MAGELANG – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara berkumpul di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti Indonesia Tipiṭaka Chanting (ITC) 2570 TB/2026 yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) bersama Keluarga Buddhis Theravāda Indonesia (KBTI) tersebut diikuti sebanyak 2.045 peserta. Sementara itu, puncak perayaan Āsāḷha Mahāpūjā dihadiri sekitar 12.000 umat Buddha.
Penyelenggaraan ITC tahun ini menjadi kebanggaan bagi Provinsi Kepulauan Riau. Pasalnya, Ibu Tintin Indasiri dipercaya sebagai Ketua Pelaksana kegiatan berskala nasional tersebut.
Selain itu, Bhikkhu Guttadhammo Mahāthera dari Saṅgha Theravāda Indonesia yang juga merupakan pembina umat Buddha di Kepulauan Riau kembali dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Panitia, posisi yang diembannya sejak 2017.
Baca Juga
Didukung ratusan panitia dari berbagai daerah, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, khidmat, dan lancar.
Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta melantunkan Kitab Suci Tipiṭaka dalam bahasa Pāli di kawasan Taman Lumbini, Candi Borobudur. Lantunan paritta yang menggema menciptakan suasana penuh kedamaian sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan ajaran Buddha serta memperdalam pemahaman Dhamma.
Pada 25 Juli 2026, ribuan peserta mengikuti prosesi Pradaksina di Candi Borobudur. Prosesi ini dilakukan dengan berjalan mengelilingi candi searah jarum jam sambil melantunkan paritta sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.
Selain menjadi tradisi keagamaan, Pradaksina juga mengajak umat untuk merefleksikan perjalanan spiritual menuju kebijaksanaan, kedamaian, dan cinta kasih.
Memasuki hari terakhir, 26 Juli 2026, rangkaian kegiatan diawali dengan Puja Yatra atau Perjalanan Bakti dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur yang diikuti ribuan umat Buddha.
Prosesi kirab dipimpin oleh empat Kereta Kencana Suci, yakni Mahādhātu, Tipiṭaka, Dhammacakka, dan Stambha Vijaya. Keempat kereta tersebut melambangkan penghormatan terhadap relik suci Buddha, keluhuran Kitab Suci Tipiṭaka, berputarnya Roda Dhamma, serta kejayaan Dhamma.
Setelah Puja Yatra, umat Buddha mengikuti puncak perayaan Āsāḷha Mahāpūjā di pelataran Candi Borobudur yang dihadiri sekitar 12.000 umat.
Perayaan kemudian dilanjutkan dengan Dhammadesanā yang disampaikan oleh Yang Mulia Bhante Paññāvaro Mahāthera. Dalam ceramahnya, Bhante mengajak umat mengenang pembabaran Dhamma pertama oleh Sang Buddha sekaligus menerapkan nilai kebijaksanaan, cinta kasih, dan welas asih dalam kehidupan sehari-hari.
Indonesia Tipiṭaka Chanting dan Āsāḷha Mahāpūjā telah menjadi agenda spiritual tahunan berskala nasional. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat keyakinan umat Buddha, tetapi juga mempererat persatuan, menjaga kerukunan, serta melestarikan nilai budaya dan warisan spiritual di Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan dunia.