Menu

Mode Gelap

Warta · 1 Des 2023 08:53 WIB

Pemda Diminta Manfaatkan Nyamuk Wolbachia untuk Berantas Demam Berdarah


					Ilustrasi nyamuk Wolbachia. Foto: Pexels
Perbesar

Ilustrasi nyamuk Wolbachia. Foto: Pexels

Pemerintah pusat mendorong Pemerintah Daerah untuk memanfaatkan nyamuk wolbachia dalam upaya memberantas nyamuk Aedes aygepti penyebab kasus demam berdarah dangue (DBD).

Hal itu turut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, perlu dilakukan penyebaran informasi terlebih dahulu sehingga masyarakat dapat percaya dengan hasil kajian ilmiah yang telah dilakukan. Hal itu disampaikan Muhadjir karena banyak masyarakat yang masih anti terhadap upaya ini.

“Kemudian melakukan filtering terhadap isu-isu yang kontraproduktif terhadap upaya kita untuk menangani masalah penyakit ini yang cukup memakan korban di Indonesia,” kata Menko Muhadjir.

Ia meminta pemerintah provinsi untuk dapat membantu mensosialisasikan informasi mengenai manfaat baik bakteri Wolbachia kepada masyarakatnya.

Bakteri Wolbachia diketahui merupakan bakteri alami yang banyak ditemui pada berbagai jenis serangga.

Melalui riset ilmiah yang dilakukan oleh para peneliti World Mosquito Program (WMP), bakteri Wolbachia yang disuntikkan ke nyamuk Aedes aygepti mampu mencegah replikasi virus dengue yang menjadi sumber penyakit DBD.

Menko Muhadjir juga mengapresiasi kepada seluruh jajaran tim peneliti pemanfaatan nyamuk yang memiliki bakteri Wolbachia yang telah berupaya keras selama 12 tahun dalam melakukan uji coba saintifik hingga empat fase yang mengambil lokus di Yogyakarta.

Guru Besar sekaligus Peneliti Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada Adi Utarini mengatakan upaya penelitian yang telah dilakukan selama 12 tahun di wilayah Yogyakarta telah terbukti aman bagi manusia dan mampu mengurangi replikasi virus dangue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

ADVERTISEMENT

“Riset 12 tahun teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di Yogyakarta menghasilkan penurunan 77 persen kejadian dengue dan 86 persen rawat inap di rumah sakit akibat dangue,” kata Utarini.

Guru Besar IPB University Damayanti Buchori selaku ketua tim independen yang dibentuk Kemendikbudristek mengatakan hasil kajian analisis risiko terhadap pelepasan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung Wolbachia disimpulkan bahwa kemungkinan atau konsekuensi munculnya dampak buruk terhadap ekologi, standar kesehatan, efektifitas kontrol populasi nyamuk, serta sosial ekonomi masyarakat dapat diabaikan.

Namun demikian, menurut Damayanti monitoring dan evaluasi tetap akan dilakukan untuk menghindari risiko yang akan muncul.

ADVERTISEMENT

“Pengawasan ini penting sehingga dapat mendeteksi dan tanggap terhadap risiko apapun yang muncul atau jika ada di kemudian hari. Memastikan regulasi lokal juga perlu dilakukan karena berkaitan dengan keamanan hayati di masing-masing wilayah,” kata Damayanti.

Gabung dan ikuti kami di :

Berita ini dikutip dari Infopublik

Penulis: | Editor: Khairul S



whatsapp facebook copas link

Baca Lainnya

APBD Kepri Terancam Defisit hingga Rp 600 Miliar

22 Juli 2024 - 17:36 WIB

IMG 20240722 WA0017 11zon

Puncak Peringatan HBA, Kajari Karimun Tekankan Amanat Kejagung

22 Juli 2024 - 11:28 WIB

IMG 20240722 WA0004 11zon

Catat! KSOP Kelas I TBK Bakal Kembali Gelar Diklat Gratis BST Khusus Kapal Niaga

22 Juli 2024 - 10:44 WIB

IMG 20240722 WA0003 11zon

Cegah Perpecahan Jelang Pilkada 2024, Bupati Rafiq Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Medsos

19 Juli 2024 - 12:14 WIB

IMG 20240719 WA0001 11zon

Imigrasi Kelas II TPI Tanjungbalai Karimun Gelar Sosialisasi TOC, Ini Tujuannya

18 Juli 2024 - 13:20 WIB

IMG 20240718 WA0014 11zon

Kasi Pidsus Kejari Karimun dan Kacabjari Tanjungbatu Resmi Berganti

15 Juli 2024 - 12:31 WIB

IMG 20240715 WA0032 11zon
Trending di Warta