Jejak Digital Janji yang Retak, Rakyat yang Tersandar: Catatan Pilu Tahun Pertama “Lingga Bersinar” (Riset)

LINGGA – Tagline “Bersinar” yang digaungkan Bupati Nizar dan Wakil Bupati Novrizal (Nizar-Novrizal) dalam Pilkada 2024, sebagai janji akan “Lingga Berdaya Saing dan Sejahtera”, memasuki tahun pertama pemerintahan 2025 dihadapkan pada ujian realitas yang keras.

Jejak digital sepanjang 2025 yang dihimpun kepripedia dari riset berbasis AI dan rangkuman Trends Google menunjukkan kesenjangan yang lebar antara narasi kampanye dan kondisi riil di lapangan, di tengah krisis layanan dasar, kasus korupsi, dan ketidakpastian ekonomi.

ADVERTISEMENT

Dari janji peningkatan kualitas hidup, masyarakat justru menghadapi Krisis Layanan Dasar yang parah. Di pertengahan tahun, Waduk Gemuruh di Dabo Singkep nyering, memicu krisis air bersih yang memaksa PDAM mendistribusikan air via mobil tangki.

Sementara itu, pemadaman listrik bergilir masif terjadi dari Mei hingga November, mengganggu aktivitas warga hingga layanan publik vital seperti pengamatan cuaca BMKG, dan usaha-usaha UMKM yang pajaknya diperas Dispenda tapi layanan dasarnya tidak diurus.

Di sisi penegakan hukum, tindak pidana korupsi justru merambah institusi strategis. Kejaksaan Negeri Lingga menetapkan Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTR sebagai tersangka dugaan korupsi proyek Jembatan Marok Kecil, dimana saat itu Kepala Dinas PUTR nya dijabat oleh Novrizal yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Lingga.

Pengadilan juga telah menjatuhkan vonis terhadap mantan pengurus KONI Lingga terkait penyalahgunaan dana hibah, mencoret janji tata kelola pemerintahan yang bersih dimana anggaran ini berada di pos Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

Ekonomi dan kesejahteraan, yang menjadi pilar utama kampanye, juga dilanda polemik. Ratusan pelamar kerja program PT Tianshan Alumina Indonesia terkatung-katung tanpa kepastian, memicu aksi protes. Bahkan hingga kini investasi yang katanya triliunan itu, malah mencari kambing di pemerintah pusat.

Sementara, insiden transportasi laut dan tingginya angka kemiskinan yang tercatat dalam dokumen RPJMD menggarisbawahi tantangan konektivitas dan kesejahteraan yang belum teratasi.

“Bersinar” dalam Uji Fakta: Janji Pilkada 2024 vs Realitas

ADVERTISEMENT

Analisis terhadap pelaksanaan janji-janji spesifik pasangan ini menunjukkan performa yang jauh dari harapan (Ini merupakan Janji Kampanye yang tedaftar di KPU Kabupaten Lingga):

1. Infrastruktur & Anggaran: Janji pembangunan infrastruktur “keroyokan” dengan mengandalkan dana pusat terbentur fakta. Tahun 2025 justru diwarnai penurunan signifikan aliran dana APBN, dengan banyak proyek mangkrak, seperti IKM Sagu. Pada 2026, transfer dana pusat dipangkas drastis hingga Rp 192 miliar, memaksa pemkab berutang ke bank daerah. Strategi anggaran yang dijanjikan tampak rapuh.

2. Pemberdayaan Ekonomi & Desa: Janji penguatan ekonomi desa dan pemberian insentif bagi nelayan dan petani, kontras dengan kebijakan di akhir 2025: Anggaran Dana Desa dipangkas dua bulan, mengakibatkan operasional desa terhenti, perangkat desa tak digaji, dan kepala desa terjepit. Janji pemerataan pembangunan fisik juga dinilai nyaris tak berjalan pada 2025-2026.

ADVERTISEMENT

3. Rehab Rumah & Kemiskinan: Komitmen peningkatan bantuan RTLH (Rehab Rumah Tidak Layak Huni) secara tepat sasaran tercoreng oleh masih maraknya rumah tidak layak huni dan merajalelanya kemiskinan.

Bidang perumahan rakyat sendiri menjadi sorotan dengan sederet dugaan korupsi di Dinas Perkim, termasuk kasus “korupsi bonsai” yang ramai dibicarakan publik.

4. Beasiswa & SDM: Program beasiswa pendidikan yang dijanjikan untuk mencetak SDM unggul memang berjalan, namun nilainya dinilai sangat minim (sekitar Rp2-3 juta per orang) dan hanya menyentuh segelintir mahasiswa dari ribuan yang membutuhkan, sehingga dampaknya terbatas.

ADVERTISEMENT

5. Pariwisata & Budaya: Fokus pada sektor kelautan dan pariwisata sebagai ekonomi unggulan tak terwujud, justru pembukaan lahan kelapa sawit yang merusak alam lebih menonjol. Janji pelestarian budaya Melayu juga meredup dengan minimnya event budaya dan pelanggaran norma oleh sejumlah pejabat.

Tahun Pertama akankah Berlanjut Ditahun Kedua

Catatan akhir tahun 2025 untuk Kabupaten Lingga di bawah kepemimpinan Nizar-Novrizal adalah potret tahun pertama yang diwarnai krisis, keterbatasan fiskal, dan janji-janji yang belum juga menjelma.

Tagline “Bersinar” yang dahulu menggema dalam kampanye, dalam realitas pemerintahan, justru berhadapan dengan bayangan pemadaman listrik, kekeringan, dan kesenjangan antara harapan dengan realisasi.

Publik kini menunggu langkah korektif dan akselerasi program di sisa masa jabatan, sembari mempertanyakan apakah cahaya “Bersinar” itu akan benar-benar terpancar atau semakin meredup di tahun-tahun mendatang.


Penulis: | Editor: Redaksi


Share This Article
advertisement