Batam – Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang juga menjabat Ketua DPD Partai Gerindra Kepri, H. Iman Sutiawan, menambahkan satu penghargaan bermakna dalam perjalanan karir politiknya.
Ia dinobatkan sebagai Tokoh Inspiratif Kawasan Hinterland Kepulauan Riau dalam gelaran Tribun Batam Awards 2025, Senin, 27 Oktober 2025, di Gedung Tribun Batam, Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Penghargaan ini bukan sekadar piala atau piagam. Bagi Iman, ini adalah cerita panjang tentang perjuangan, ketulusan, dan ikatan batinnya dengan masyarakat di pulau-pulau terpencil.
Penghargaan yang Dirajut dari Hati dan Perjuangan
Dalam sambutannya yang penuh khidmat, Iman menyatakan rasa syukurnya. Ia menegaskan dengan tegas bahwa penghargaan ini bukan miliknya pribadi.
“Dari hinterland, kita belajar arti ketulusan, gotong royong, dan keteguhan hati dalam membangun dari tepian,” ujarnya, menyiratkan filosofi mendalam di balik setiap langkah pembangunannya.
Penghargaan ini, baginya, adalah milik seluruh masyarakat kepulauan di Kepri yang tak kenal lelah menjaga persatuan dan memajukan daerah.
“Saya ucapkan beribu terima kasih, saya tidak menyangka juga dapat penghargaan tokoh inspiratif hinterland di Kepri. Kebetulan saya juga anak yang lahir di hinterland,” tutur Iman dengan nada tenang penuh wibawa.
Pengakuan ini mengungkap jati dirinya yang paling dasar: seorang putra daerah yang memahami betul denyut nadi kehidupan di wilayah kepulauan.
Dedikasi 15 Tahun yang Diukir dengan Ikhlas
Perjalanan hampir 15 tahun berkarir di dunia politik dijalaninya bukan demi pencitraan, melainkan sebagai panggilan hati.
“Saya lakukan semua ini dengan hati. Ini sudah menjadi hobi dan kegemaran. Saya merasa punya tanggung jawab karena saya tahu betul bagaimana perjuangan orang hinterland,” katanya.
Pengetahuan “betul” itu lahir dari pengalaman langsung. Ia memahami betul tantangan terberat masyarakat hinterland, terutama soal akses ekonomi dan transportasi laut yang sering menjadi penghambat mobilitas dan pertumbuhan.
Bukti Nyata, Bukan Sekadar Janji
Komitmen Iman tidak berhenti pada retorika. Dedikasinya diwujudkan dalam serangkaian program bantuan yang tepat sasaran. Untuk mendukung para nelayan—ujung tombak ekonomi hinterland—ia telah menyalurkan bantuan konkret.
“Alhamdulillah, kami telah menyerahkan 15 boat pancung, mesin 15 PK, 31 sampan ketinting, serta alat tangkap seperti jaring, kawat bubu, dan binto,” sebutnya. Bantuan sampan ketinting sendiri disalurkan ke berbagai kelurahan di Batam seperti Pulau Bulang, Galang, Pemping, Belakang Padang, dan Sarang.
Tak hanya fokus pada sektor kelautan, politisi Gerindra ini juga memperhatikan kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat. Tiga unit ambulans disalurkannya untuk yayasan dan masjid. Lebih dari itu, program bantuan sosial berupa 17 ribu paket sembako sedang gencar didistribusikan ke tujuh kabupaten/kota di Kepri.
“Untuk program 17 ribu itu, kami sudah menyalurkan di Penyengat, Belakangpadang, Bulang, Galang, dan insyaallah segera ke Bintan, Lingga, Natuna, dan Anambas. Saat ini yang tersalurkan sudah ada 11 ribu,” jelasnya.
Sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk membangun karakter dan pendidikan, Iman juga tengah membangun pesantren untuk masyarakat hinterland di Pulau Kasu, menyusul pesantren yang lebih dulu ia dirikan di Batam.
Komitmen Kolektif DPRD Kepri
Selain penghargaan individu untuk Iman, DPRD Kepri juga menerima penghargaan terpisah yang menjadi pengakuan atas komitmen lembaga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat. Iman menjelaskan bahwa proses akomodasi aspirasi harus melalui jalur yang resmi dan tertib.
“Kami di DPRD tentu punya aturan dan ketentuan yang mengikat. Setiap turun ke masyarakat kami lakukan reses, dan semua aspirasi itu kami tampung melalui mekanisme yang resmi seperti musrenbang,” katanya.
Ia menambahkan, kemampuan anggaran daerah (APBD) menjadi pertimbangan utama dalam memprioritaskan kebutuhan.
“Pemerataan bukan berarti semua langsung dapat, tapi insyaallah semua bisa merasakan,” ungkapnya. Ia menegaskan komitmen DPRD Kepri untuk terus menjadi wadah yang akseleratif dan solutif bagi rakyat.
Penghargaan sebagai Beban Moral dan Penyemangat Baru
Di akhir wawancara, pria 49 tahun ini mengaku bahwa kedua penghargaan ini baginya adalah sebuah “beban moral”. Namun, beban ini ia terima dengan lapang dada sebagai penyemangat baru.
“Terkesan dan juga terbeban. Dua penghargaan ini membuat saya harus lebih banyak lagi berbuat untuk masyarakat. Jangan sampai penghargaan ini hanya simbol, tapi tidak sesuai dengan perilaku saya,” tuturnya dengan penuh ketegasan.
Penghargaan untuk H. Iman Sutiawan ini adalah pengakuan atas sebuah perjalanan yang tidak melupakan asal. Sebuah pengingat bahwa pembangunan yang sejati dimulai dari tepian, dari hinterland yang kerap terabaikan, dengan ketulusan sebagai fondasinya.