Lingga – Dua puluh Februari 2025, menjadi hari bersejarah bagi Muhammad Nizar dan Novrizal. Di Istana Kepresidenan, mereka resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto bersama kepala daerah lain se-Indonesia.
Berbekal Surat Keputusan Presiden pasca-Pilkada, pasangan yang meraih kemenangan telak 64,53 persen suara itu berjanji akan membawa Kabupaten Lingga maju, sejahtera, dan berdaya saing. Mereka berjanji tak akan melupakan kearifan lokal dan potensi unggulan daerah.
Genap setahun sudah mereka memimpin. Namun, mari kita tengok fakta di lapangan. Hampir tidak ada satupun janji kampanye yang terwujud. Rakyat Lingga seolah hanya disuguhi mimpi di siang bolong.
Investasi Triliunan Hanya Isapan Jempol
Ingatkah kita saat Nizar gencar di media video, berkisah tentang investasi triliunan yang tinggal selangkah lagi? Ia menjanjikan puluhan anak muda Lingga akan dikirim magang ke China untuk menyambut PT. Tianshan Alumina Indonesia.
Kenyataannya? Janji itu menguap begitu saja. Investasi tersebut justru meninggalkan tumpukan persoalan, mulai dari sengketa lahan hingga administrasi yang tak kunjung jelas ujungnya. Masyarakat hanya bisa gigit jari.
Air Gunung Daik Entah Kemana
Janji manis lainnya soal investasi Rp150 miliar untuk mengelola Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Gunung Daik. Hingga saat ini, tak ada bukti nyata yang bisa dilihat.
Tulisan di media ini pun pernah mempertanyakan, apakah ini sekadar bualan pelipur lara bagi warga Desa Persiapan Cempaka? Kini, desa itu hanya tinggal kenangan, tanpa kepastian.
Desa Terabaikan, Bupati Malah Dapat Penghargaan
Di tengah keluhan perangkat desa, pemerintah justru memangkas Anggaran Dana Desa (ADD) dari APBD 2025.
Ironisnya, di saat kepala desa mengeluhkan nasibnya, bahkan beberapa di antaranya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum, Bupati Nizar malah kebanjiran penghargaan dari APDESI Pusat. Janji pemekaran desa pun ikut tak jelas ujungnya. Persoalan di desa tidak selesai, yang ada malah penghargaan.
Lingga Miskin, Alam Rusak, PAD Anjlok
Lalu, apa kabar ekonomi Lingga? Faktanya, Lingga kini tercatat sebagai kabupaten termiskin di Kepulauan Riau. Lapangan pekerjaan masih sulit, sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) justru ikut merosot.
Di sisi lain, alam Lingga pun tak luput dari ulah. Izin usaha yang dikeluarkan secara ugal-ugalan menyebabkan kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Daik. Akibatnya, kelangkaan air bersih kini bukan lagi isu, melainkan kenyataan pahit yang dirasakan warga.
Setahun Nizar-Novrizal, rakyat Lingga hanya mendapat janji. Yang tinggal hanyalah kekecewaan dan kabupaten yang semakin terpuruk. Bahkan janji untuk membantu mengaktifkan kembali Tambang Timah rakyat, juga raib ditelan bumi.