Yang Terjadi Setelah Petugas Kebersihan di Karimun Mogok Kerja 1 Hari: 70 Ton Sampah Menumpuk di TPS

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karimun mencatat jumlah volume sampah di wilayah pulau Karimun Besar mencapai 70 ton dalam sehari.

“Data harian volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) itu dalam setiap hari mencapai 70 ton,” ucap Plt Kadis DLH Karimun, Riyanta, Jumat, 14 Februari 2025.

ADVERTISEMENT

Total saat ini terdapat 33 titik TPS yang menampung sampah-sampah rumah tangga dalam setiap harinya. Setiap hari para petugas kebersihan baik supir truk, ambrol, abk, hingga pemilah rutin mengurai sampah tersebut.

IMG 20250214 WA0009
Puluhan petugas kebersihan mogok kerja dengan mendatangi kantor DLH Karimun. Foto: Hairul S/kepripedia.com

“TPS sekarang yang tercatat kemarin itu ada 33. Itu kontainer-kontainer yang tersebar disejumlah wilayah,” katanya.

Melihat kondisi ini, tentu saja besar kemungkinan sampah sebanyak itu akan menumpuk di masing-masing TPS jika petugas kebersihan memilih mogok kerja untuk sementara waktu.

Penyebabnya adalah pembayaran gaji yang saat ini belum mereka terima terhitung sejak bulan Januari dan Februari 2025.

Apalagi setelah puluhan petugas kebersihan melakukan aksi mogok kerja sejak Jumat, 14 Februari 2025. Mereka sepakat akan terus mogok kerja hingga adanya kejelasan perihal hak mereka.

Baca juga: Petugas Kebersihan di Karimun Mogok Kerja Akibat Gaji 2 Bulan Belum Dibayar

Di sisi lain, DLH bahkan belum dapat memberi kepastian kapan gaji itu akan bisa dibayarkan. Sebab, kendalanya ada pada regulasi.

ADVERTISEMENT

Riyanta mengungkapkan, pihaknya saat ini masih belum dapat membayarkan gaji sekitar 500 orang petugas kebersihan karena terkendala aturan terbaru.

Hal itu tertuang dalam UU Nomor 20 tahun 2023 tentang pembayaran gaji Pekerja Harian Lepas (PHL), di mana mekanisme pembayaran harus dilakukan melalui pihak ketiga (outsourcing).

“Ini yang kami masih cari seperti apa jalan keluarnya bagaimana. Karena di tahun ini tidak sama seperti tahun lalu yang masih menggunakan sistem Swakelola,” katanya.

ADVERTISEMENT

Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article