pula buruh-buruh dengan gerobak dan baju khas yang gagah menunggu barang-barang yang siap diangkut. Diam. Namun gagah. Seperti sauh yang menahan seluruh harapan sebuah pulau.

Ia bukan sekadar menunggu kapal.

Ia menunggu jalan.

ADVERTISEMENT

Bagi Kepulauan Riau, gugusan pulau yang terserak bagai manik-manik di hamparan Selat Malaka dan Laut Segantang lada tak ada jalan raya yang menyambungkan tanjung ke tanjung, kampung ke kampung.

Yang ada hanyalah air.

Dan di atas air itulah, roro-roro milik PT ASDP Indonesia Ferry ( Persero) menjelma jalan raya yang tak pernah tertulis di peta darat mana pun. Setiap kali kapal itu melepas tali, bukan hanya penumpang yang ia bawa. Melainkan nasib para petani, nelayang dan pedagang di Lingga. Pedagang kerupuk di Senayang. Nelayan ikan asin di Kepulauan Posek. Mereka semua menaruh rezeki di atas geladak, berharap sampai ke daratan seberang sebelum matahari terlalu tinggi. Sebelum hasil bumi mereka layu dimakan waktu.

ADVERTISEMENT

Di sinilah kisah ini bermula.

Bukan tentang mesin dan baja.

Tetapi tentang bagaimana sebuah kapal feri bisa menjadi denyut nadi yang menyambung ketahanan pangan dan ekonomi kecil di ceruk-ceruk kepulauan yang nyaris terlupakan.

ADVERTISEMENT

Nyawa di Atas Ombak

Jika ditatap dari udara, Kepulauan Riau bukanlah sehampar daratan yang utuh. Ia serakan pulau yang terserak bagai manik-manik yang tercerai dari talinya. Lebih dari dua ribu pulau sebagian besar tak berpenghuni terebar di antara riak Selat Malaka di barat dan gelombang Laut Natuna di utara.

Ada Lingga. Bintan-Tanjungpinang. Karimun. Anambas. Dan Batam, yang berdiri sebagai pusat kota metropolitan, penguasa ekonomi kepulauan ini.

Tak ada jalan tol di sini. Tak ada rel kereta yang menyambungkan satu kampung ke kampung lain. Yang ada hanyalah laut luas, berubah-ubah watak, dan menjadi satu-satunya jalan yang mesti ditempuh siapa pun yang hendak berpindah dari satu jengkal tanah ke jengkal yang lain.

Di tengah geografi yang demikian, ASDP hadir bukan sekadar sebagai operator angkutan. Ia penenun jalan raya di atas air.

Rute-rute roro yang melintas dari Tanjungpinang menuju Dabo Singkep di Lingga, dari Batam menyeberang ke Tanjungpinang, Lingga, provinsi tetangga Kuala Tungkal – Jambi, hingga jalur-jalur yang menjangkau gugusan terjauh di Anambas dan Natuna—menjelma urat nadi. Urat nadi yang menyambungkan denyut ekonomi pulau-pulau kecil dengan pusat-pusat perdagangan yang lebih besar.

Tanpa jalur-jalur ini, sebuah pulau kecil bisa terasing sepenuhnya. Hasil buminya tak sampai ke pasar. Kebutuhan pokoknya tak kunjung tiba. Dan warganya terjebak dalam kesunyian yang hanya dipecah oleh suara ombak.

Maka ketika berbicara soal penguatan jalur transportasi laut nasional, Kepulauan Riau adalah cermin paling jujur untuk melihatnya.

Sebab di sinilah kapal bukan sekadar alat angkut.

Ia penentu apakah sebuah kampung di ujung pulau bisa terus bernapas atau perlahan tenggelam dalam keterasingannya sendiri.

Deretan truk pengangkut sembako mengantre di area parkir Pelabuhan Roro Dompak, Tanjungpinang, menunggu instruksi petugas untuk masuk ke geladak kapal. Truk-truk ini membawa pasokan beras, minyak goreng, gula, dan bahan pokok lainnya yang akan didistribusikan ke pulau-pulau di Kepulauan Riau. (Foto: Jali)
Deretan truk pengangkut sembako mengantre di area parkir Pelabuhan Roro Dompak, Tanjungpinang, menunggu instruksi petugas untuk masuk ke geladak kapal. Truk-truk ini membawa pasokan beras, minyak goreng, gula, dan bahan pokok lainnya yang akan didistribusikan ke pulau-pulau di Kepulauan Riau. (Foto: Jali)

Jalan Raya di Atas Air

Jika jalan raya di daratan diukur dari aspal dan marka, maka di Kepulauan Riau, jalan raya itu diukur dari jadwal keberangkatan dan kepastian sandar.

“Untuk lintasan Dabo-Pinang itu tiga kali seminggu. Dari Dabo Jagoh itu berangkat malam, kadang jam 10, kadang jam 12, tergantung pasang air. Harinya dari Dabo itu Minggu, Senin, dan Kamis. Kalau ke Karimun itu Selasa dan Jumat, dari Pinangnya siang, dari Karimun itu malam, sama sekitar jam 10 kadang jam 12.”

Ujar Raja Kapten Kapal Roro KM Kundur. Suaranya berat, tetapi kata-katanya mengalir lancar seperti hafal betul irama laut yang setiap hari ia arungi.

Setiap pagi, kapal-kapal roro ASDP melepas tali dari dermaga dengan ketepatan yang nyaris seperti detak jam kota besar. Sebuah keteraturan yang, di tengah lautan yang berwatak tak menentu, terasa hampir seperti keajaiban kecil.

Kapasitas angkutnya jauh melampaui pompong atau kapal kayu. Satu kali pelayaran mampu membawa puluhan kendaraan, ratusan penumpang, dan berton-ton muatan sagu, jengkol, petai, sayur mayur, kelapa, ikan asin, hingga bahan sembako dalam satu tarikan sauh yang sama.

“Dulu, orang menyeberang itu untung-untungan. Sekarang ada jadwal tetap, ada tarif yang jelas, jadi orang bisa merencanakan kapan mesti bawa barang dagangannya.”

Tutur seorang petugas ASDP di pelabuhan Jagoh, Dabo Singkep, Lingga. Matanya awas mengawasi kendaraan-kendaraan yang perlahan menaiki geladak. Baginya, roro bukan sekadar kapal. Ia sistem. Sebuah tatanan yang mengubah laut yang dulu liar menjadi jalur yang bisa diandalkan, dijadwalkan, dan yang terpenting dipercaya.

Kepastian semacam ini pula yang menekan biaya logistik hingga ke titik yang jauh lebih ramah bagi masyarakat kecil.

Sebuah karung jengkol yang dulu harus menanggung risiko rusak dan ongkos mahal di atas kapal kayu, kini bisa menyeberang dengan tarif yang jauh lebih terjangkau. Dalam waktu yang jauh lebih singkat. Dan di titik inilah letak peran strategis ASDP yang sesungguhnya.

Bukan hanya menyambungkan pulau secara fisik.

Melainkan menyambungkan kepastian ekonomi bagi mereka yang selama ini hidup dalam ketidakpastian ombak.

Suara dari Ladang dan Lapak UMKM

Inilah jantung tulisan ini. Bukan mesin, bukan baja, bukan jadwal keberangkatan. Melainkan manusia—yang berdiri di tepi dermaga, yang menata dagangan di atas geladak, yang menitipkan harapan pada tali yang dilepas kapal.

Namanya Pak Rahman.

Seorang penampung jengkol, petai, dan bahan-bahan hasil kebun masyarakat di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga. Sudah beberapa tahun ia membuka usaha penampungan, mengandalkan toke-toke pasar di Batam dan Tanjungpinang sebagai pembeli tetap.

Setiap dua pekan sekali, ia mesti mengangkut hasil olahannya—berkarung-karung jengkol dan petai, serta berbagai buah dan sayuran hasil panen petani di Pulau Singkep dan Lingga—menyeberangi selat menuju Batam dan Tanjungpinang. Satu-satunya pasar yang cukup besar untuk menampung hasil buminya.

“Dulu, sebelum ada roro yang jadwalnya tetap, kami pakai pompong kecil. Kalau ombak besar, sagu, atau buah-buah jengkol petai ini bisa agak layu dan menurun kualitasnya di perjalanan. Rugi kami.”

Katanya sambil menunjuk ke arah dermaga. Matanya menerawang ke masa ketika laut lebih sering menjadi musuh ketimbang sahabat.

Kini, dengan jadwal roro yang lebih pasti dan daya tampung yang jauh lebih besar, hasil sagunya bisa sampai ke tangan pembeli dalam kondisi utuh. Sebuah kepastian kecil yang, baginya, berarti besar bagi dapur keluarganya.

Tak jauh dari pelabuhan yang sama, Ibu Salmah dari Pulau Mas menata dagangannya di atas geladak roro. Kerupuk atom. Terasi udang. Ikan asin. Semua hasil olahan tangannya sendiri.

Ia bagian dari ratusan pelaku UMKM kecil di Kepulauan Riau yang selama ini bergantung sepenuhnya pada kapal motor dan feri roro untuk menembus pasar di Batam dan Tanjungpinang.

“Kalau dulu, ongkos kapal kecil mahal, kadang barang rusak kena air asin. Sekarang naik roro, lebih aman, lebih murah, sampai pun tepat waktu.”

Ujarnya, seraya merapikan tumpukan kerupuk yang dibungkus rapi dalam plastik bening.

Bagi Ibu Salmah, roro bukan sekadar alat transportasi. Ia jembatan yang menyambungkan dapur kecilnya di pulau terpencil dengan meja-meja makan di kota. Menembus batas yang dulu terasa begitu jauh.

Kisah Pak Rahman dan Ibu Salmah hanyalah dua dari ribuan kisah serupa yang tersebar di gugusan pulau Kepulauan Riau.

Kisah tentang bagaimana sebuah kapal roro, sesederhana apa pun ia tampak, mampu menjelma penyambung rezeki bagi mereka yang selama ini berjuang sendirian melawan jarak dan ombak.

Ada juga Amiang.

Toke kedai sembako di Dabo. Baginya, roro telah mengubah segalanya.

“Kami bisa dapat bahan sembako dan jualan-jualan lain dengan cepat dan efisien, serta banyak pilihan. Ada dari Jambi, Pinang, dan Batam. Kalau dulu kita cuma sanggup dari Jambi, itupun pakai kapal kayu yang sangat berisiko.”

Ia menghela napas. Mengingat sesuatu.

“Bahkan pernah musibah, kapal kayunya karam dihantam ombak. Kadang juga batal berangkat karena alasan cuaca dan lainnya. Selain itu muatan juga terbatas, dan ongkos yang cukup besar.”

Lalu ia tersenyum tipis.

“Jadi kita tak bisa jual dengan harga murah. Beras-beras dan sembako lainnya kita jual dengan harga tinggi, karena transportasinya mahal dan terbatas. Tapi kita syukur semenjak ada kapal roro, semuanya lebih baik. Harga kita bisa sama dengan harga di kota, dan pilihan barang juga banyak, karena kita bisa pakai truk langsung bawa ke sini.”

Sebutir beras yang sampai ke dapur sebuah keluarga di Dabo. Sekarung jengkol yang tiba di pasar Batam sebelum layu. Sebungkus kerupuk yang tersusun rapi di meja makan sebuah rumah di Tanjungpinang.

Semua itu bukan kebetulan.

Semua itu adalah buah dari sebuah kapal yang melepas tali setiap pagi dan sebuah janji yang tak pernah ingkar: bahwa laut, yang dulu memisahkan, kini menyambungkan.

Dari Pulau ke Piring

Ketahanan pangan, bagi masyarakat di kota besar, mungkin terasa seperti isu abstrak yang hidup di rak-rak kebijakan dan grafik statistik.

Namun bagi warga di gugusan Kepulauan Riau, ketahanan pangan adalah sesuatu yang bisa diraba.

Ia ada di atas geladak roro. Terbungkus karung jengkol. Terikat dalam ikatan sayur. Terselip di antara peti ikan asin yang menyeberang selat setiap harinya.

Ketika jadwal pelayaran berjalan lancar, harga beras di Lingga tak jauh berbeda dengan harga di Tanjungpinang. Namun ketika ombak mengganas dan kapal tertahan berhari-hari, harga-harga kebutuhan pokok di pulau-pulau kecil bisa melonjak dalam hitungan jam.

Sebuah pengingat. Betapa rapuhnya jarak antara kecukupan dan kelangkaan di wilayah kepulauan.

Di sinilah Kapal Roro milik ASDP memegang peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengangkut penumpang.

Ia menjadi penjaga keseimbangan pasokan pangan antarpulau.

Roro yang berlayar teratur memastikan hasil bumi dari satu pulau sagu, jengkol, petai dari Lingga, ikan dari Pulau-pulau kecil, sayur dari Bintan, Batam, Tanjungpinang bisa mengalir ke pulau-pulau hingga kota lain yang membutuhkan. Sementara kebutuhan pokok dari luar bisa masuk tanpa hambatan berarti.

Sirkulasi inilah yang menjaga agar tak ada satu pun kampung di kepulauan yang terjebak dalam kelangkaan—sementara pulau tetangganya justru surplus.

Bayangkan sebuah dapur di Lingga.

Di atas tungku, air mendidih. Ibu rumah tangga menunggu beras yang belum tiba. Kapal tertahan di laut karena cuaca buruk. Harga di kedai naik dua kali lipat dalam sehari. Anak-anak menunggu makan malam.

Bayangkan dapur yang sama, di hari yang lain.

Kapal sandar tepat waktu. Beras tiba. Harga normal. Anak-anak makan dengan tenang. Esok pagi, petani di Bintan mengirim sayur. Lusa, nelayan di Lingga mengirim ikan asin.

Perbedaan antara dua dapur itu bukan soal kebijakan. Bukan soal anggaran. Bukan soal pidato.

Perbedaannya adalah sebuah kapal yang berlayar tepat waktu.

Maka ketahanan pangan di wilayah kepulauan seperti Kepri, pada akhirnya, bukan soal berapa banyak lumbung yang dibangun di darat.

Melainkan soal seberapa lancar jalur laut yang menyambungkannya.

Sebab di sinilah setiap keterlambatan kapal bisa berarti piring yang kosong.

Dan setiap kepastian jadwal berarti dapur yang tetap mengepul.

Kapal Roro KM Kundur bersandar di Dermaga Pelabuhan Roro Dompak, Tanjungpinang. Lambung kapal yang gagah terlihat tenang menempel di dermaga, sementara pintu ramp mulai diturunkan untuk proses bongkar muat. KM Kundur melayani lintasan Tanjungpinang–Dabo Singkep, salah satu jalur vital yang menyambungkan Pulau Bintan dengan Pulau Singkep di Kabupaten Lingga. (Foto: Jali)

Tantangan yang Masih Menghadang

Namun, di balik gemerincing rezeki yang disambungkan roro, masih ada jeda-jeda yang belum sepenuhnya terjembatani.

Ketika kapal mulai uzur butuh istirahat atau mengalami kerusakan sehingga harus docking—jadwal pelayaran kerap terpaksa ditunda. Kadang hingga berminggu. Kadang lebih.

Bagi Pak Rahman yang biasa disapa Ceti, penundaan semacam ini bukan perkara sepele.

“Jika bawa sagu basah yang tak segera terangkut, bisa berjamur. Hasil sebulan kerja bisa musnah hanya karena tidak ada kapal pengganti.”

Begitu juga bahan sayuran lainnya. Jengkol akan mengering. Petai kadang membusuk. Dan sejumlah petani tak berani panen.

“Kami paham keselamatan jadi utama. Kapal butuh perawatan, laut tak bisa dilawan. Tapi kalau ada kapal pengganti saat kapal utama docking, mungkin kerugian bisa ditekan, dan dapur petani tetap berasap.”

Ujarnya, menyuarakan harapan yang selama ini terpendam di antara deru mesin kapal.

Persoalan lain mengintai di pulau-pulau yang lebih kecil dan terpencil.

Dermaga yang belum memadai. Sebagian kadang memiliki kualitas yang terbatas, sehingga ramp door sering rusak. Atau kendala lainnya. Sementara pemeliharaan rutin kadang tertunda karena menunggu anggaran turun dari pemerintah daerah.

Akibatnya, sejumlah kampung nelayan dan ladang tani di pulau-pulau terluar Anambas, Natuna, dan Lingga masih harus mengandalkan kapal kayu kecil untuk mencapai pelabuhan.

Sebuah rantai distribusi tambahan yang memakan waktu dan biaya. Sebelum hasil bumi mereka benar-benar bisa “naik kelas” ke atas geladak kapal besar.

Bagi UMKM sekelas Ibu Salmah, ongkos kargo yang belum sepenuhnya ramah bagi pelaku usaha mikro juga jadi ganjalan tersendiri. Tarif yang dirancang untuk skala besar terasa berat ketika ditanggung oleh pedagang yang hanya membawa beberapa kilogram kerupuk dan terasi.

Begitu juga dengan pemilik toko sembako Amiang. Mereka akan jadi sasaran keluhan warga ketika harga sembako naik karena pasokan berkurang dan ongkos transportasi meningkat.

Di sinilah letak ironi kecil yang perlu disuarakan.

Roro telah menjadi urat nadi yang menyambungkan kepulauan. Namun urat nadi itu sendiri masih memerlukan penguatan di titik-titik terjauhnya.

Di dermaga-dermaga kecil yang luput dari sorotan.

Di jadwal yang masih tunduk pada suasana hati pemangku kepentingan.

Dan di tarif yang belum sepenuhnya berpihak pada mereka yang bermodal paling kecil.

Selain itu, jadwal yang hanya seminggu dua kali ada yang tiga kali juga membuat nadi itu terhenti.

Banyak warga berharap agar setiap hari ada kapal roro. Soal jam berangkat bukan persoalan. Asalkan setiap hari ada kapal yang berangkat.

“Kapal roro sekarang bukan hanya bawak barang dan besi-besi roda dua dan empat. Tapi juga bagi penumpang warga yang akan menyeberang. Ada yang berobat. Mengunjungi sanak saudara. Ada bahkan mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di luar daerah juga mengandalkan kapal roro,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kepulauan Riau, Junaidi, Senin, 10 Agustus 2026.

Kenapa?

Karena harganya masih terjangkau.

Untuk orang dari Lingga ke Tanjungpinang, harga tiket 65 ribu rupiah. Jika bawa kendaraan bermotor, hanya 175 ribu rupiah. Mobil tergantung tahun, 600 ribu sampai satu jutaan.

Jika dibanding kapal feri yang capai harga 200 ribu lebih belum lagi ongkos taksi dan ojek tentu roro menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat, pedagang, hingga mahasiswa untuk mengirit biaya menyeberang.

Namun di balik semua itu, satu hal tetap jelas.

Roro bukan sekadar moda transportasi. Ia jembatan yang menyambungkan pulau dengan pulau, dapur dengan pasar, harapan dengan kenyataan.

Dan seperti jembatan mana pun, ia perlu dirawat. Diperkuat. Diperhatikan terutama di titik-titik yang paling rapuh.

Sebab di titik-titik itulah, denyut nadi kepulauan ini paling terasa.

Dan di titik-titik itulah, ia paling mudah terputus.

Reflektif — Merajut yang Tercerai

Matahari kini sudah tinggi.

Roro yang tadi bersandar di Tanjungpinang melepas talinya sekali lagi. Membawa serta karung-karung sagu Pak Rahman. Bungkusan kerupuk Ibu Salmah. Truk sembako Amiang. Menembus riak selat menuju daratan seberang.

Dari kejauhan, kapal itu tampak kecil. Titik putih yang perlahan menghilang di garis cakrawala.

Namun di baliknya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar besi dan mesin.

Sebuah janji.

Bahwa jarak tak lagi harus berarti keterasingan.

Bahwa laut yang dulu memisahkan, kini justru menyatukan.

Penguatan jalur transportasi laut nasional, pada akhirnya, bukanlah semata soal menambah unit kapal atau memperpanjang dermaga.

Ia adalah soal menjaga agar setiap sauh yang diturunkan di pulau terpencil sekalipun tetap membawa harapan yang sama besarnya dengan yang diturunkan di pelabuhan-pelabuhan utama.

Sebab ketahanan pangan sebuah bangsa kepulauan seperti Indonesia tidak dibangun dari gudang-gudang besar di kota.

Melainkan dari sagu yang sampai tepat waktu.

Dari kerupuk yang tak basah kena ombak.

Dari petani dan pedagang kecil yang percaya bahwa esok hari, kapal itu akan datang lagi.

Dari pedagang sembako yang selalu menjadi harapan warga untuk mendapatkan harga murah. Beras murah. Minyak murah. Bahan pokok lainnya yang murah.

Di Kepulauan Riau, di antara riak Selat Malaka dan gelombang Laut Natuna, di pulau-pulau Karimun, Bintan, dan Lingga roro-roro ASDP terus melaju.

Perlahan. Namun pasti.

Merajut apa yang oleh alam sengaja diserakkan menjadi pulau-pulau.

Dan selama kapal itu masih berlayar, selama itu pula denyut nadi kepulauan akan terus berdetak.

Menyambungkan ladang ke lapak.

Pulau ke pulau.

Dan akhirnya

Indonesia ke dirinya sendiri.


Penulis: | Editor: Nurjali


Share This Article