UKM Persma STAIN SAR Kepri Gelar Workshop Karya Tulis Ilmiah, Ajak Mahasiswa Tangkal Hoaks di Era Digital

BINTAN – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa (Persma) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menyelenggarakan Workshop Karya Tulis Ilmiah bertema “Peran Pers Mahasiswa dalam Menangkal Penyebaran Hoaks di Era Digital”.

Kegiatan berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di Ruang Internasional 2, kampus STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

ADVERTISEMENT

Workshop ini diikuti sekitar 20 hingga 30 peserta yang berasal dari berbagai program studi dan UKM di lingkungan kampus. Peserta mulai melakukan registrasi pukul 08.00 WIB sebelum memasuki ruangan, dan acara resmi dibuka tepat pukul 08.30 WIB.

Pembukaan diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Nurunnisa Safaraini dengan penuh khidmat. Rangkaian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars STAIN SAR Kepri, dan Mars Mahasiswa sebagai wujud rasa nasionalisme, yang dipandu oleh Rosa Nasyifa.

Ketua pelaksana, Yuli Rahmadani, menyampaikan sambutan tentang jalannya acara. Sambutan berikutnya disampaikan Ketua Umum UKM Persma Nabil Adly Syaputra, Zahra Salsabila Putri yang mewakili Ketua Senat Mahasiswa (Sema) M. Naim Furqon yang berhalangan hadir, serta Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Maysita Anggraini. Rangkaian pembukaan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Andi Malarangeng.

Setelah rangkaian pembukaan, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber, Dr. Aidillah Suju, M.Pd.I, yang membawakan materi berjudul “Menangkal Penyebaran Hoaks di Era Digital”. Beliau menyampaikan teori terlebih dahulu, kemudian mengajak peserta mempraktikkan langsung pembuatan karya tulis ilmiah.

Dr. Aidillah menjelaskan bahwa hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang dikemas seolah-olah benar dan mudah menyebar lewat media sosial maupun aplikasi pesan.

WhatsApp Image 2026 10 11 at 09.08.51

Menurut beliau, penyebarannya sering didorong oleh judul provokatif, rendahnya literasi digital, dan kebiasaan membagikan informasi tanpa membaca isinya terlebih dahulu. Dampaknya bisa serius, mulai dari rusaknya nama baik seseorang, konflik di tengah masyarakat, hingga menurunnya kepercayaan terhadap sumber informasi yang kredibel.

ADVERTISEMENT

Untuk mengenali hoaks, peserta diajak memeriksa beberapa hal, yakni kejelasan sumber berita, nada judul yang provokatif atau tidak, keberadaan data dan tanggal yang valid, serta apakah informasi yang sama dimuat oleh media tepercaya. Peserta juga diperkenalkan dengan cara verifikasi fakta, seperti pencarian gambar terbalik (reverse image search) dan situs pengecekan fakta, misalnya cekfakta.com dan turnbackhoax.id.

Dalam konteks karya tulis ilmiah, hoaks menjadi ancaman karena data atau referensi yang tidak valid dapat merusak kualitas dan kredibilitas penelitian. Karena itu, narasumber menekankan pentingnya mengutip sumber primer yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti jurnal ilmiah, buku, dan data resmi lembaga, serta menghindari plagiasi dan sumber anonim.

Narasumber juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agen literasi. Sikap yang perlu dibangun adalah tidak langsung percaya dan tidak asal membagikan informasi (“saring sebelum sharing”), serta aktif meluruskan informasi keliru di lingkungan sekitar dan media sosial secara santun dan berbasis data.

ADVERTISEMENT

Setelah pemaparan materi, peserta diajak berdiskusi dan bertanya jawab seputar pembuatan karya tulis ilmiah dengan tema “Menangkal Penyebaran Hoaks di Era Digital”.

Salah satu peserta menilai workshop ini sangat bermanfaat dan relevan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, materi yang disampaikan membuka wawasan tentang cara memilah informasi di tengah derasnya arus media sosial. Penjelasan mengenai cara memverifikasi sumber dan data dinilai sangat membantu, terutama dalam penulisan karya ilmiah.

Secara keseluruhan, kegiatan ini memberi bekal penting bagi peserta untuk menjadi pribadi yang kritis dan bijak bermedia, sehingga ilmu yang didapat tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menyusun karya tulis ilmiah yang berkualitas.

ADVERTISEMENT

Ketua Umum UKM Persma, Nabil Adly Syaputra, berharap setelah mengikuti workshop ini seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang didapat untuk menangkal penyebaran hoaks, baik dalam penulisan karya ilmiah maupun dalam bermedia sosial.

Ia juga berharap peserta tidak hanya menjadi penerima informasi yang cerdas, tetapi juga ikut menjadi penyebar informasi yang benar dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article