Catatan Kecil untuk Pengurus HKTI Kepri
TANJUNGPINANG – Ketahanan pangan nasional sering kali terdengar seperti urusan rumit di meja birokrasi. Padahal, pertahanan terbaik justru dimulai dari unit terkecil: keluarga kita sendiri.
Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif dan cuaca yang kian tak menentu, ketergantungan penuh pada pasar adalah sebuah risiko besar. Menjaga isi piring kita tetap aman, sehat, dan tersedia bukan lagi sekadar urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab kita di rumah.
Salah satu solusi paling realistis dan bisa segera kita mulai adalah dengan memaksimalkan lahan pekarangan. Langkah nyata ini telah dibuktikan oleh Ady Indra Pawennari, seorang jurnalis yang menetap di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Baca Juga
Di tangannya, pekarangan rumah bukan lagi sekadar pemandangan hiasan, melainkan sebuah ekosistem pangan mini yang produktif.
Ady menyulap pekarangan rumahnya menjadi kolam ikan berukuran 15×5 meter yang padat gizi, berisi ikan Mas, Gurame, Patin, hingga Nila.
Tidak berhenti di situ, ia juga menanam padi serta berbagai jenis sayuran secara rutin. Kombinasi cerdas ini membuat halaman rumahnya berfungsi ganda sebagai lumbung karbohidrat, protein, dan vitamin sekaligus.
Bagi Ady, apa yang dilakukannya melampaui sekadar hobi pengisi waktu luang. Ini adalah strategi bertahan hidup yang cerdas untuk memangkas ketergantungan pada pasar.
“Kolam ikan ini sangat membantu pada saat darurat. Misalnya, saat kondisi cuaca lagi tak bersahabat dan nelayan tidak bisa melaut, otomatis ikan pasti langka dan mahal di pasar. Saat-saat seperti itulah, saya tinggal memancing ikan di kolam sendiri,” tutur Ady.
Inspirasi dari Ady ini membuka mata kita akan beberapa keunggulan strategis yang sebenarnya bisa ditiru oleh setiap keluarga:
• Pemenuhan Gizi Mandiri: Integrasi antara padi, sayur, dan ikan langsung memenuhi tiga unsur gizi utama (karbohidrat, vitamin, protein) tanpa harus keluar rumah.
• Jaring Pengaman Wilayah: Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan seperti Tanjungpinang, pasokan pangan darat mandiri adalah penyelamat saat cuaca buruk menghentikan distribusi logistik laut.
• Efisiensi Ekonomi: Mengurangi pengeluaran harian belanja dapur dan mengalokasikannya untuk kebutuhan masa depan lainnya. Apa yang dilakukan Ady adalah bukti bahwa kita tidak perlu lahan berhektar-hektar untuk mulai berdaya. Kita hanya perlu memanfaatkan apa yang ada di depan mata. Jika satu keluarga mampu mandiri, dan langkah ini diikuti oleh tetangga kiri dan kanan, maka ketahanan pangan nasional akan terbentuk dengan sendirinya dari akar rumput.
Mari tatap pekarangan rumah kita hari ini, dan tanyakan pada diri sendiri: Sudahkah lahan ini memberi makan keluarga kita? Langkah kecil kita hari ini adalah jaminan bagi isi piring anak-cucu kita esok hari.


